Selasa, 23 Desember 2014

Ruang Kelas


Aku senang berada ditempat ini
Bertemankan sang papan persegi
Jam dinding dengan suara detakan khasnya
Serta jajaran kursi hitam yang berbaris rapih

Aku senang berada di tempat ini
Tak terlalu luas
Tapi menyimpan banyak kejutan magis
Canda tawa membuncah disini
Bahkan airmata pernah tertumpah jua didalamnya

Aku senang berada di tempat ini
Tempat pertama kali kita bertemu
Tempat yang membuatku jatuh hati
Padamu...
Pada sorot matamu
Pada senyum manismu

Aku senang berada di tempat ini
Tempat berpetak kecil
Penuh kenangan dan kisah beragam
Tentang kita...
Dalam bilangan waktu yang lampau

Aku senang berada di tempat ini
Tempat menyandarkan kebahagian serta tangis
Tempat sederhana
Tempat istimewa
Tempat kebanggaanku
Ruang kelas

Hujan di Langit Senja


Selamat datang musim hujan. Selamat membasahi bumi dengan bulir-bulir lembutmu, ya. Semoga kali ini kamu datang untuk membasuh kekeringan dan tidak menyebabkan kerugian buat para makhluk penghuni bumi.

Gue suka banget sama hujan. Bisa dibilang gue penikmat beratnya hujan. Meski begitu, sebenarnya gue punya persepsi lain tentang hujan. Menurut gue, hujan itu seperti anak kecil. Kenapa? Karena hujan itu enggak peduli mau dia turun dengan deras atau enggak, mau dia ngebasahin makhluk bumi segimanapun dia enggak peduli. Yang penting dia turun dengan senangnya, dengan sesukanya dan berhenti semaunya (tapi bukan berarti gue menyalahkan Tuhan sang Kuasa, loh). Sama halnya dengan anak kecil. Apapun yang mereka lakukan, mereka enggak peduli. Enggak pernah peduli. Mau bersih atau kotor, mau baik atau enggak, yang penting mereka lakukan hal itu dan mereka senang dengan apa yang mereka lakukan. Kenapa gue bilang begitu? Karena kali ini gue ngelihat hujan bareng malaikat-malaikat mungil (murid gue) yang berumur 4-6tahun. Hujan kali ini turun deras banget. Di mulai dari awan yang menggelap, petir kencang dengan suara gemuruhnya yang menggelegar, dan akhirnya turunlah hujan di sertai angin kencang. Sebelum hujan turun gue udah was-was dan takut banget ngeliat kejadian-kejadian seperti yang gue sebutin tadi. Tapi anehnya malaika-malaikat gue enggak takut sama sekali. Mereka asyik dengan dunia mereka. Ketawa-ketawa, main, lari-larian dengan sesuka hati mereka kesana-kemari. Melakukan apapun yang mereka mau, enggak peduli dengan hal yang sedang terjadi. Sampai akhirnya setelah mereka capek (atau lebih tepatnya gue yang capek teriak-teriak buat nyuruh mereka berhenti main), mereka baru sadar kalau hujan turun deras disertai petir.

Cerita di atas bisa dibilang sebagai basa-basi tulisan gue. Dan akhirnya setelah basa-basi yang cukup panjang (yang sepertinya di lupakan saja) gue masuk kedalam inti tulisan gue kali ini. Seperti yang gue bilang, gue suka banget sama hujan. Entah kenapa buat gue hujan itu menyejukkan banget. Mungkin bukan hanya buat gue, tapi buat para makhluk bumi lainnya juga. Hujan itu selalu indah dipandang mata. Dan gue (pernah) mengibaratkan seseorang seperti hujan. Buat gue orang itu sama seperti hujan, karena dia emang indah banget buat dipandang. Gue suka banget ngeliat senyum manisnya yang buat gue jatuh hati pertama kali sama dia. Selain itu gue juga pernah menghabiskan sore bareng dia dibawah hujan rintik-rintik, tepatnya tahun lalu. Hujan dikala senja tahun lalu enggak bisa gue lupain. Tapi bukan berarti gue belum move-on. Gue udah move-on, kok (ini serius enggak bohong). Buat gue hujan dilangit senja tahun lalu indah banget. Masih kerasa dan kebayang sampai sekarang. Gue penikmat hujan. Gue pengagum senja. Dan gue (pernah) melewati hujan di kala senja bareng dia. Dia si hujan yang ngebasahin hati gue disaat hati gue mulai gersang. Dia si hujan yang nyiram tanah kering menjadi basah dan sejuk. Dia si hujan yang selalu menyejukkan hati dengan bulir-bulirnya yang lembut.

Tapi sekarang hujan dilangit senja gue berubah menjadi petir yang menakutkan. Petir yang udah ngilangin sejuknya hujan dengan gemuruh yang menakutkan. Petir yang datang disaat gue lagi menikmati kelembutan bulir-bulir hujan. Petir yang buat gue diam membisu enggak bisa berkutik karena gue kalah di serang ketakutan serta gemuruhnya. Petir kencang yang seketika ngebuat gue ngerasa kaku enggak berdaya. Gue suka hujan, tapi gue enggak suka petir.

Tapi mau gimana pun, petir itu selalu ada saat hujan datang. Entah gemuruhnya pelan atau kencang petir emang enggak pernah menarik untuk di dengar, di lihat apalagi untk di rasa. Dan petir itu gue ibaratkan dengan patah hati. Saat jatuh cinta patah hati itu pasti akan ada. Entah dia datang cepat atau lambat. Entah dia datang dengan gemuruhnya yang pelan atau kencang. Rasanya pasti sama saja, membuat kaku dan tak berdaya. Sama halnya dengan perjalanan cinta gue. Ketika gue lagi menikmati sang hujan mengalir, petir itu menyambar tiba-tiba tanpa bisa gue tahan gemuruhnya. Sama seperti cinta gue yang remuk ketika patah hati datang menyambar.

Hujan di sertai petir.
Cinta di sertai patah hati.
Terimakasih buat lo,
Hujan di Langit Senja!

Jumat, 07 November 2014

Selamat Ulang Tahun, Kamu..


Tulisan ini ku buat untuk kamu
yang berulangtahun tanggal 10 Juli

Waktu bergerak begitu cepat. Perkenalan, pertemuan dan perpisahan berganti begitu cepat. Tapi, kamu masih menjadi pria dengan senyum manis yang seringkali kucuri keindahannya dengan diam-diam menatapmu. Kamu masih orang yang sama, pria dengan sikap sederhana yang mampu melayangkan setiap bayang-bayang menjadi keindahan yang mengalir pelan.

Ceritakan padaku, apa yang kamu alami setelah berpisah denganku? Dan siapa kini yang menjadi wanita istimewamu? Pasti sudah ada. Dan pasti kamu mengalami kebahagiaan yang berlipat-lipat kan? Aku yakin, kamu selalu bahagia, karena kebahagiaanmu masih setia aku rapalkan dalam doa. Sosokmu masih sering kuperbincangkan dengan Tuhan. Karena mendoakanmu adalah caraku memelukmu dari kejauhan. Hanya itu yang bisa aku lakukan setiap kali aku merindukan kamu dan kebersamaan indah kita dulu.

Meski kita sudah lama tak saling bertatap mata, tapi aku tak pernah lupa sinar matamu ketika menatapku dengan tajam. Aku tak bisa melupakan senyummu yang seringkali membuatku dag-dig-dug setiap kali aku melihatnya. Apa kamu masih ingat ketika kita malu-malu saat berbicara dan berbincang tentang cinta? Karena hatimu dan hatiku belum siap memahami yang telah terjadi saat itu, kita menjalani banyak perasaan yang terkesan maya tapi terasa begitu nyata. Setiap pertemuan indah denganmu selalu aku rangkai dalam jentikan jemariku, aku berharap tak ada kata “berakhir” yang mampu menghilangkan hari-hari menyenangkan yang pernah kita lalui.

Kamu mengajarkanku banyak rasa. Dari rasa canggung, malu, bingung, berbohong pada perasaan sendiri, memendam, enggan berkomentar dan rasa takut akan kehilangan. Sosokmulah yang telah memacuku bercerita lewat puisi. Puisi singkat dengan pemilihan kata sederhana yang bercerita tentang hal yang aku rasakan. Kamu ingat puisi yang aku bacakan saat MidTest Sastra Indonesia Semester 1 lalu? Tolong jangan mengejekku dan tertawa jika mengingatnya J

Betapa manisnya kita dulu, sayang semua hanya terjadi 2bulan 24hari. Kenangan yang tak bisa lagi diputar. Semua tinggal kenangan yang tak mungkin terulang kembali. Seandainya aku bisa memutar waktu, aku ingin kembali pada saat-saat dimana kita berdua bisa menghabiskan hari dengan canda dan tawa yang menghiasnya, membiarkan cinta hadir dan bertumbuh. Rindukah kamu dengan percakapan-percakapan kita yang mengundang tawa kala itu? Masih ingatkah kamu dengan kekonyolan tengah malam yang kita lakukan saat berbicara dengan bulan dan bintang melalui pesan singkat? Kita melakukannya saat kamu menghilang beberapa jam setelah Ujian Tengah Semester1 Pronounciation berakhir. Aku setia menunggumu malam itu, aku setia menemanimu dan memberikan semangat padamu ketika kamu merasa tak mampu mengikuti setiap mata kuliah. Jujur, aku merindukan kekonyolan yang membuat senyumku merekah malam itu.

