Selasa, 08 Desember 2015

Senja, aku rindu


Ini jentikan jemariku yang kelima tentang kamu. Berbeda dengan tulisanku sebelumnya kali ini dengan kondisi rindu yang menyiksa, aku menulis deretan kalimat ini ditengah kesibukan dan tugas kuliahku yang menumpuk. Mengendap-endap aku telusuri kenangan kita, tersenyum kecil walau hatiku menyimpan tangis. Ada rasa gemetar yang menyiksa hati. Namun tetap saja kunikmati sambil menahan sakitnya.

Dia. Sebut saja dia senja. Gelap, dingin, dan mempesona. Ini gila, diluar logika. Tapi aku suka.

Sudah lama aku menyimpannya, tapi dengan kenyataan yang sama, aku tidak pernah berani untuk menunjukannya. Aku memilih diam dan menatapmu dari sini, jarak dan tempat yang tak akan pernah kamu ketahui. Apa perasaan cinta harus ditunjukkan? Apakah perasaan rindu yang tersimpan ini harus meluap dan menggenang? Menghujani hadirnya yang selalu membawa kemarau dalam hati? Atau hanya untuk sekadar membanjiri perasaan yang selalu kering?
 
Aku kunang-kunang dan dia senja. Aku terang, dia gelap. Aku hangat, dia dingin. Aku terlena, dia mempesona. Aku diam, dia bisu. Aku tanda tanya, dia jawabnya.
 
Dadaku semakin sesak, aku tak mampu lagi memendam bahkan menahannya sekalipun. Jemariku gemetar, mataku mengeluarkan bulir lembutnya. Entah kali keberapa rindu ini menyelinap, berharap dapat segera tersampaikan pada senja secara langsung. Rindu ini menyiksa dan dengan cara apa aku menyampaikannya. Aku seperti kehabisan cara tersirat untuk menyampaikannya.

Rindu, sampaikan pada senja bahwa ada kunang-kunang yang ingin menerangi gelapnya. Sampaikan pada senja bahwa ada kunang-kunang yang terlena akan pesonanya. Sampaikan pada senja bahwa ada kunang-kunang yang hingga terangnya meredup tapi dia masih ingin menjadi sesuatu yang akan senja suka, senja tahu, dan senja cinta.

Kau tahu aku begitu menyukai senja. Kau tahu aku sempat memimpikan bisa melihat senja bersamamu. Tapi sampai saat ini belum sempat mimpi itu diwujudkan karena perpisahan tergesa-gesa menjalankan tugasnya, untuk membuat aku dan kamu seakan-akan tak pernah saling kenal.
  
Dan, senja. Apa kabarmu? Bagaimana denganmu sekarang?
Aku hanya bisa memperhatikanmu dari sini. Memperhatikanmu dari jauh dengan caraku.
Hey, Senja. Bisakah kita sempatkan waktu satu hari untuk melihat senja? Walau rasanya sulit untuk diwujudkan tapi aku tak bisa tipu diri bahwa aku mengharapkan itu terwujud.

Dan maaf karena aku tak mampu memberi keindahan dalam hidupmu. Maaf, karena kubiarkan kamu memasuki hidupku. Harusnya ku akhiri segalanya, ketika kubiarkan kamu memasuki hidupku. Jadi, tak pernah ada kita dalam dongeng sebelum tidur ataupun sejarah yang tak dibukukan.

13 September, ponselmu dan ponselku jadi saksi dua hati menjadi satu melebur dalam perbedaan. Kamu pria yang sempat menjadi senja dan malamku, pria yang menjadi teman begadangku, si perut buncit yang pernah menjelma menjadi tangis dan tawaku.

Senja, maaf aku rindu.

Selasa, 17 November 2015

HUJAN


Lagi-lagi hujan turun. Entah mengapa belakangan ini hujan sering sekali turun. Dan aku selalu menyukai runtuhan air yang jatuh dari langit itu. Setiap hujan turun selalu mampu membuatku kembali teringat akan sore itu. Saat keindahan senja dibaluri dengan air menari dengan indahnya. Saat senja mulai menampakkan kemegahannya dengan bulir gemericik dari langit. Saat sore dan hujan meyatu dengan senja yang menawan.

Sore itu kita memiliki janji dengan teman-teman satu kelas untuk menghabiskan malam pertama di tahun baru bersama. Tapi sayangnya, sore itu hujan turun, turun dengan derasnya.

“Kamu dimana? Hujan nih,” katamu dalam pesan singkat
“Aku dirumah sepupuku. Tunggu hujannya berhenti aja baru kamu jemput aku,” balasku
“Oke. Ini aku udah di pom bensin lagi neduh dulu,” balas kamu lagi
“Yaudah tunggu sebentar lagi aja ya,” jawabku

Hujan masih saja mengguyur bumi dengan derasnya. Semakin deras hingga aku mulai khawatir dengan semua rancana yang sudah tersusun rapih. Aku takut hujan tak kunjung berhenti dan menggagalkan semua rencana serta acara kita. Aku takut semua khayalan kesenangan kita yang sudah tersusun rapih akan jatuh berantakan. Sungguh, halangan yang tak aku suka. Karena hujan semua acara diundur dan karena hujan jam pertemuanku denganmu pun diundur.

