Selasa, 17 November 2015

HUJAN


Lagi-lagi hujan turun. Entah mengapa belakangan ini hujan sering sekali turun. Dan aku selalu menyukai runtuhan air yang jatuh dari langit itu. Setiap hujan turun selalu mampu membuatku kembali teringat akan sore itu. Saat keindahan senja dibaluri dengan air menari dengan indahnya. Saat senja mulai menampakkan kemegahannya dengan bulir gemericik dari langit. Saat sore dan hujan meyatu dengan senja yang menawan.

Sore itu kita memiliki janji dengan teman-teman satu kelas untuk menghabiskan malam pertama di tahun baru bersama. Tapi sayangnya, sore itu hujan turun, turun dengan derasnya.

“Kamu dimana? Hujan nih,” katamu dalam pesan singkat
“Aku dirumah sepupuku. Tunggu hujannya berhenti aja baru kamu jemput aku,” balasku
“Oke. Ini aku udah di pom bensin lagi neduh dulu,” balas kamu lagi
“Yaudah tunggu sebentar lagi aja ya,” jawabku

Hujan masih saja mengguyur bumi dengan derasnya. Semakin deras hingga aku mulai khawatir dengan semua rancana yang sudah tersusun rapih. Aku takut hujan tak kunjung berhenti dan menggagalkan semua rencana serta acara kita. Aku takut semua khayalan kesenangan kita yang sudah tersusun rapih akan jatuh berantakan. Sungguh, halangan yang tak aku suka. Karena hujan semua acara diundur dan karena hujan jam pertemuanku denganmu pun diundur.

Tapi, tidak lama kemudian hujan mulai reda menjadi tetesan air yang masih menari dengan indah dan sangat lembut. Hujan lebat kini berubah wujud hanya tinggal gerimis gemericik lembut.

“Hujannya udah berhenti nih. Aku jemput sekarang ya?,” tanyamu dalam pesan singkat  beberapa saat kemudian
“Tunggu sebentar lagi deh, ini masih gerimis. Nanti aku enggak diizinin pergi sama Papa kalau masih hujan begini,”
“Tapi kita harus kerumah Desva dulu. Makanya berangkat sekarang biar enggak terlalu sore,” balas Wira. Kami  memang akan pergi kerumah Desva untuk minta izin pada orangtuanya. Teman satu kelas kami.
“Tapi enggak bisa kalau sekarang. Ini masih hujan, Wira” balasku sedikit sewot
“Hmm.. Desva udah nungguin kita dari tadi, Joy”
“Yaudah kamu berangkat duluan aja sana. Aku enggak usah ikut juga engga apa-apa kok,” aku balas pesan Wira makin sewot
“Loh kok kamu jadi begitu sih? Iya maaf. Yasudah kita tunggu hujannya sampai berhenti,” Wira menenangkan. Wira memang selalu saja mengalah saat aku mulai bad mood atau mulai terlihat ngambek.
“Lagian kalau berangkat sekarang aku takut diomelin sama Papa. Aku takut malah jadi enggak diizinin untuk pergi kalau masih hujan seperti ini. Tunggu sebentar lagi ya, biar aku coba bilang sama Papa,” jelasku pada Wira.

Karena saat itu aku dan Papa sedang berkunjung  kerumah Sepupuku. Papa tidak tahu kalau aku akan dijemput oleh Wira, teman sekelasku yang kini sedang dekat denganku.  Maka dari itu, aku tak ingin pergi meskipun hujan sudah berhenti dan menjadi gerimis. Aku ingin pergi sampai hujan benar-benar berhenti dan aku akan menunggu Wira menjemputku di gerbang komplek perumahan Sepupuku. Kalau hujan masih turun aku takut Papa tidak akan memberikanku izin. Aku takut Papa menanyakan aku berangkat dengan siapa atau aku akan pulang jam berapa atau aku akan mengadakan acara apa dan masih banyak lagi tentang ini itu. Karena Papa memang sedikit over protective padaku, apalagi kalau dia tahu mengenai laki-laki yang sedang dekat denganku. Bisa kewalahan aku menjelaskannya. Karena Papa masih menganggapku sebgai gadis kecilnya.