Dulu, aku tak pernah berpikir untuk memperjuangkan kamu. Yang aku tahu kalau perasaan ini begitu unik dan sangat menyenangkan. Kamu mampu membuat hatiku tergoncang. Aku masih ingat betul keisenganmu saat mencubit pipi dan hidungku dulu, sedang aku hanya bisa tersenyum malu saat itu. Aku masih ingat betul saat kita mau-malu menghabiskan Quality Time berdua di cafe itu. Aku masih ingat betul setiap perhatian kecilmu padaku. Aku masih ingat betul saat kita berjalan ditengah gerimis sore itu. Mencari rumah teman kita, yang sama-sama kita tak tahu tepatnya dimana. Aku juga masih ingat betul saat kamu menyuruhku memakai jas hujanmu kala itu. Aku sempat menolak, tapi karena kamu memaksa akhirnya aku pun mengenakannya. Maaf, waktu itu aku lupa melipat jas hujanmu kembali.

Kini, aku dan kamu sudah berubah. Tapi entah mengapa perasaanku masih tetap sama. Aku masih belum bisa melupakan kenangan yang sudah lebih dulu terjadi. Dibalik ingatan yang ada, menyakitkan memang jika aku selalu mengingat banyak hal yang tak pernah sepenuhnya kamu ingat. Aku mengingatnya, sedang kamu melupakannya. Ingatkah, saat kamu bilang kalau kamu tak akan meninggalkanku? Aku hanya tersenyum jika mengingat kalimatmu yang kamu kirimkan dalam pesan singkat dulu. Karena buatku bukanlah berjanji untuk tidak meninggalkan, tapi berjanjilah untuk tetap bertahan saat salah satu tersakiti. Aku melakukannya, sedang kamu memutuskan perjuanganku. Tugasku kini, hanya mendoakan dan memberimu semangat untuk meraih kesuksesanmu. Lalu setelah itu, kamulah yang menentukan dengan siapa kamu akan menikmati kesuksesanmu.

Saat ini, diumurmu yang semakin bertambah, duapuluhtiga tahun rupanya. Aku hanya ingin mendoakan agar semua cita-cita dan harapanmu bisa tercapai. Kamu bilang, kamu ingin menjadi seorang Entepreneur dan ingin mengelilingi dunia, bukan? Semoga Tuhan senantiasa memeluk cita-cita dan harapanmu itu, yaa.

Selamat ulang tahun, pria yang sempat mewarnai hariku. Seorang pria dengan wajah menenangkan, bermata sendu, serta pria yang membuatku jatuh cinta dengan suara lembut dan senyumannya. Dimataku kamu tanpa cela. Dibunga tidurku kamu masih sering menjadi pemeran utama. Dihatiku kamu masih memiliki peran yang luar biasa. Meski aku sedang berusaha membencimu dan menghilangkan rasa padamu setiap hari.

Sekali lagi selamat ulang tahun Guardian Angel dan Pelangiku. Tetaplah menjadi pria rendah hati kebanggaanku yang sederhana, dan jangan pernah berhenti untuk tersenyum. Maaf, aku hanya bisa memberikan botol minum dan handuk kecil itu padamu. Di botol minum itu ada foto kita, setidaknya kamu bisa mengingatku. Dan di handuk kecil itu ada tulisan “Tedz” berwarna merah, nama panggilan sayangku untukmu. Aku memilih warna merah karena buatku kamu adalah sosok yang pemberani (berani mencuri hatiku). Ohya, dulu aku pernah berjanji untuk selalu menyediakan tishu dan mengelap keringatmu setelah kamu maju kedepan kelas untuk presentasi atau bercerita sesuatu. Tapi, maaf aku tak bisa melakukannya. Karena itu aku memberikan handuk kecil itu sebagai gantinya. Semoga botol minum dan handuk kecil itu bisa kamu pakai. Tapi, jika kamu tidak suka tak apa, kamu bisa simpan atau membuangnya.

Hmm, sebentar lagi kita akan mengakhiri Semester dua dan akan masuk Semester tiga. Tetap semangat dan terus semangati aku dengan senyummu yaa, karena kamu dan senyummu adalah karya Tuhan yang aku kagumi.

Kamis, 03 Juli 2014

Kita Dalam Kisah Yang Berbeda


Kamu pernah menjadi bagian dalam hari-hariku. Setiap malam sebelum tidur, kuhabiskan beberapa menit untuk membaca pesan singkatmu. Tawa kecilmu, perhatian kecilmu serta canda dan gurauanmu selalu mampu membuatku tersenyum diam-diam. Aku merasa bahagia ketika membaca pesan singkatmu disela-sela malamku.

Sepertinya, aku jatuh cinta padamu. Meski seharusnya jatuh cinta terjadi dalam proses yang panjang. Tapi, aku tak  mengalami fase itu ketika denganmu. Bukankah ketika jatuh cinta setiap orang selalu menganggap segala hal yang biasa menjadi terlihat luar biasa dan begitu indah? Jatuh cinta bisa membuat sesuatu yang jelek menjadi terlihat bagus dan yang pahit bisa menjadi manis. Aku manusia biasa. Kuharap kamu memahami dan menyadari. Aku terlalu penasaran ketika kehadiranmu mulai mengisi kekosongan hatiku. Kebahagianku mulai hadir ketika kamu menyapaku lebih dulu dalam pesan singkat. Semua begitu bahagia, dulu.

Aku berharap lebih. Kugantungkan harapanku padamu. Kuberikan sepenuhnya perhatianku padamu. Sayangnya, semua hal itu sama sekali tak kamu gubris. Kamu ingin tahu rasanya jadi aku? Dari awal kita berkenalan, aku hanya ingin melihatmu bahagia. Senyummu adalah salah satu keteduhan yang paling ingin kulihat setiap harinya. Dulu, aku berharap bisa menjadi salah satu penyebab kamu tersenyum, tapi ternyata harapanku terlalu tinggi.

Semua telah berakhir. Perjuanganku terhenti karena kamu tak ingin memperjuangkan hubungan ini. Semua terasa aneh bagiku. Kita yang dulu sempat dekat, walaupun tak punya status apa-apa, meskipun berada dalam ketidakjelasan, kini tiba-tiba harus menjauh. Aku yang terbiasa dengan sapaan manismu dalam pesan singkat, kini harus terpaksa ikhlas kehilangan kamu, karena akhirnya kamu sibuk dengan duniamu atau mungkin sekarang dengan wanita barumu. Aku berusaha memahami itu. Setiap hari, setiap waktu. Aku berusaha meyakini diriku bahwa semua sudah berakhir.

Jika aku bisa langsung meminta pada Tuhan, aku tak ingin perkenalan kita terjadi. Aku tak ingin membaca pesan-pesan manismu. Aku tak ingin mendengar suara lembutmu diujung telepon sana. Aku tak ingin segala hal manis itu terjadi kalau akhirnya kamu membuat airmataku menetes dan membuat kepingan puzle hatiku patah, jatuh lalu pecah berantakan.

Kalau kamu ingin tahu bagaimana perasaanku, aku merasa kesesakan dalam status yang menyedihkan itu. Aku terkatung-katung sendirian, sedangkan kamu meneguk manis tawa bersama duniamu. Aku lelah. Begitulah perasaanku. Aku masih belum mengerti mengapa semua berakhir sesakit ini? Aku berusaha semampuku, menjunjung tinggi kamu sebisaku, tapi dimana perasaanmu? Aku dilarang menuntut ini dan itu karena aku hanya temanmu. Hanya temanmu. Persinggahan yang tak akan kamu jadikan tujuan.

Setiap hari, setiap waktu aku selalu berusaha menganggap semuanya baik-baik saja. Semua akan berakhir seiring berjalannya waktu. Aku berharap perasaanku akan segera hilang dan lukaku akan sembuh secepatnya. Aku tak ingin lagi ada hal-hal penyebab airmataku terjatuh.  Namun, sampai kapan aku harus mencoba? Entahlah aku terlalu lemah.

Sejak dulu harusnya tak kuperhatikan kamu sedalam itu. Sejak tahu kehadiranmu mengusik kekosongan hatiku, seharusnya aku menolak usikan dan bisikan lembutmu itu. Tapi aku terlalu penasaran, aku terlalu mengikuti rasa keingintahuanku. Jika dari awal aku mampu menolakmu, mungkin aku tak akan tahu rasanya menjatuhkan airmata karena rasa sakit. Aku tak tahu apa salahku sehingga kita yang baru saja mencicipi keindahan, tiba-tiba harus terhempas dari dunia mimpi kedunia nyata.

Aku mengingatmu sebagai sosok yang pernah hadir meski tak benar-benar tinggal. Yaa.. aku tahu, aku hanyalah persinggahan tempatmu meletakkan kecemasan lalu pergi tanpa berjanji untuk pulang. Iya, aku bodoh terlalu mengikuti permainan tanpa bisa berhenti, hingga akhirnya berakhir kalah. Semua berlalu dan semua cerita harus punya akhir. Meski ini bukanlah akhir yang kupilih. Sandainya aku bisa memilih, aku ingin terus menjadi wanita istimewa dihatimu. Tapi, asal kamu tahu, setiap malamku aku masih sering mendoakanmu dan memperbincangkanmu dengan Tuhan.

Semoga kamu tahu kalau aku berjuang setiap hari untuk melupakanmu. Aku memaksa diriku untuk membencimu. Sampai nanti kamu mempunyai wanita lain aku akan terus berusaha menghilangkan rasaku padamu. Setiap hari, setiap waktu.

Bisakah kamu bayangkan rasanya jadi orang yang setiap hari terluka? Bisakah kamu bayangkan rasanya jadi aku? Bisakah kamu bayangkan rasanya menjadi seseorang yang setiap hari harus menahan tangisnya agar tetap terlihat baik-baik saja?

