Aku belum pernah merasakan cinta berbeda seperti ini.
Perasaan berbeda yang datang ketika aku baru saja mulai belajar disuatu Sekolah
Tinggi. Aku tidak tahu mengapa hal itu terjadi, mungkin karena perasaan cinta
ini yang benar-benar mengesankan. Sebelum study awal ku mulai, aku tidak
pernah berfikir untuk memiliki cinta berbeda terhadap lawan jenisku selama aku
belajar ditempat ini. Bahkan aku pernah berjanji pada diriku kalau aku tidak
akan jatuh cinta pada teman atau pun Kakak semesterku yang satu kampus
denganku. Tapi, cinta datang begitu saja tanpa ku undang kehadirannya.
Pada awal masuk kuliah, ada seorang pria yang
terlihat sederhana sekali sikapnya. Aku memang sempat menyukai pria itu karena
senyumnya saat pertama kali aku melihatnya waktu pengambilan kaos OSPEK. Tapi
tak pernah ku sangka kalau aku akan sekelas dengannya. Seiring berjalannya
waktu, dia mulai memberikan kesan yang berbeda dari kebanyakan pria lain di
kelas. Suatu hari, saat jam kuliah selesai dan seperti biasa aku langsung
pulang kerumah tanpa ada basa-basi mengobrol apapun dengan teman-teman lain. Sekitar
tiga puluh menit aku sampai dirumah, ponselku berdering ada yang mengirimkan
pesan singkat padaku. Entah ada angin apa, entah kesambet apa, ternyata pesan
singkat itu dari pria yang memiliki senyum manis itu. Dalam pesan singkatnya
pria itu hanya menanyakan satu pertanyaan yang sepertinya semua orang akan bisa
menjawabnya. Kubalas pesannya dan dia terus
menyambut ku melalui pesan singkat. Anehnya, mengapa aku senang berbalas
pesan dengannya. Beberapa kali aku berbicara
dengannya tentang beberapa hal melalui pesan singkat. Namun, aku punya rasa
penasaran dan bersemangat untuk mencari tahu tentangnya.
Setelah malam itu terjadi, kami semakin dekat dan kian
dekat. Tapi, meski setiap hari bertemu dikelas, kami tidak pernah terlihat
dekat sedekat dalam pesan singkat. Kami menjalaninya seperti biasa dan
teman-teman pun tak ada yang curiga pada kami. Dan, suatu ketika sahabatku mengatakan bahwa aku telah berubah. Sahabatku
menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda antara aku dengan pria itu. Aku
mengelak. Selalu mengelak setiap kali sahabatku mempertanyakan hubungan antara
aku dengan pria itu. Sampai akhirnya aku pun benar-benar tak bisa mengelak lagi.
Kuceritakan semuanya pada sahabatku. Semuanya dari kejadian malam awal pertama
kali pria itu mengirimkan pesan singkat hingga kami saling merasakan kenyamanan
yang berbeda satu dengan yang lain.
Sahabatku mendengarkanku dengan baik sampai akhirnya aku selesai bercerita. Dan
tak kusangka, sahabatku memberikan pengertian yang sangat menusuk. Dia bilang
kami berbeda. Ya.. aku tahu kami berbeda. Sangat berbeda. Perbedaan kami sangat
sulit untuk disatukan. Kami berbeda keyakinan. Dia mengenakan Tasbih dan aku
mengenakan Salib. Terang dan gelap tidak bisa dipersatukan. Seperti langit
dengan bumi. Mempersatukan yang sama saja sulit apalagi yang tidak sama dan
tidak seimbang. Tapi, apa salah kami yang merasakan cinta karena perbedaan?
Kalau perbedaan itu indah, mengapa harus dipermasalahkan? Meski begitu aku
tidak peduli tentang apa pun yang sahabatku katakan. Bagiku cinta datang dengan
cara yang indah dan tidak dipaksakan.
