Jumat, 18 Mei 2018

Kembali Hujan


Tentang air, tentang kamu, yang bagiku semua sama. Menyejukkan. Tuan, apakah kau ingat? Kita pernah sama-sama terjebak oleh hujan, kemudian memutuskan sejenak berteduh. Pada suatu tempat yang sama sekali kita tidak tahu siapa pemiliknya. Tapi kita sama –sama tahu, hati kita saling memiliki. Kala itu.

Hujan adalah jalan. Hingga kita bisa lebih mengenal satu sama lain. Perkenalan yang dulunya ku kira atas perantara Tuhan. Lalu kita memutuskan untuk terus menikmati setiap perjalanannya, hingga di titik seperti sekarang. Titik dimana kamu terlalu mudah untuk diingat dan terlampau butuh waktu lama untuk dilupakan. Sampai, aku selalu kehabisan waktu serta cara. Namun sayangnya, kau masih menjadi objek manis dan  nyata dalam setiap ingatan semuku.

Kita pernah menunggu hujan hingga reda bersama. Berkehendak sama agar tidak kuyub di bawah matahari siang. Meski sesekali memilih melawan. Karena dalam benak terbersit, setidaknya saat itu aku tidak sendiri. Kau ada disitu, menemaniku, kita menerjang bersama derasnya air langit. Ada banyak perlindungan, ada banyak perhatian yang sama-sama kita curahkan satu sama lain. Seolah, jika tak memperhatikanmu sebentar saja rasanya aku tak lagi diriku. Kau berhasil menciptakan banyak kebiasaan baru. Dan terimakasih, aku suka.

Seperti hujan terkadang kau mudah datang. Kemudian menghilang begitu saja. Bersembunyi dibalik bebatuan tanah, dan muncul kembali dari endapan awan. Kau pintar mencuri perhatian. Terlebih perhatianku. Kau juga pintar pergi, mengalir begitu saja tanpa ada penjelasan. Seolah melepasku, hatimu tidak berat sama sekali. Padahal kita pernah sama-sama berjanji, mengunci hati untuk saling memiliki. Terimakasih atas setiap kata yang kau sembunyikan agar aku tidak pernah tahu apa alasan dibalik semua itu.

Sekarang tengah hujan. Sebelum sedingin ini, kita pernah saling menghangatkan. Terimakasih atas setiap tangis yang kau atas namakan diriku. Kita, aku dan kamu terlalu banyak menghabiskan momen hujan ditemani satu sama lain. Hingga saat ada hujan namun tak ada dirimu. Rasanya selalu ada yang kurang.
 
Hey kamu, aku rindu.