Kurasa kamu tak bisa. Ya, tentu saja. Karena sejauh yang kutahu kamu bukanlah orang yang perasa.

2 Bulan 24 Hari


Kita berada dalam satu tempat dimana pertama kali kita bertemu. Tempat yang harusnya menjadi tempat yang sangat indah dengan berbagai kisahnya. Ruangan tak terlalu luas dengan satu papan tulis dan beberapa bangku, tempat untuk kita belajar bersama dengan teman lainnya. Ruang kelas. Aku suka berada diruangan itu. Kenangan dan kisah yang tercipta disitu pun berbeda-beda. Tapi, bagian yang paling indah adalah ketika aku bisa melihat sorot matamu dan senyummu.
Perkenalan kita sangatlah instan. Kesederhanaanmu membuat aku percaya kalau kamu adalah pria yang berbeda. Aku mulai membangun mimpi, harapan, dan keyakinan agar tidak menyia-nyiakan kebersamaan kita. Kamu humoris dan manis, mungkin dua hal itu memang tak cukup dijadikan alasan akan hadirnya cinta. Terlalu buru-buru jika aku mengartikan ini semua adalah cinta, mungkinkah kita terjebak dalam ketertarikan sesaat? Aku tak tahu. Jika ini hanya ketertarikan sesaat mengapa aku begitu sedih ketika kamu memutuskan untuk pisah dan mengakhiri segalanya?
Akhir tahun lalu kamu begitu manis dan mengejutkan. Perhatian-perhatianmu membuat aku yang lama tak merasakan cinta seperti tersetrum dengan energi magis. Kamu mulai ungkapkan rasa, bercerita tentang rasa kagummu terhadapku, serta tetang dirimu dan mimpimu. Kamu tahu, diam-diam sebenarnya aku mengagumimu, tapi aku tak ingin bilang. Kalau saat itu aku sempat cuek hingga kamu merasa bahwa aku tak ingin menjalani hubungan ini denganmu. Sebenarnya aku hanya terlalu gengsi untuk mengatakan bahwa aku mulai menyukaimu. Aku merasa nyaman dengan keberadaanmu di hari-hariku.
Beberapa bulan lalu kukira aku sudah menjadi sosok yang benar-benar istimewa bagimu, seperti yang kau bilang kalau hubungan ini spesial dan aku wanita istimewa di hatimu, tapi ternyata perkiraanku salah. Itu hanya sekedar ucapan palsumu. Aku belum jadi pemilik hatimu. Aku hanya persinggahan yang mungkin tak akan kau jadikan tujuan.
Kalau boleh jujur, aku sungguh menikmati kebersamaan kita. Kebersamaan yang terjalin dari makhluk yang bisa membuat bodoh menjadi pintar dalam waktu yang bersamaan-handphone. Perhatian serta senyuman yang kau selipkan dalam setiap percakapan kita lewat tulisan itu membuatku banyak berharap. Kupikir, kamu memang mempunyai perasaan serius denganku. Tapi lagi-lagi aku salah, harapanku terlalu tinggi.
Tapi mengapa terus saja kau tunjukkan jalan terang? Jalan terang yang kupikir adalah tujuan untuk menuju kenyataan. Aku mencoba mengikuti jalan itu, berjalan bersamamu atas nama hari, dan kita tak tahu teka-teki dibalik perbedaan yang ada didalam kita. Hingga akhirnya kamu memilih pergi dengan alasan yang tidak kupahami. Kamu memilih pergi ketika aku mulai menyayangimu dan terus ingin memperjuangkan kamu. Bayangkan, semua hanya terjadi 2 bulan 24 hari! Begitu singkat, bukan? Kamu pergi ketika aku mulai merasa bahwa ini adalah cinta. Kamu pergi ketika aku mulai berharap kebersamaan kita tidak akan berakhir meski sudah diujung tanduk.
Tapi, kini aku harus melewati hari yang kurasa aneh. Tidak ada lagi kamu dan perhatianmu. Tidak ada lagi kita dan canda tawa yang dulu pernah ada. Rasa sakit ini masih begitu terasa. Kamu tentu tahu, melupakan sesuatu yang sudah melekat bukanlah perkara yang mudah. Aku tak pernah membayangkan bangun pagi dan tidur malam tanpa ucapan-ucapan manismu. Aku tak pernah membayangkan rasanya terlelap sebelum mendengar suara lembutmu dari ujung telepon sana. Aku tak ingin perpisahan, tapi sayangnya Tuhan berkata lain-kita berpisah.
Kita pernah saling merasakan kenyamanan karena rasa sayang. Ingatkah kamu dengan semua kata-kata manismu dulu?  Atau aku yang terlalu berlebihan mendambakan sosok seperti kamu? Pipiku seringkali basah entah oleh apa. Mungkin air mata. Tapi, tolong jangan paksa aku mengaku bahwa itu adalah airmata, karena kamu tak akan mengerti rasa sakitku. Dan karena aku tahu kamu pun tak pernah ingin mendengar cerita apapun tentang airmataku.
Kita masih akan  berada diruangan itu bersama, diruangan favoritku. Diruangan yang penuh dengan kisah dan kejutan yang berbeda setiap harinya. Diruangan itulah aku masih bisa menikmati senyummu dari kejauhan meski harus mencurinya dengan tatapan malu. Aku masih menjadikan ruangan itu sebagai ruangan favoritku. Meski tak ada kamu lagi disampingku. Hey, kita belum saling membahagiakan dan meraih kesuksesan, tapi mengapa kau inginkan perpisahan ini terjadi?

Kamis, 19 Juni 2014

Salahkah Cinta Itu Hadir?


Jatuh cinta itu selalu mampu membuatku bahagia. Bukan hanya buatku tapi buat semua orang. Jika ku tanyakan bagaimana rasanya jatuh cinta pasti jawabannya akan selalu menyenangkan. Tapi pernahkah kalian jatuh cinta pada seorang yang sudah mempunyai pasangan atau yang akan menikah? Kalau pernah, bagaimana rasanya? Pasti sangat tidak menyenangkan. Tidak akan ada yang ingin jatuh dalam perangkap seperti itu. Jatuh cinta itu menyenangkan jika pada orang yang tepat.
Kembali ke pertanyaan awal. Bagaimana jika dengan seorang yang sudah memiliki kekasih? Pasti awalnya menyenangkan, menyenangkan sesaat. Tapi setelah itu pasti akan merasakan rasa sakit dan patah hati nantinya. Tidak akan bisa dipungkiri dan tidak akan bisa dihindari. Memang tidak ada yang salah mencintai seseorang. Karena perasaan memang tidak pernah salah. Yang salah adalah bagaimana menempatkan perasaan pada seseorang. Bermain api pasti akan terbakar.
Kini, aku merasakan perasaan yang indah itu, namun dengan orang yang  salah. Perasaan indah yang aku rasakan pada seorang pria yang sudah memiliki pasangan dan segera menuju pelaminan. Pria yang membuatku jatuh hati terhadapnya. Pria yang membuatku merasa dag-dig-dug setiap kali melihatnya. Pria yang mampu membuatku kembali bangkit dari rasa patah hatiku terhadap priaku dulu. Dia, selalu mampu membuatku penasaran dengan setiap hal yang dia lakukan dan dengan setiap hal yang dia kerjakan.
Lalu bagaimana dengan perasaan yang aku rasakan ini? Aku menyukainya, aku mengaguminya, dan aku mencintainya. Saat ini benar sekali aku menaruh hati terhadapnya. Tapi jelas sekali dia tidak menaruh hati terhadapku. Dia hanya menganggapku sebagai adiknya atau mungkin sebagai temannya atau bahkan sebagai orang asing. Aku mengenalnya sudah sangat lama. Aku mengagumi semua hal darinya. Aku pengagumnya dan hanya bisa mengaguminya dalam diam.
Salahkah jika aku berharap bisa memiliki hubungan lebih padanya? Salahkah jika aku berharap bisa bersamanya? Aku mencintainya. Salahkah perasaan jatuh cinta ini?
Baiklah.. ini memang sedikit memaksa memang. Tapi apa salah jika cinta hadir kepada seseorang yang sangat sederhana sepertiku? Salahkah jika aku mengharapkan cintanya? Salahkah jika aku terlalu berharap? Salahkah cinta datang dalam hatiku? Seandainya aku bisa menahan perasaan ini, seandainya aku bisa menahan gejolak ini pasti akan aku coba untuk menahanya. Tapi sayangnya aku tak bisa melakukannya. Setiap kali aku menahannya, pasti semakin menjadi-jadi perasaan ini. Setiap kali aku mencoba melupakan rasa ini, semakin menjadi perasaan yang sangat tak ingin aku lupakan.
Sekali lagi perasaan memang tak pernah salah. Lalu siapa yang salah? Hati yang merasakan? Orang yang merasakan? Atau memang salahkah cinta itu hadir?

Cerita Singkat Kita


Aku belum pernah merasakan cinta berbeda seperti ini. Perasaan berbeda yang datang ketika aku baru saja mulai belajar disuatu Sekolah Tinggi. Aku tidak tahu mengapa hal itu terjadi, mungkin karena perasaan cinta ini yang benar-benar mengesankan. Sebelum study awal ku mulai, aku tidak pernah berfikir untuk memiliki cinta berbeda terhadap lawan jenisku selama aku belajar ditempat ini. Bahkan aku pernah berjanji pada diriku kalau aku tidak akan jatuh cinta pada teman atau pun Kakak semesterku yang satu kampus denganku. Tapi, cinta datang begitu saja tanpa ku undang kehadirannya.