Aku menemukan cintaku. Pria yang
menjadi cinta dan penyemangatku adalah teman sekelasku. Perasaan itu hadir seiring berjalannya waktu. Kami
saling berbagi, saling mendukung satu dengan yang lain, saling menguatkan,
saling menghibur, saling memberi dan tak canggung lagi untuk duduk dekat bersama-sama
meski terkadang ada salah satu teman kami yang sering iseng menggoda kami. Pada
awalnya, kami merasa malu karena terus di ganggu dan di goda seperti itu. Sedikit risih. Namun, kami tidak pernah
mempedulikannya, kami terus menjalani hubungan yang dia bilang spesial dan
memang benar hubungan ini sangat spesial. Dia menganggapku wanita istimewa, dan
begitupun sebaliknya aku menganggap dia adalah pria yang paling istimewa. Aku
terus berpikir tentang dia begitupun dia terhadapku. Dia pria kebangganku. Dia
semangatku. Dia senyum semangatku. Dia lelakiku. Kami benar-benar dimabuk
perasaan.
Waktu terus
berputar, hari terus berganti, minggu terus berganti, bulan pun terus berganti.
Hubungan ini terus berjalan hingga akhirnya dia berubah sikap padaku. Perubahan
yang membuatku tak lagi merasakan kebahagiaan seperti dulu. Perubahan sikap
yang membuatku bingung, kaget dan sedikit kecewa. Perubahan yang terjadi saat
aku benar-benar menaruh hati padanya. Sikapnya tak lagi semanis dulu, senyumnya
tak lagi terlihat setulus dulu. Perhatiannya berkurang, jarang sekali
mengucapkan selamat pagi, menanyakan keadaanku, menanyakan apa aku sudah makan,
atau aku sedang apa, dan lainnya. Kalau dulu setiap pulang kuliah dia pasti
mengabariku dan mengucapkan selamat malam sebelum aku tidur, kini semuanya
perlahan menghilang. Semua menghilang tanpa sebab yang kutahu.
Tapi, aku
tetap bertahan dengannya, demikian juga dia denganku. Kami masih menjalani
hubungan yang spesial dan menganggap satu dengan yang lain sebagai orang yang
istimewa. Kami masih saling berkirim pesan singkat tapi tidak sesering dulu. Kami
masih menjalani semuanya seperti biasa, meski aku tak pernah menganggap
perubahannya sebagai hal biasa. Suatu kali, ku tanyakan padanya tentang
perubahan sikapnya terhadapku. Mengapa sekarang ini dia jarang sekali
mengabariku, apa dia mulai bosan dengan hubungan ini, atau aku punya salah
menyakitinya, ataukah ada hal yang lain. Dan dia hanya menjawab kalau dia
sedang sibuk dan banyak pekerjaan di kantornya. Sangat klise sekali menurutku.
Aku tak pernah berfikir kalau dia
akan berubah seperti ini. Berubah menjadi pria yang cuek. Berubah menjadi pria
yang tak peduli. Berubah menjadi pria yang akhirnya mengubah senyumku menjadi
tetesan air mata. Aku merindukannya yang dulu. Aku merindukan saat dia
menanyakan kabarku, saat dia memperhatikanku, saat dia mencoba meluluhkan
hatiku ketika aku mulai marah padanya. Aku teringat saat dia berkata kalau dia
tak akan meninggalkanku. Aku teringat saat dia berkata hubungan kami spesial
dan aku adalah wanita istimewa dalam hatinya. Aku teringat semua kata-kata
manisnya dulu. Aku teringat semua pernyataan manisnya itu. Tapi, sepertinya
pernyataan manis itu kini berubah terbalik karena sikap acuh tak acuhnya
padaku. Pernyataan itu berubah menjadi pertanyaan apakah benar aku ini istimewa
dan hubungan ini spesial? Apakah benar dia tak akan meninggalkan aku? Apakah
benar semua pernyataan itu berasal dari hatinya? Ingatkah dia akan semuanya
itu?