“Loh kenapa? Kamu belum izin emangnya?,” tanya Wira
“Sudah kok. Tapi hanya sama Mama, kalau sama Papa aku bilang ingin main sebentar saja,” balasku
“Sini biar aku yang izin sama Papa kamu yaa,” balas Wira lagi
“Enggak usah. Biar nanti kita ketemu digerbang perumahan aja. Aku tunggu kamu disana. Ini aku berangkat kesana sekarang,” balasku
“Kamu yakin aku enggak perlu izin ke Papa?,” lagi-lagi Wira menawarkan
“Udah enggak perlu. Sekarang kamu cepat jemput aku. Aku mau jalan nih,” balasku

Lalu aku pergi minta izin pada Papa. Ku bilang temanku sudah menungguku digerbang perumahan. Karena dia tidak tahu rumah Sepupuku jadinya aku suruh dia untuk menjemputku di gerbang saja. Alasan yang sangat klise.

Setelah berusaha minta izin dengan alasan yang sebenarnya sungguh tidak pantas dijadikan alasan. Aku pergi ke gerbang komplek perumahan. Sebenarnya, rumah sepupuku tidak jauh dari gerbang. Aku teriak dan melambaikan tangan saja pasti Wira akan melihatku dari gerbang perumahan. Tapi demi tidak ketahuan Papa aku pun melakukan hal itu, menunggu Wira di gerbang komplek perumahan.

Dengan diantar Sepupuku ke gerbang perumahan lagi-lagi dengan alasan untuk memayungiku, aku pun pergi ke gerbang dan menemui Wira. Sepupuku sudah kenal dengan Wira walau hanya dari ceritaku dan dari foto saja. Tapi dengan begitu aku tidak takut lagi kalau dia keceplosan bercerita pada Papa.

Tak lama kemudian Wira datang. Sore itu Wira mengenakan jaketnya yang berwarna biru, celana putih panjang dengan tas kecil yang diselempangkan dibahunya serta sendal gunungnya yang berwarna hitam. Aku selalu suka melihat style sederhananya. Kesederhanaannya itulah yang membuatku jatuh cinta padanya.

“Hay, maaf lama ya? Yuk langsung berangkat,” sapa Wira saat dia tiba di gerbang.
“Enggak kok. Aku juga baru aja nyampe disini,” jawabku lalu naik ke motor Wira kami pun langsung berangkat meninggalkan tempat itu serta sepupuku yang berjalan pulang kerumah.
“Di pake helmnya yaa,” suruh Wira. Wira tahu kalau aku tidak suka menggunakan helm. Ribet.
Aku hanya tersenyum dan mengenakan helm Sepupuku yang ku pinjam.
“Kamu kok pake sweater yang itu sih? Kenapa enggak pake yang lain aja?,” kata Wira kembali sambil mengendarai motornya
“Iya nih, tadi kan aku kira enggak akan hujan, makanya aku pakai yang ini aja” jawabku.

Saat itu aku mengenakan sweater rajutanku berwarna biru muda serta baju berbahan chifon yang tipis. Dan mengenakan jeans panjang serta sepatu flat berwarna coklat.

“Berhenti dulu ya, kamu pakai jaket aku”
“Ah, engga usah Wir, aku gak apa-apa kok”
“Yasudah kalau begitu berarti kamu pakai jas hujan aku aja ya”
“Udah aku engga apa-apa kok. Lagian juga kan Cuma gerimis dan aku udah pakai helm, kan”
“Tapi tetep aja hujan kan, Joy” suara Wira mulai meninggi
“Engga ah, aku gak mau. Aku mau menikmati hujan” gerutuku
“Yaudah deh, terserah kamu” Wira terlihat mulai sedikit marah karena aku tak mau mengenakan jas hujannya. Kami saling terdiam.