Pada awal masuk kuliah, ada seorang pria yang terlihat sederhana sekali sikapnya. Aku memang sempat menyukai pria itu karena senyumnya saat pertama kali aku melihatnya waktu pengambilan kaos OSPEK. Tapi tak pernah ku sangka kalau aku akan sekelas dengannya. Seiring berjalannya waktu, dia mulai memberikan kesan yang berbeda dari kebanyakan pria lain di kelas. Suatu hari, saat jam kuliah selesai dan seperti biasa aku langsung pulang kerumah tanpa ada basa-basi mengobrol apapun dengan teman-teman lain. Sekitar tiga puluh menit aku sampai dirumah, ponselku berdering ada yang mengirimkan pesan singkat padaku. Entah ada angin apa, entah kesambet apa, ternyata pesan singkat itu dari pria yang memiliki senyum manis itu. Dalam pesan singkatnya pria itu hanya menanyakan satu pertanyaan yang sepertinya semua orang akan bisa menjawabnya. Kubalas pesannya dan dia terus menyambut ku melalui pesan singkat. Anehnya, mengapa aku senang berbalas pesan dengannya. Beberapa kali aku berbicara dengannya tentang beberapa hal melalui pesan singkat. Namun, aku punya rasa penasaran dan bersemangat untuk mencari tahu tentangnya.

Setelah malam itu terjadi, kami semakin dekat dan kian dekat. Tapi, meski setiap hari bertemu dikelas, kami tidak pernah terlihat dekat sedekat dalam pesan singkat. Kami menjalaninya seperti biasa dan teman-teman pun tak ada yang curiga pada kami. Dan, suatu ketika sahabatku  mengatakan bahwa aku telah berubah. Sahabatku menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda antara aku dengan pria itu. Aku mengelak. Selalu mengelak setiap kali sahabatku mempertanyakan hubungan antara aku dengan pria itu. Sampai akhirnya aku pun benar-benar tak bisa mengelak lagi. Kuceritakan semuanya pada sahabatku. Semuanya dari kejadian malam awal pertama kali pria itu mengirimkan pesan singkat hingga kami saling merasakan kenyamanan yang berbeda satu dengan yang lain.
Sahabatku mendengarkanku dengan baik sampai akhirnya aku selesai bercerita. Dan tak kusangka, sahabatku memberikan pengertian yang sangat menusuk. Dia bilang kami berbeda. Ya.. aku tahu kami berbeda. Sangat berbeda. Perbedaan kami sangat sulit untuk disatukan. Kami berbeda keyakinan. Dia mengenakan Tasbih dan aku mengenakan Salib. Terang dan gelap tidak bisa dipersatukan. Seperti langit dengan bumi. Mempersatukan yang sama saja sulit apalagi yang tidak sama dan tidak seimbang. Tapi, apa salah kami yang merasakan cinta karena perbedaan? Kalau perbedaan itu indah, mengapa harus dipermasalahkan? Meski begitu aku tidak peduli tentang apa pun yang sahabatku katakan. Bagiku cinta datang dengan cara yang indah dan tidak dipaksakan.

Aku menemukan cintaku. Pria yang menjadi cinta dan penyemangatku adalah teman sekelasku. Perasaan  itu hadir seiring berjalannya waktu. Kami saling berbagi, saling mendukung satu dengan yang lain, saling menguatkan, saling menghibur, saling memberi dan tak canggung lagi untuk duduk dekat bersama-sama meski terkadang ada salah satu teman kami yang sering iseng menggoda kami. Pada awalnya, kami merasa malu karena terus di ganggu dan di goda seperti itu. Sedikit risih. Namun, kami tidak pernah mempedulikannya, kami terus menjalani hubungan yang dia bilang spesial dan memang benar hubungan ini sangat spesial. Dia menganggapku wanita istimewa, dan begitupun sebaliknya aku menganggap dia adalah pria yang paling istimewa. Aku terus berpikir tentang dia begitupun dia terhadapku. Dia pria kebangganku. Dia semangatku. Dia senyum semangatku. Dia lelakiku. Kami benar-benar dimabuk perasaan.

Waktu terus berputar, hari terus berganti, minggu terus berganti, bulan pun terus berganti. Hubungan ini terus berjalan hingga akhirnya dia berubah sikap padaku. Perubahan yang membuatku tak lagi merasakan kebahagiaan seperti dulu. Perubahan sikap yang membuatku bingung, kaget dan sedikit kecewa. Perubahan yang terjadi saat aku benar-benar menaruh hati padanya. Sikapnya tak lagi semanis dulu, senyumnya tak lagi terlihat setulus dulu. Perhatiannya berkurang, jarang sekali mengucapkan selamat pagi, menanyakan keadaanku, menanyakan apa aku sudah makan, atau aku sedang apa, dan lainnya. Kalau dulu setiap pulang kuliah dia pasti mengabariku dan mengucapkan selamat malam sebelum aku tidur, kini semuanya perlahan menghilang. Semua menghilang tanpa sebab yang kutahu.

Tapi, aku tetap bertahan dengannya, demikian juga dia denganku. Kami masih menjalani hubungan yang spesial dan menganggap satu dengan yang lain sebagai orang yang istimewa. Kami masih saling berkirim pesan singkat tapi tidak sesering dulu. Kami masih menjalani semuanya seperti biasa, meski aku tak pernah menganggap perubahannya sebagai hal biasa. Suatu kali, ku tanyakan padanya tentang perubahan sikapnya terhadapku. Mengapa sekarang ini dia jarang sekali mengabariku, apa dia mulai bosan dengan hubungan ini, atau aku punya salah menyakitinya, ataukah ada hal yang lain. Dan dia hanya menjawab kalau dia sedang sibuk dan banyak pekerjaan di kantornya. Sangat klise sekali menurutku.

Aku tak pernah berfikir kalau dia akan berubah seperti ini. Berubah menjadi pria yang cuek. Berubah menjadi pria yang tak peduli. Berubah menjadi pria yang akhirnya mengubah senyumku menjadi tetesan air mata. Aku merindukannya yang dulu. Aku merindukan saat dia menanyakan kabarku, saat dia memperhatikanku, saat dia mencoba meluluhkan hatiku ketika aku mulai marah padanya. Aku teringat saat dia berkata kalau dia tak akan meninggalkanku. Aku teringat saat dia berkata hubungan kami spesial dan aku adalah wanita istimewa dalam hatinya. Aku teringat semua kata-kata manisnya dulu. Aku teringat semua pernyataan manisnya itu. Tapi, sepertinya pernyataan manis itu kini berubah terbalik karena sikap acuh tak acuhnya padaku. Pernyataan itu berubah menjadi pertanyaan apakah benar aku ini istimewa dan hubungan ini spesial? Apakah benar dia tak akan meninggalkan aku? Apakah benar semua pernyataan itu berasal dari hatinya? Ingatkah dia akan semuanya itu?

Aku masih terus bertahan dengannya. Bertahan karena aku bukan hanya ingin menjadi seorang yang istimewa saja baginya. Aku bertahan karena aku ingin menjadi sahabatnya, menjadi temannya, menjadi telinganya, menjadi semangatnya dan menjadi tempatnya untuk berbagi susah dan senang. Aku masih akan menjadikan dia sebagai orang yang istimewa dan menjadikan hubungan ini spesial meski kini sikapnya tak seperti dulu. Aku masih sering mengucapkan selamat pagi padanya, aku masih selalu mengucapkan selamat malam padanya, aku masih terus menanyakan bagaimana kabarnya, bagaimana dengan pekerjaanya, bagaimana dengan tugas kuliah, dan lain-lain meski balasan yang ku dapat jauh dari yang aku harapkan. Tak mengapa, karena aku percaya kalau suatu saat nanti dia akan kembali menjadi sosok pria kebanggaanku.

Tapi, tiba-tiba suatu ketika dia mengirimkan pesan singkat yang sangat membuatku kaget. Dalam pesannya dia berkata kalau dia tak sebaik yang kufikirkan. Dia tak bisa membalas dan mengimbangi perasaanku. Aku bingung apa maksudnya. Tak bisa membalas dan mengimbangi perasaanku? Lalu selama ini dia menganggap kalau hubungan ini tak berarti apa-apa. Setiap kata manisnya adalah jebakan dan lelucon yang membuatku termakan kepalsuan dan kebodohan mengatasnamakan hubungan spesial dan istimewa. Dia memainkan perasaanku seenaknya. Dia menjatuhkanku tepat sekali kedasar bumi yang paling dalam. Dia menusukku dengan kalimatnya yang membuat tangisku pecah. Dia membuat duniaku gelap dan hilang seketika. Senyum kebahagiaan seketika memudar berganti menjadi kemurungan dan kemuraman yang sama sekali tak pernah kubayangkan kalau dia akan tega melakukan hal jahat seperti itu terhadapku, tehadap perasaanku, terhadap hatiku. Dia menjeratku didalam rasa kenyamanan yang tak pernah aku bayangkan. Dia merubah sikap cuek ku menjadi sosok yang cengeng. Dia menjadikanku seperti alat yang hanya dia cari disaat dia butuhkan.

Aku mencintainya. Perasaanku masih tetap sama. Tapi, apa dia mencintaiku juga? Ah..pertanyaan bodoh. Jelas saja jawabannya tidak. Apa dia pernah ingat sema kejadian yang pernah kita lakukan? Ah..pasti juga tidak akan ingat. Bodoh. Sudah terlihat dari sikap cuek, acuh tak acuh, dan pesan singkatnya yang membunuh. Kini apalagi yang kuharapkan? Seharusnya aku tahu kalau selama ini perubahan sikapnya adalah caranya untuk menjauhiku secara perlahan.