Aku masih terus bertahan
dengannya. Bertahan karena aku bukan hanya ingin menjadi seorang yang istimewa
saja baginya. Aku bertahan karena aku ingin menjadi sahabatnya, menjadi
temannya, menjadi telinganya, menjadi semangatnya dan menjadi tempatnya untuk
berbagi susah dan senang. Aku masih akan menjadikan dia sebagai orang yang
istimewa dan menjadikan hubungan ini spesial meski kini sikapnya tak seperti
dulu. Aku masih sering mengucapkan selamat pagi padanya, aku masih selalu
mengucapkan selamat malam padanya, aku masih terus menanyakan bagaimana
kabarnya, bagaimana dengan pekerjaanya, bagaimana dengan tugas kuliah, dan
lain-lain meski balasan yang ku dapat jauh dari yang aku harapkan. Tak mengapa,
karena aku percaya kalau suatu saat nanti dia akan kembali menjadi sosok pria
kebanggaanku.
Tapi, tiba-tiba suatu ketika dia
mengirimkan pesan singkat yang sangat membuatku kaget. Dalam pesannya dia
berkata kalau dia tak sebaik yang kufikirkan. Dia tak bisa membalas dan
mengimbangi perasaanku. Aku bingung apa maksudnya. Tak bisa membalas dan
mengimbangi perasaanku? Lalu selama ini dia menganggap kalau hubungan ini tak
berarti apa-apa. Setiap kata manisnya adalah jebakan dan lelucon yang membuatku
termakan kepalsuan dan kebodohan mengatasnamakan hubungan spesial dan
istimewa. Dia memainkan perasaanku seenaknya. Dia menjatuhkanku tepat sekali
kedasar bumi yang paling dalam. Dia menusukku dengan kalimatnya yang membuat
tangisku pecah. Dia membuat duniaku gelap dan hilang seketika. Senyum
kebahagiaan seketika memudar berganti menjadi kemurungan dan kemuraman yang
sama sekali tak pernah kubayangkan kalau dia akan tega melakukan hal jahat
seperti itu terhadapku, tehadap perasaanku, terhadap hatiku. Dia menjeratku
didalam rasa kenyamanan yang tak pernah aku bayangkan. Dia merubah sikap cuek ku
menjadi sosok yang cengeng. Dia menjadikanku seperti alat yang hanya dia cari
disaat dia butuhkan.
Aku mencintainya. Perasaanku
masih tetap sama. Tapi, apa dia mencintaiku juga? Ah..pertanyaan bodoh. Jelas
saja jawabannya tidak. Apa dia pernah ingat sema kejadian yang pernah kita
lakukan? Ah..pasti juga tidak akan ingat. Bodoh. Sudah terlihat dari sikap
cuek, acuh tak acuh, dan pesan singkatnya yang membunuh. Kini apalagi yang
kuharapkan? Seharusnya aku tahu kalau selama ini perubahan sikapnya adalah
caranya untuk menjauhiku secara perlahan.
Seiring berjalannya waktu aku
mengerti tentang semuanya. Tentang perubahannya, tentang siapa dirinya, tentang
setiap sikapnya. Awalnya aku mempermasalahkan semuanya. Jujur, aku kecewa
padanya. Sangat. Masih terngiang jelas semua hari-hari yang kita lalui. Setiap
kata manis dan lembutnya masih asyik bermain ria berputar manja dipikiranku.
Semua tutur bahasa serta perhatiannya masih sangat terekam jelas dalam ingatan.
Semuanya. Semuanya dari awal hingga saat ini. Semuanya masih tersusun sangat
rapi dalam memoriku.
Aku tak akan pernah melupakannya.
Setiap kebaikannya, setiap kelembutannya, setiap senyum dan semangat yang dia
berikan akan selalu aku ingat. Setiap pemberiannya pun akan selalu aku simpan
dan aku jaga dengan baik. Kalau suatu saat nanti dia memiliki wanita istimewa
yang baru serta menjalani hubungan spesial dengan wanita lain, aku
merelakannya. Aku akan belajar menghilangkan sedikit rasaku terhadapnya.
Tugasku hanya menemani dan memberi semangat untuk kesuksesannya. Lalu setelah
itu, dialah yang menentukan dengan siapa dia akan menikmati kesuksesannya.