Sekitar beberapa lama setelah itu Wira kembali membuka keheningan ditengah perjalan.

“Eh, aku punya temen rumahnya daerah sini, loh” ucap Wira
“Oh ya? Temen apa? Sekolah atau kerja” tanyaku
“Temen kerja aku tapi di tempat kerja lamaku dulu. Aku pernah antar dia pulang. Seinget aku sih daerah sini” jelas Wira
“Kok dianter pulang sama kamu? Kenapa?” tanyaku kembali
“Iya ceritanya waktu itu kita habis main dari Lippo gitu”
“Dia cewek?” tanyaku
“Iya, dia cewek” jawab Wira santai
“Pacar kamu atau mantan pacar kamu?” tanyaku menyelidik
“Dibilang pacar bukan, dibilang mantan juga bukan” Wira tetap santai menjawab
“Loh kok begitu? Lalu dia siapa?” aku makin menyelidik
“Kan tadi udah aku bilang kalau dia teman kerja aku”
“Yakin cuma teman kerja?” tanyaku penasaran
“Ya engga juga. Dia sempet suka sama aku. Eh, tapi aku engga lho” Wira menjelaskan
“Noh kan, bukan Cuma teman biasa”
“Haaha. Kan tapi akunya engga suka sama dia. Lagian enggak enak pacaran satu kerjaan”
“Sekarang kan udah enggak satu kerjaan lagi. Kenapa enggak pacaran aja?”
“Kamu yakin ngomong begitu?” tanya Wira
“Lho, kenapa engga yakin?” aku balik bertanya
“Kamu mau aku pacaran sama dia?” tanya Wira lagi
“Iya. Emang kenapa? Kalau kalian sama-sama saling suka dan saling sayang, why not?”
“Tapi kan tadi aku udah bilang kalau aku enggak suka sama dia. Terus kenapa kamu suruh aku buat pacaran sama dia?” Wira mulai menyelidik
“Ya siapa tahu aja sekarang udah suka” aku mencoba menjawab dengan santai
“Oke kalau begitu. Nanti aku coba hubungin dia”
“Kamu yakin?” aku balik bertanya kaget
“Maksudnya?” Wira bertanya bingung
“Iya, kamu yakin mau hubungin dia dan mau pacaran sama dia?” nadaku mulai melemah
“Hahaha” Wira tertawa  “kan tadi kamu yang suruh aku pacaran sama dia?”
“Iya sih, tapi kaan..” aku terhenti
“Kenapa?” tanya Wira
“Engga apa-apa kok. Silahkan aja. Hehe” jawabku dengan tawa yang dibuat-buat
“Haha. Tenang aja, Joy. Aku kan sekarang sama kamu. Aku engga bakalanlah sama dia. Kan sekarang ada kamu” jelas Wira
“Kamu yakin?” tanyaku meledek
“Yakin dong. Kamu yakin engga?” Wira balik bertanya
“Hmm...,  gimana ya?”
“Oh yaudah kalau engga yakin juga engga apa-apa kok”
“Haha. Aku yakin kok kalau kamu yakin sama aku” jawabku malu-malu
“Aku punya kamu dan sekarang aku sama kamu. Jadi, ngapain mikirin oranglain. Hehe” kata Wira

Aku hanya bisa tertawa malu mendengar ucapan Wira. Semoga semua berjalan baik-baik saja dan tidak akan pernah ada yang merasa tersakiti. Meski kami sama-sama tahu kalau nanti pasti akan ada yang tersakiti. Entah aku atau Wira yang lebih dahulu.

Sejak saat itu aku menyukai hujan. Aku mengibaratkan dirinya sebagai hujan. Menyejukkan, menenangkan, lembut dan indah. Tenang, aku sudah hilangkan kamu kok. Hanya saja aku tak kan pernah berhenti menjadi penikmat hujan. Hujan selalu sederhana, hanya saja kenangannya luar biasa dan aku menyukai hujan dalam versi apapun.

Terimakasih untuk kamu, sudah berikan pengertian berbeda tentang hujan.