Seiring berjalannya waktu aku mengerti tentang semuanya. Tentang perubahannya, tentang siapa dirinya, tentang setiap sikapnya. Awalnya aku mempermasalahkan semuanya. Jujur, aku kecewa padanya. Sangat. Masih terngiang jelas semua hari-hari yang kita lalui. Setiap kata manis dan lembutnya masih asyik bermain ria berputar manja dipikiranku. Semua tutur bahasa serta perhatiannya masih sangat terekam jelas dalam ingatan. Semuanya. Semuanya dari awal hingga saat ini. Semuanya masih tersusun sangat rapi dalam memoriku.

Aku tak akan pernah melupakannya. Setiap kebaikannya, setiap kelembutannya, setiap senyum dan semangat yang dia berikan akan selalu aku ingat. Setiap pemberiannya pun akan selalu aku simpan dan aku jaga dengan baik. Kalau suatu saat nanti dia memiliki wanita istimewa yang baru serta menjalani hubungan spesial dengan wanita lain, aku merelakannya. Aku akan belajar menghilangkan sedikit rasaku terhadapnya. Tugasku hanya menemani dan memberi semangat untuk kesuksesannya. Lalu setelah itu, dialah yang menentukan dengan siapa dia akan menikmati kesuksesannya.

Rabu, 28 Mei 2014

Perbincangan Tengah Malam


Malam ini entah mengapa gua ngerasa hati gua ada beban yang mengganjal. Gua curhat sana-sini sama sahabat gua tapi gua belum menemukan saran dan masukan yang tepat untuk masalah gua. Dan akhirnya gua putuskan untuk bercerita pada seseorang yang kerap kali gua panggil Mas Kolplak. Syukurlah Mas Koplak mau memberi telinganya untuk gua. Dan akhirnya Mas Koplaklah yang setia jadi telinga gua hingga larut malam. Gua bercerita ini itu sama Mas Koplak tentang gua dan lo, yang dulu ngewarnain hari-hari gua pake senyuman manis lo.

Gua : Mas, kok sekarang gua males banget lihat teman lo. Gua kesal kalau lihat dia. Ahh.. gua takut, Mas L
Mas : Siapa itu? Loh.. kenapa memang?
Gua : Temen lo si pendekar mungil itu. Belakangan ini gua kesal setiap lihat dia..
Mas : Memang dia ngapain, kok bisa sampai bikin lo kesal?
Gua : Gua bingung, Mas.. Tapi, setiap gua lihat dia gua kesal, Mas
Mas : Haduh.. yang lo tau selama ini dia ada niat buat ngehindarin lo enggak?
Gua : Enggak tau deh Mas kalo itu. Gua sih takut kalau gua sampai ilfeel sama dia. Gua enggak mau sampai begitu Mas, tapi temen lo udah buat itu.
Mas : Kenapa bisa ilfeel? Alasannya apa? Kalau ilfeel pasti ada alasannya kan? Dan yang jelas lo bersikap biasa aja, dia juga pasti bakal biasa lagi kok..
Gua : Biar alasannya gua aja yang tau. Gua biasa aja kok, Mas. Tapi gua enggak bisa biasa kalau lihat dia.
Mas : Jangan sampai lo ilfeel tanpa adanya alasan. Kalau menurut gua dia itu lagi bosan sama dunianya yang biasa. Cepat atau lambat semua pasti bakal kayak biasa lagi kok..
Gua : Iya, Mas. Gua mau semuanya baik-baik aja. Tapi buat sekarang gua masih belum bisa lihat dia dengan sikapnya yang seperti itu..
Mas : Masa lalu itu buat pelajaran bukan buat disesali. Memang dia seberubah apa sih?
Gua : Pelajaran yang bikin gua harus bisa semangatin diri gua sendiri. Entahlah, Mas. Mungkin karena gua terlalu perasa makanya gua ngerasa dia berubah. Sedikit hal yang gua enggak suka dari dia pasti bikin gua kesal dan bete lihat dia..
Mas : Iya..iya.. Ohya, satu lagi nih, jangan suka berlebihan. Pemujaan berlebih itu enggak bagus.
Gua : Gua tahu itu kok, Mas. Manusiawi toh kalau kita lagi dilanda galau. Nanti kalau sadar juga pasti engga begitu. Maklumlah Mas, gua lagi berada di posisi buruk :’)
Mas : Tuh kan.. berlebihan sih.. Jadi, ujung-ujungnya ada sesuatu yang hilang dari diri lo. Tapi lo enggak berusaha buat ngebalikin itu. Lo cuma terus ikutin arus. Enggak berusaha buat meraih tepian supaya lo enggak makin jauh keseret arus. Akhirnya ketika lo sadar , lo bakal menertawakan diri lo sendiri yang udah hanyut berkepanjangan dalam pesona seseorag yang buat hidup lo datar dan hilang semangat.
Gua : Iya mas, gua lemah. Gua lemah banget buat bisa perbaikin semuanya. Bahkan gua kehilangan diri gua. Dulu gua enggak kayak begini dan belum pernah juga seperti ini. Ini kali pertama dan semuanya hilang enggak jelas. Gua butuh seseorang yang bisa semangatin gua dan tarik gua lagi buat lepas dari arus ini.
Mas : Tuh kan, sampai kayak begitu. Merugikan diri sendiri. Tapi manusia memang selalu seperti itu. Menyiksa dirinya untuk hal-hal yang menurut dia wajar tapi ternyata aneh buat orang lain. Kenapa lo enggak mencoba mencari orang yang bisa membuat diri lo balik seperti dulu. Lo pernah bayangin enggak, ketika orang yang lo kagumi itu udah punya penyemangat baru dan dia udah asik dengan dunia barunya, sedangkan lo masih berputar didunia orang itu yang udah enggak peduli sama lo? Apa lo pernah mikir kesitu? Siapa yang kasian?
Gua : Ahhh.. Mas, kali ini lo bikin gua merasa jadi orang bodoh (seketika gua nangis). Dulu penyemangat gua itu teman lo. Tapi sekarang dia pergi dan gua belum bisa nyari orang lain. Gua tahu berputar ditempat itu menyikasa. Sangat! Tapi berteori memang selalu mudah kan dari pada mempraktekkannya? L
Mas : Sudah enggak usah nangis. Itu semua terserah lo. Lo sutradaranya dan lo juga yang bisa nentuin bagaimana endingnya. Gua cuma kasih saran barangkali berguna. Dan lo benar, gua nulis panjang lebar seperti ini belum tentu gua bisa menjalani apa yang gua bilang. Tapi kita manusia, dan inilah manusia berusaha untuk saling menguatkan, mengingatkan, kasih kritik dan saran.
Gua : Hmm.. Lo bisa bayangin enggak, gimana rasanya dibanggain dan dibuat melayang dengan sejuta perhatian tapi seketika dijatuhin gitu aja. Brukk..sakit, Mas!! Satu semester gua hilang cuma buat merangkai puzzle hati yang sudah gua susun dengan rapih tapi akhirnya jatuh, pecah dan berantakan. Gua lemah dikisah ini, Mas. Lemah banget. Gua bukan salah satu orang yang mudah merasa nyaman kemudian jatuh cinta. Tapi gua merasakan hal yang berbeda terhadap teman lo itu. Gua bersyukur bisa kenal sama teman lo. Gua bersyukur bisa sempat dekat dengan teman lo walau sesaat. Tapi, saat ini gua mau lepas dan bebas dari itu semua. Dari ikatan teman lo itu.
Mas : Oke, gua ngerti. Enggak ada yang sia-sia dari kisah lo ini. Lo bisa belajar banyak dari ini semua. Ini cuma masalah waktu, dan lo akan bebas pada waktu yang tepat J
Gua : Yes.. I hope that!!! Gua mau balik seperti gua yang dulu sebelum gua kenal dengan teman lo.
Mas : Enggak ada yang perlu dirubah dari diri lo. Cukup cara pandang dan pola pikir lo aja dan itu akan merubah semuanya kejalan yang baik tentunya J
Gua : Iya, Mas  J Thankyou so much buat malam ini. Setidaknya beban gua berkurang. Terimakasih sudah setia menjadi telinga yang baik buat gua malam ini.
Mas : Iya sama-sama.. gua selalu siap membantu J
Gua : Oke. Tunggu cerita gua lain kali ya, Mas. Gua bakal ceritain kenikmatan bebas lepas dari dia.
Mas : iya siip!!! Gua tunggu next episodenya. Semangat terus !!!! J

Dari perbincangan tengah malam dalam pesan singkat dengan Mas Koplak, gua dikuatkan dan gua ambil keputusan untuk belajar melupakan lo. Gua tahu ini bukan suatu hal yang mudah dan sangat tidak gampang untuk melakukannya. Tapi gua mau bangkit dan lepas dari semua keterikatan itu.

Kemarin tepat tiga bulan tanpa lo. Cukup dengan tiga bulan gua berputar diam disatu titik yang belum  gua temukan jalan keluarnya. Tapi, kali ini gua menemukannya. Dan kali ini gua merelakan lo pergi dengan dunia yang lo pilih. Gua melepaskan lo dan sejuta kenangan singkat kita yang indah. Gua merelakan lo berkelana mencari Tuan Putri yang baru untuk menempati ruangan hati lo yang kosong. Dan gua merelakan senyum manis lo pergi dari hari-hari gua.

