Di tengah malam yang sepi ini
dengan buku yang berserakan, tulisan yang belum terselesaikan dan puisi-puisi
karanganku yang entah aku pun belum mengerti arti dan maknanya, tapi diluar itu
aku masih sempat memikirkanmu. Mataku yang lelah, suara detak jarum jam dan
jentikan jemari di laptop-ku ternyata tak memberi pertolongan nyata apapun saat
ini.
Hari ini aku melihatmu di kelas
seperti biasanya, dan sampai sekarang aku masih belum berani menyapamu dengan
biasa. Aku masih belum berani melihat mata itu. Gaya dan tingkah konyolmu kini
membawa kesan lain dalam hari-hariku. Aku merindukan itu, aku merindukan saat
kita berbicara malu-malu dan bukan berjauhan seperti ini. Hal-hal di masa lalu
yang hanya bisa ku kenang. Seandainya aku bisa memutar waktu itu kembali, aku
ingin mengembalikan kamu yang dulu. Tapi nyatanya hanya khayal yang kian
menjauh.
Apa kamu ingin tahu kabarku?
Kabar hati dan perasaanku?? Sampai saat ini aku masih sering merindukanmu, dan
rasa itu hanya terobati dengan melihat isi percakapan kita dalam chat whatsap
yang sering kita lakukan hingga larut malam dulu. Rasa rindu yang hanya
terobati saat melihat percakapan kita empat bulan lalu, saat kau pertama kali dengan
iseng menanyakan sesuatu padaku malam itu. Dan suara lembutmu di ujung telepon
sana masih terngiang jelas ditelingaku, bahkan meski saat ini kita sudah tak
pernah lagi menghabiskan tawa renyah bersama dalam telepon. Beberapa sahabat
dan temanku bertanya mengapa sosok pria mungil, berambut cepak dan berjenggot
itu selalu menjadi topik utama dalam beberapa tulisanku? Tapi aku hanya
menjawab dengan senyum miris yang itu pun kubuat agar terlihat natural, dengan
mata berair, dengan kata-kata seadanya rasanya ingin ku muntahkan semua bahwa
sosok itu adalah kamu. Kamu, yang telah mengendap-endap dan menjelma secara
magis dalam setiap tulisanku. Kamu, yang entah dengan kekuatan apa mampu
membuatku terluka separah ini.
Rasanya aku ingin berteriak
sekencang mungkin agar rasa yang tertahankan ini bisa terluapkan dengan
bebasnya. Dan harus kau tahu, bahwa sampai sekarang aku tak bisa lupa mata itu.
Mata yang pertama kali bersinar sambil menjabat tanganku. Mata yang menarikku
ke dalam lembah sedalam ini, mata yang cahanyanya seharusnya empat bulan lalu
ku tolak mentah-mentah.
Aku ingin tahu cara menolakmu,
melupakanmu, dan meniadakan bayanganmu. Seandainya aku bisa memutar waktu, aku
ingin kembali ke waktu dulu saat pertama kali aku melihatmu waktu pengambilan
kaos ospek itu. Tak ada yang tahu bahwa pertama kali aku melihatmu saat
pengambilan kaos ospek itu aku sudah mulai merasakan sesuatu. Aku tersihir
lembut oleh senyum simpul manis itu. Bahkan kau pun tak tahu akan kejadian itu,
mungkin. Tadinya ku pikir itu hanyalah ketertarikan biasa karena senyummu saat
itu mampu mengalihkan pandanganku. Tak banyak berharap akan terjadi hal semanis
ini. Ya.. aku menyukaimu saat pertama kali aku melihatmu, bahkan hingga saat
ini. Aku tahu Tuhan pasti punya rencana terbaik dan aku tak menyesali semua.
Aku tak pernah meminta dan memohon untuk bisa satu kelas denganmu apalagi untuk
bisa jadi wanita istimewa dihatimu. Tapi semuanya mengalir sangat indah,
perasaan ini kian datang tanpa ku mau, dan aku tak punya kuasa untuk
menolaknya.
Tak banyak yang tahu bahwa aku
mencintaimu. Tak banyak yang tahu bahwa air mataku masih sering terjatuh untukmu. Semua kusimpan rapat dalam
tawa palsuku, karena aku tak ingin terlihat lemah didepan mereka, karena yang mereka tahu aku hanyalah
persinggahanmu yang menjadi penghiburmu. Padahal, mereka tak tahu betapa kita
pernah berjalan begitu jauh dan pernah memimpikan jika perasaan ini berakhir
dalam sebuah penyatuan. Tak banyak yang tahu, dan saat ini mereka hanya bisa
menertawakan kisah kita, kisah yang tak selesai dan penuh bualan omong kosong.
Jika aku memang tak serius mengapa aku masih ingin memperjuangkanmu sampai saat
ini? jika aku hanya main-main mengapa aku masih menangis ketika bercerita
tentangmu pada sahabat dan temanku? Hatiku meringis dan tak kuasa menjawabnya.
Andai aku bisa memutar waktu,
sebenarnya yang ingin aku ulang adalah masa-masa perkenalan kita, masa-masa
saat kita merasakan kenyamanan yang berbeda, masa-masa saat aku dan kamu
baik-baik saja. Andai aku bisa memutar waktu, aku ingin mengubah sikap-sikap
burukku yang mungkin menyebabkan kamu pergi secepat ini. Andai aku bisa memutar
waktu, aku ingin.... kamu kembali.
Salamku yang masih merindukanmu.