Tapi tenang saja. boneka Tazmania, gantungan Tazmania serta pulpen orange pemberian lo akan selalu gua simpan dengan baik. Maaf, bukan maksud untuk melupakan. Tapi hanya ingin menghilangkan rasa.
Terimakasih sudah bersedia menikmati hari bersama gua walau sesaat. Terimakasih telah menjadi bagian teristimewa dalam haidup gua walau sesaat. Terimakasih buat sejuta perhatian dan pengertiannya selama kita bersama. Dan terimakasih buat senyum manis lo selama ini yang telah buat gua jatuh cinta terhadap lo.

Selamat tinggal kenangan manis. Selamat tinggal senyum manis. Selamat tinggal pelangi. Selamat tinggal Guardian Angel. Selamat tinggal lelaki mungil. Selamat tinggal Unyunk!!!

Selasa, 29 April 2014

Tinggal Kenangan


Terimakasih atas rasa sakit yang kau berikan. Karena rasa sakit itulah aku mampu menuliskan deretan kalimat ini dengan airmata yang menitih jatuh tanpa bisa kuhentikan.

Kembali  ke lima bulan lalu. Rasanya semua terjadi begitu sangat cepat, kita berkenalan dan tanpa kita sadari tiba-tiba kita merasakan perasaan yang aneh. Perasaan nyaman diluar batas yang tak mampu kita kendalikan. Setiap hari rasanya berbeda dan tak lagi sama. Kamu hadir membawa banyak perubahan dalam hari-hariku. Hitam dan putih menjadi lebih berwarna ketika sosokmu hadir mengisi kekosongan dalam hari-hariku. Karena itulah aku menyebutmu pelangiku.
Tak ada percakapan yang biasa, seakan-akan semua terasa begitu ajaib dan luar biasa. Entahlah, perasaan ini timbul dan tumbuh tanpa batas yang bisa ku kendalikan. Aku takut kehilanganmu. Aku merasa tersiksa saat tubuhmu tidak berada disampingku. Kamu seperti mengendalikan otak dan hatiku. Salahkah jika kamu masih menjadi nomor satu dihatiku? Tapi.. entah mengapa sikapmu tidak sama seperti sikapku. Perhatianmu tidak sedalam perhatianku. Tatapan matamu pun tak setajam tatapan mataku. Apakah kamu tak merasakan seperti hal yang aku rasakan?
Kamu mungkin belum terlalu paham dengan perasaanku, karena kamu memang tak pernah sibuk memikirkan perasaanku. Salahkah jika aku masih sering menjatuhkan airmata untukmu? Aku kehilangan kamu, dan kamu pergi tanpa meminta izin. Minta izin? Memangnya aku siapa? Kekasihmu? Bodoh!! Hadir dalam mimpimu saja aku sudah bersyukur. Apalagi bisa menjadi milikmu seutuhnya. Apa mungkin? Aku tak kuasa memikirkannya.
Ucapan manismu terlalu banyak hingga aku kebingungan kapan waktu yang tepat untuk menagihnya. Begitu sering kamu menyakitiku, tapi selalu kumaafkan. Lihatlah aku yang hanya bisa mentapmu dari kejauhan. Mencuri keindahan senyummu dari balik sorot mataku yang malu-malu. Seberapa tidak pentingnyakah aku sekarang? Apakah aku hanya persinggahan yang tak ada artinya hingga seenaknya begitu saja kau abaikan?
Apa aku tak berharga dimatamu? Dimana kamu yang dulu? Dimana letak kepedulianmu yang dulu? Aku tak bisa bicara banyak. Aku tak kuasa terus berbicara tentang cinta jika kau terus tulikan telinga dan membekukan hatimu. Aku tak kuasa berkata rindu jika kau terus menjauh dan semakin menjauhiku secara perlahan. Aku tak bisa apa-apa selain memandangmu dari kejauhan dan menyelipkan namamu dalam percakapanku dengan Tuhan.
Bodoh! Seharusnya aku sadar kalau aku bukan siapa-siapa dimatamu dan tak akan pernah menjadi siapa-siapa. Jujur  aku ingin tahu, sebenarnya dimanakah kau letakkan hatiku yang selama ini kuberikan padamu? Tapi aku yakin kau pasti tak akan menjawabnya karena sejauh yang kutahu kau memang tak pernah peduli dengan perasaanku. Dengan setiap kata cintaku. Kau memang sangat tidak peduli. Lalu, siapakah kini wanita yang beruntung mendapatkan perhatian lebih darimu? Wanita manakah dia dan seperti apakah dia? Rasa penasaranku membuncah hebat saat kulihat matamu berkata lain waktu kau menatap wanita itu. Benarkah wanita itu? Ah.. aku berharap ini hanya mimpi buruk dan aku segera bangun dari lelapnya.
Mungkin semua memang salahku. Menganggap semua berubah sesuai keinginanku. Bermimpi kau akan menjadi sosok yang lebih dari sekedar teman. Salahkah jika perasaanku bertumbuh secepat ini? Aku mencintaimu tidak hanya sebagai teman tetapi sebagi seseorang yang bernilai dalam hatiku. Namun semua jauh dari harapanku selama ini. Mungkn memang aku yang terlalu banyak berharap. Aku yang tak menyadari siapa diriku dan tak menyadari apa posisiku. Aku sangat lemah mengartikan semua perhatianmu selama ini adalah tanda cinta.
Tapi tenanglah, aku sudah terbiasa tersakiti meski ini adalah pertama kalinya aku merasakan sakit yang sangat dalam. Kau campakkan aku disaat aku benar-benar menaruh perhatian penuh padamu. Kau abaikan aku saat aku benar-benar membutuhkanmu sebagai penyemangatku. Tapi sudahlah tak perlu memperhatikanku lagi. Aku bisa sendiri, meski sebenarnya aku sedang belajar untuk mandiri tanpamu. Dan kamu pasti tak sadar bahwa aku berbohong jika aku dengan mudah mampu melupakanmu.
Pergilah. Aku tak ingin lagi berhubungan dengan sakit yang pernah kau goreskan. Aku hanya ingin dekat-dekat dengan kesepian karena disanalah lukaku terobati. Disanalah aku hidup dalam kesendirianku dan mencoba perlahan untuk merapikan setiap kepingan hatiku yang pecah berantakan karenamu.

Jumat, 18 April 2014

Selamat Ulang Tahun, PAPA


Aku tahu kau tak akan mungkin membaca coretan tanganku ini. Dengan segala upaya dan dayaku, aku juga tak akan mampu membuatmu untuk membaca tulisan ini. Tulisan ini dibuat oleh seorang gadis pengagummu nomor satu, barisan kalimat ini diutarakan oleh seorang gadis yang selalu memujamu. Dalam tulisanku, aku mengundangmu masuk dan menjelma sebagai topik terindah yang ingin kuperbincangkan sosoknya. Aku membiarkanmu abadi dalam setiap abjad dan kalimat-kalimat sederhana yang ingin kurangkai.

Senyummu membawa sesuatu yang berbeda dalam hari-hariku. Semangatmu memberi suatu hal magis yang mengajarkanku untuk selalu berjuang melawan hidup yang sulit. Kamu selalu mampu menjelma sebagai sosok yang sangat penting, yang tak ingin kulewati setiap tawa lembutnya. Aku meletakkan perhatianku sepenuhnya untukmu dan kamu selalu mampu merenggut rasa kepedulianku. Kutunggu kamu disetiap momen makan malam kita. Kunikmati setiap caramu berkomentar tentang hal yang tak pernah ku sadari. Kamu adalah sosok yang hangat, yang tak pernah pergi dari hati.

Ketahuilah, kau sudah menjadi segalanya dihatiku. Aku tak pernah ingin melihat lekuk senyummu memudar, aku tak pernah ingin melihat guratan wajah manismu membeku. Kamu begitu istimewa dan indah dalam setiap hari-hariku. Aku selalu ingin menikmati senyummu serta sapaan hangatmu setiap hari. Aku selalu ingin menikmati sentuhan lembut jemarimu saat kau membelai lembut rambutku, aku selalu  menikmati  keisenganmu saat kau bertanya tentang siapa pria yang mengisi hariku selain dirimu. Aku selalu menikmati setiap hal kebersamaan kita saat malam hari kita berebut menghabiskan makanan ringan kesukaan kita. Sungguh, aku sangat menikmati kehadiranmu.

Setiap malam kureka wajahmu dalam bayangan nyataku. Kamu selalu menjadi sosok magis yang tak pernah kehabisan cara memperhatikanku dalam diammu. Kamu selalu menjadi sosok terhebat dalam duniaku. Kamu selalu menjadi sosok terpenting yang tak pernah pudar saat menaburkan senyum untukku. Aku mengagumimu. Aku mencintaimu.

Terimakasih karena engkau sudah menjadi seorang Papa yang begitu luar biasa. Engkau baik hati, penuh hormat, dan mempunyai rasa humor yang luar biasa. Engkau membuatku kagum karena kebijaksanaanmu, wawasan serta kewibawaanmu. Aku selalu menghargai setiap saat yang kita habiskan bersama. Engkau memberikan dampak yang sangat berarti dalam keluarga dan duniaku. Tetaplah menjadi yang istimewa dibalik sosokmu yang sederhana. Aku bangga memanggilmu PAPA.

Salam hangat,
 Putri Tunggalmu

Selasa, 08 April 2014

Masih Saja Tentang Kita


Ini bukanlah kali pertama aku duduk sendirian dan memperhatikan tulisan-tulisan di layar laptop-ku. Setiap deretan abjad yang tersusun rapih dalam rangkaian kata yang berbentuk sebaris kalimat, entah mengapa selalu ada sosokmu didalamnya, berdiam dalam tulisan yang sebenarnya enggan ku baca tapi masih sering ku perbincangkan sosoknya. Ini juga bukanlah hal yang baru bagiku, duduk berjam-jam tanpa adanya perhatian darimu melalui pesan singkat. Tentu saja kamu tak merasakan seperti apa yang kurasakan, juga tak memiliki rindu seperti yang kumiliki. Aku sengaja menyembunyikan perasaan itu, agar kita tak lagi saling menggangu. Bukankah dengan berjauhan seperti ini semua jadi terasa lebih baik? Seakan-akan aku tak pernah peduli, seakan-akan aku tak mau tahu, seakan-akan aku tak memiliki rasa perhatian, seakan-akan aku bersikap tak ada masalah. Bagiku sudah cukup seperti ini, cukup aku dan kamu, tanpa kita.
Kali ini aku tak akan bercerita tentang kesepian, atau bercerita tentang banyak hal yang sulit untuk kau pahami. Karena aku tahu kau sangat sulit untuk diajak basa-basi, apalagi jika berbicara menyangkut cinta dan perasaan. Aku tak akan membebanimu dengan cerita-cerita konyol yang tak masuk akal dan selalu kau benci. Walau hanya cerita sederhana yang mungkin tak ingin kau dengar sebagai pengantar tidurmu. Kamu tak pernah suka jika kuceritakan tentang airmata bukan? Atau bagaimana jika ku ganti airmata dengan senyum pura-pura? Tentu saja kau tak akan menggubrisnya, sejauh yang kutahu kau itu tidak peka. Dan mungkin saja sifat burukmu masih sama meski kita sudah lama tak saling bertatap mata.
Entah mengapa akhir-akhir ini sepi sekali kurasa. Aku heran, mengapa di tengah kegelapan malam masih saja aku mencoba mengingat semua hal tentang kita. Banyak sekali malam yang sudah aku dan kamu lewatkan tanpa adanya kita seperti yang dulu. Aku tahu pasti sekarang kau sudah menghapus bayanganku dari hadapan dan dari pikiranmu. Aku juga sama, tapi sampai saat ini aku belum benar-benar mampu membuang bayangmu yang masih ingin kureka senyum manisnya serta tatapan indah mata itu.
Ahh..kamu. Pria yang dulu pernah kucintai dan kukagumi (bahkan hingga saat ini), jujur aku merindukanmu. Masih kamu, dan tentu saja masih tentang kita. Aku merindukan sosok dewasa yang dulu pernah menopang dan menegakkan langkahku. Aku merindukan suaramu yang dulu menyusup lembut ke dalam telingaku. Aku merindukan sosok sederhanamu itu. Sekarang aku tahu bagaimana rasanya tidak ada kamu dalam hari-hariku. Sekarang aku tahu rasanya saat bangun pagi tak ada lagi sapaan sederhana di inbox handphoneku. Aku benar-benar kehilangan sosokmu. Aku benar-benar kehilangan kamu.
Ingin rasanya kembali ke masa lalu ketika masih ada kamu, ketia masih ada kita. Ketika aku masih bisa tersenyum saat bangun pagi hingga kembali terlelap dalam tidur malamku. Saat kamu masih menganggapku lebih dari teman, saat panggilan sayang itu masih sering kudengar, saat kehadiranmu bagai pemeran utama dalam bunga tidurku. Aku masih saja sering mengharapkan itu semua dapat kembali terulang seperti sedia kala. Ahh..tapi kamu terlalu sibuk dengan duniamu yang tak pernah bisa kumengerti. Sering kali aku memutar kembali rekaman diotakku yang berisi tentangmu, aku mencoba mengingat setiap perlakuan lembutmu terhadapku. Aku mencoba mengingat setiap kesabaranmu saat menghadapi sikap kanak-kanakku, aku mencoba mereka-reka kembali setiap ucapanmu saat menenangkan amarahku, aku mencoba mengingat semua kalimatmu yang selalu mampu menjadikanku merasa sangat berharga, aku mencoba mengulas kembali setiap usahamu agar hubungan kita bisa terus berjalan dengan baik. Bayanganmu berputar-putar dalam otakku, suaramu menusuk-nusuk di telingaku. Aku sadar bahwa belum ada yang mampu menggantikan sosokmu hingga saat ini.
Kali ini aku sama sekali tak merasakan kantuk. Kantuk ini tak berarti hingga aku mampu menulis deretan kalimat ini dan menikmati kehadiranmu lewat tulisanku. Kadang aku kesal mengapa setiap kejadian indah selalu tak bisa diputar ulang rekamannya. Aku kebingungan. Aku kewalahan. Aku butuh kamu. Aku butuh hadirmu. Aku butuh semua kata semangatmu. Aku rindu senyuman itu. Dimana kamu saat aku jatuh terpuruk? Dimana kamu saat ragaku lemah? Dimana kamu saat bebanku terasa tak mampu kupikul sendiri? Dimana kamu saat aku mulai merasa jenuh dengan semua hal disekelilingku? Mengapa kamu tak memperdulikanku seperti dulu aku memperdulikanmu. Menunggumu hingga larut malam, memberikan semangat serta motivasi padamu saat dirimu merasa terpuruk. Apa kamu sudah benar-benar tidak peduli denganku? Apa aku memang sudah tak ada artinya lagi dihatimu? Kau tahu, sejak enam minggu lalu aku mencari sosokmu yang hilang, tapi aku tidak menemukannya hingga saat ini. Aku mohon tolong selamatkan aku dari keterpurukan dan kesepianku. Aku butuh hadirmu.

Untuk seseorang yang mungkin tak akan pernah membaca tulisan ini
25112013
Aku merindukan kehadiranmu (kembali)

Selasa, 01 April 2014

Lima Minggu Tanpa Kamu


Aku tak pernah sesedih ini sebelumnya. Awalnya ku pikir waktu utuk melupakanmu tak akan selama ini. Ternyata aku salah besar, hari-hari yang kulalui tanpamu ternyata tak menemui ujung untuk benar-benar mampu merelakanmu. Kamu masih jadi segalanya, masih setia bermain ria menemani bunga tidurku, masih jadi pemeran penting dalam tulisanku dan masih jadi yang paling penting dalam hati. Maaf, jika segala kejujuranku terlihat bodoh dimatamu. Tapi begitulah adanya, dan beginilah aku dengan segala rasa yang masih kumiliki dan masih ingin ku perjuangkan akhir kebahagiaanya. Seandainya aku bisa berada disampingmu, aku ingin menceritakan betapa sulitnya melupakan dan mengikhlaskan dirimu bukanlah sesuatu hal yang mudah ku lakukan. Mungkin kamu akan tertawa dan berkata bahwa sikapku berlebihan, tapi bagiku ini adalah perjuangan yang sangat sulit ku temui akhirnya.
Sudah lima minggu, harusnya bisa menjadi waktu yang cukup untuk melupakanmu serta kenangan singkat yang pernah kita lakukan bersama. Tapi ternyata aku tidak bisa melakukan hal itu. Hari berganti hari, minggu berganti minggu namun sosokmu masih mampu menyergap perhatianku, mengalihkan setiap konsentrasiku dan masih menjadi topik terpenting yang sering ku perbincangkan dengan saahabat dan temanku serta dalam setiap tulisanku. Sampai saat ini belum kutemukan sosok yang bisa menggantikan hadirmu. Belum kutemukan bisikan selembut kamu ketika kita berbincang tentang cinta, mimpi, harapan-harapan yang dulu ingin kita wujudkan bersama.
Melupakan memang bukan hal yang mudah.  Apalagi melupakanmu. Merelakan yang pernah ada menjadi tidak ada adalah salah satu hal yang sangat sulit kupelajari. Aku lelah dengan semua ini. Perjuanganku sampai saat ini belum menunjukkan hasilnya sama sekali. Aku menulis ini ketika aku merasa lelah dihajar dan dihantui oleh kenangan. Mengapa di otakku kau tak pernah hilang walau hanya sebentar saja? Perkenalan kita terlalu singkat bila kita menyebutnya cinta, dan terlalu dalam bila kita menyebutnya ketertarikan sesaat. Rasa nyaman itu berubah wujud menjadi suatu hal yang sial, seperti yang pernah kau katakan. Mungkin menurutmu sial, tapi rasa nyaman saat itu adalah perasaan yang timbul karena perkenalan kita yang menarik hatiku dan perhatianku. Aku tak mengerti harus diberi nama apa kedekatan kita dulu. Aku juga tak mengerti mengapa aku yang tak mudah tergoda serta cuek malah begitu saja dengan mudah terjebak dalam perhatian dan tindakanmu yang berbeda.kamu memang terlihat berbeda dari pria kebanyakan. Sikap dan caramu mendekatiku begitu unik dan aku terjebak dalam kenikmatan yang kau beri.  Kamu sangat luar biasa dimataku, dulu bahkan hingga saat ini masih tetap sama.
Dan sampai saat ini aku masih menangisi dan bertanya-tanya mengapa hubungan istimewa kita harus berakhir sesingkat ini? Apa tujuanmu menyakiti dan melukaiku jika dulu kita pernah saling terikat dalam ketertarikan yang enggan terlepas. Kini aku tak tahu lagi setiap detail aktivitasmu, aku tak tahu lagi kamu sedang berbuat apa dengan siapa, bahkan hal terkecil sekalipun tak ada lagi yang kuketahui seperti dulu. Segala ketidaktahuanku mengantarkanku pada satu perasaan yang membuncah kencang, yaitu rindu. Rasa rindu yang semakin hari semakin berontak. Rindu yang memaksaku untuk kembali berdekatan denganmu. Rindu yang memaksaku untuk berani menatapmu walau hanya dari balik badanmu. Rindu ini menyiksaku, menyiksa hati dan pikiranku. Mebuat semuanya terasa aneh dan terlihat seperti permainan yang tak berakhir. Hampir gila aku dibuatnya, dibuat oleh rindu yang tak mampu kutahan setiap bisikkan lembutnya.
Kalau aku berada disampingmu sekarang, ingin rasanya aku mengulang segalanya. Ingin kehentikan waktu, ingin kuhentikan detak jarum jam. Biar yang ada hanya kamu, aku, dan kita tanpa airmata. Seandainya hal itu bisa ku lakukan mungkin sekarang aku tak akan merasakan rindu sesesak dan sedalam ini padamu. Lihatlah kita sering bertemu di kampus, bertatap muka tapi tanpa sepatah kata pun keluar. Kau terlalu asyik membagi tawamu bersama temanmu tanpa memperdulikan aku yang kewalahan menahan sesak karena rindu pada tawa dan senyummu. Aku hanya bisa menikmati senyummu dengan malu-malu karena takut terlihat kejelasan rindu yang membuncah di mataku. Tak bisakah kau berbagi sedikit kecerianmu padaku? Apa kebersamaan kita dulu hanya kau anggap permainan saja? Mengapa aku terlalu bodoh bisa dengan mudahnya tergoda dengan semua keistimewaanmu. Apa karena kau terlalu bercahaya hingga mata dan telingaku seketika menjadi tak berfungsi kegunannya.
Tolong berhenti menyiksaku dengan segala macam rindu dan kenangan yang tak mungkin kembali. Aku lelah dengan semua ini, aku lelah hanya bisa melamunkanmu dalam khayalan belaka yang ketika ku sadar aku hanya bisa menangis dan meratapi nasib cintaku. Ah.. sudahlah, aku hanya ingin memberitahu bahwa sudah lima minggu aku bermain dengan kesepian dan masih setia meratapi kesendirianku. Sebenarnya aku benci harus mengakui ini. Aku sering merindukanmu dan masih memendam perasaanku terhadapmu. Tersiksa dengan angan dan lamunan yang kubuat sendiri, menangis karena kebodohanku sendiri. Aku ingin mengaku bahwa aku masih mencintaimu dan masih berharap kamu akan kembali walau untuk menenangkanku dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Maaf, aku masih merindukanmu!!!                              

Senin, 24 Maret 2014

Andai aku bisa memutar waktu..

Di tengah malam yang sepi ini dengan buku yang berserakan, tulisan yang belum terselesaikan dan puisi-puisi karanganku yang entah aku pun belum mengerti arti dan maknanya, tapi diluar itu aku masih sempat memikirkanmu. Mataku yang lelah, suara detak jarum jam dan jentikan jemari di laptop-ku ternyata tak memberi pertolongan nyata apapun saat ini.
Hari ini aku melihatmu di kelas seperti biasanya, dan sampai sekarang aku masih belum berani menyapamu dengan biasa. Aku masih belum berani melihat mata itu. Gaya dan tingkah konyolmu kini membawa kesan lain dalam hari-hariku. Aku merindukan itu, aku merindukan saat kita berbicara malu-malu dan bukan berjauhan seperti ini. Hal-hal di masa lalu yang hanya bisa ku kenang. Seandainya aku bisa memutar waktu itu kembali, aku ingin mengembalikan kamu yang dulu. Tapi nyatanya hanya khayal yang kian menjauh.
Apa kamu ingin tahu kabarku? Kabar hati dan perasaanku?? Sampai saat ini aku masih sering merindukanmu, dan rasa itu hanya terobati dengan melihat isi percakapan kita dalam chat whatsap yang sering kita lakukan hingga larut malam dulu. Rasa rindu yang hanya terobati saat melihat percakapan kita empat bulan lalu, saat kau pertama kali dengan iseng menanyakan sesuatu padaku malam itu. Dan suara lembutmu di ujung telepon sana masih terngiang jelas ditelingaku, bahkan meski saat ini kita sudah tak pernah lagi menghabiskan tawa renyah bersama dalam telepon. Beberapa sahabat dan temanku bertanya mengapa sosok pria mungil, berambut cepak dan berjenggot itu selalu menjadi topik utama dalam beberapa tulisanku? Tapi aku hanya menjawab dengan senyum miris yang itu pun kubuat agar terlihat natural, dengan mata berair, dengan kata-kata seadanya rasanya ingin ku muntahkan semua bahwa sosok itu adalah kamu. Kamu, yang telah mengendap-endap dan menjelma secara magis dalam setiap tulisanku. Kamu, yang entah dengan kekuatan apa mampu membuatku terluka separah ini.
Rasanya aku ingin berteriak sekencang mungkin agar rasa yang tertahankan ini bisa terluapkan dengan bebasnya. Dan harus kau tahu, bahwa sampai sekarang aku tak bisa lupa mata itu. Mata yang pertama kali bersinar sambil menjabat tanganku. Mata yang menarikku ke dalam lembah sedalam ini, mata yang cahanyanya seharusnya empat bulan lalu ku tolak mentah-mentah.
Aku ingin tahu cara menolakmu, melupakanmu, dan meniadakan bayanganmu. Seandainya aku bisa memutar waktu, aku ingin kembali ke waktu dulu saat pertama kali aku melihatmu waktu pengambilan kaos ospek itu. Tak ada yang tahu bahwa pertama kali aku melihatmu saat pengambilan kaos ospek itu aku sudah mulai merasakan sesuatu. Aku tersihir lembut oleh senyum simpul manis itu. Bahkan kau pun tak tahu akan kejadian itu, mungkin. Tadinya ku pikir itu hanyalah ketertarikan biasa karena senyummu saat itu mampu mengalihkan pandanganku. Tak banyak berharap akan terjadi hal semanis ini. Ya.. aku menyukaimu saat pertama kali aku melihatmu, bahkan hingga saat ini. Aku tahu Tuhan pasti punya rencana terbaik dan aku tak menyesali semua. Aku tak pernah meminta dan memohon untuk bisa satu kelas denganmu apalagi untuk bisa jadi wanita istimewa dihatimu. Tapi semuanya mengalir sangat indah, perasaan ini kian datang tanpa ku mau, dan aku tak punya kuasa untuk menolaknya.
Tak banyak yang tahu bahwa aku mencintaimu. Tak banyak yang tahu bahwa air mataku masih sering  terjatuh untukmu. Semua kusimpan rapat dalam tawa palsuku, karena aku tak ingin terlihat lemah didepan  mereka, karena yang mereka tahu aku hanyalah persinggahanmu yang menjadi penghiburmu. Padahal, mereka tak tahu betapa kita pernah berjalan begitu jauh dan pernah memimpikan jika perasaan ini berakhir dalam sebuah penyatuan. Tak banyak yang tahu, dan saat ini mereka hanya bisa menertawakan kisah kita, kisah yang tak selesai dan penuh bualan omong kosong. Jika aku memang tak serius mengapa aku masih ingin memperjuangkanmu sampai saat ini? jika aku hanya main-main mengapa aku masih menangis ketika bercerita tentangmu pada sahabat dan temanku? Hatiku meringis dan tak kuasa menjawabnya.
Andai aku bisa memutar waktu, sebenarnya yang ingin aku ulang adalah masa-masa perkenalan kita, masa-masa saat kita merasakan kenyamanan yang berbeda, masa-masa saat aku dan kamu baik-baik saja. Andai aku bisa memutar waktu, aku ingin mengubah sikap-sikap burukku yang mungkin menyebabkan kamu pergi secepat ini. Andai aku bisa memutar waktu, aku ingin.... kamu kembali.
Salamku yang masih merindukanmu.

Rabu, 29 Januari 2014

Dia Lelakiku!!!


Wanita yang mapan dan elegan lebih tertarik kepada pria yang mendamaikan dari pada pria yang menggelorakan.
Pria yang mendamaikan adalah pria yang selalu bersyukur dalam segala situasi. Bukan hanya sekedar menuntut tetapi memotivasi. Mampu menjadi penolong dan bukan hanya menjadi perongrong. Begitu tampan parasnya, indah hatinya, dan cinta Tuhannya. Hidupnya sederhana namun tetap tampil menawan dan berwibawa. Dia terlihat gagah karena attitude dan kepribadiannya.
Dia sederhana namun tetap mempesona.
Dia cuek namun tetap perhatian.
Dia tegas namun tetap lemah lembut.
Dia terlihat manis karena keramahannya yang selalu terpancar.
Meski terkadang menyebalkan tetapi tetap saja menjadi sosok yang menyenangkan.
Dalam kesedihannya selalu terlihat kegagahan, kekuatan dan ketabahannya.
Dia tampan dan berwibawa dengan hati yang elegan.
Dia tidak banyak bicara tetapi hebat dalam bermusyawarah.
Dia tidak banyak berjanji tetapi hebat dalam bertindak.
Dia istimewa dan spesial karena sikapnya yang unik.
Dia tidak seperti berlian tetapi tetap terlihat indah karena senyumnya.

Dia pelangiku..
Dia malaikat penjagaku..
Dia kebanggaanku..
Dia tampanku..
Dia senyumku..
Dia motivasiku..
Dia semangatku..
Dia topik terindah dalam setiap tulisanku..
Dia pemeran utama dalam bunga tidurku..
Dia lelakiku!!!