Tapi, tidak lama kemudian hujan mulai reda menjadi tetesan air yang masih menari dengan indah dan sangat lembut. Hujan lebat kini berubah wujud hanya tinggal gerimis gemericik lembut.

“Hujannya udah berhenti nih. Aku jemput sekarang ya?,” tanyamu dalam pesan singkat  beberapa saat kemudian
“Tunggu sebentar lagi deh, ini masih gerimis. Nanti aku enggak diizinin pergi sama Papa kalau masih hujan begini,”
“Tapi kita harus kerumah Desva dulu. Makanya berangkat sekarang biar enggak terlalu sore,” balas Wira. Kami  memang akan pergi kerumah Desva untuk minta izin pada orangtuanya. Teman satu kelas kami.
“Tapi enggak bisa kalau sekarang. Ini masih hujan, Wira” balasku sedikit sewot
“Hmm.. Desva udah nungguin kita dari tadi, Joy”
“Yaudah kamu berangkat duluan aja sana. Aku enggak usah ikut juga engga apa-apa kok,” aku balas pesan Wira makin sewot
“Loh kok kamu jadi begitu sih? Iya maaf. Yasudah kita tunggu hujannya sampai berhenti,” Wira menenangkan. Wira memang selalu saja mengalah saat aku mulai bad mood atau mulai terlihat ngambek.
“Lagian kalau berangkat sekarang aku takut diomelin sama Papa. Aku takut malah jadi enggak diizinin untuk pergi kalau masih hujan seperti ini. Tunggu sebentar lagi ya, biar aku coba bilang sama Papa,” jelasku pada Wira.

Karena saat itu aku dan Papa sedang berkunjung  kerumah Sepupuku. Papa tidak tahu kalau aku akan dijemput oleh Wira, teman sekelasku yang kini sedang dekat denganku.  Maka dari itu, aku tak ingin pergi meskipun hujan sudah berhenti dan menjadi gerimis. Aku ingin pergi sampai hujan benar-benar berhenti dan aku akan menunggu Wira menjemputku di gerbang komplek perumahan Sepupuku. Kalau hujan masih turun aku takut Papa tidak akan memberikanku izin. Aku takut Papa menanyakan aku berangkat dengan siapa atau aku akan pulang jam berapa atau aku akan mengadakan acara apa dan masih banyak lagi tentang ini itu. Karena Papa memang sedikit over protective padaku, apalagi kalau dia tahu mengenai laki-laki yang sedang dekat denganku. Bisa kewalahan aku menjelaskannya. Karena Papa masih menganggapku sebgai gadis kecilnya.

“Loh kenapa? Kamu belum izin emangnya?,” tanya Wira
“Sudah kok. Tapi hanya sama Mama, kalau sama Papa aku bilang ingin main sebentar saja,” balasku
“Sini biar aku yang izin sama Papa kamu yaa,” balas Wira lagi
“Enggak usah. Biar nanti kita ketemu digerbang perumahan aja. Aku tunggu kamu disana. Ini aku berangkat kesana sekarang,” balasku
“Kamu yakin aku enggak perlu izin ke Papa?,” lagi-lagi Wira menawarkan
“Udah enggak perlu. Sekarang kamu cepat jemput aku. Aku mau jalan nih,” balasku

Lalu aku pergi minta izin pada Papa. Ku bilang temanku sudah menungguku digerbang perumahan. Karena dia tidak tahu rumah Sepupuku jadinya aku suruh dia untuk menjemputku di gerbang saja. Alasan yang sangat klise.

Setelah berusaha minta izin dengan alasan yang sebenarnya sungguh tidak pantas dijadikan alasan. Aku pergi ke gerbang komplek perumahan. Sebenarnya, rumah sepupuku tidak jauh dari gerbang. Aku teriak dan melambaikan tangan saja pasti Wira akan melihatku dari gerbang perumahan. Tapi demi tidak ketahuan Papa aku pun melakukan hal itu, menunggu Wira di gerbang komplek perumahan.

Dengan diantar Sepupuku ke gerbang perumahan lagi-lagi dengan alasan untuk memayungiku, aku pun pergi ke gerbang dan menemui Wira. Sepupuku sudah kenal dengan Wira walau hanya dari ceritaku dan dari foto saja. Tapi dengan begitu aku tidak takut lagi kalau dia keceplosan bercerita pada Papa.

Tak lama kemudian Wira datang. Sore itu Wira mengenakan jaketnya yang berwarna biru, celana putih panjang dengan tas kecil yang diselempangkan dibahunya serta sendal gunungnya yang berwarna hitam. Aku selalu suka melihat style sederhananya. Kesederhanaannya itulah yang membuatku jatuh cinta padanya.

“Hay, maaf lama ya? Yuk langsung berangkat,” sapa Wira saat dia tiba di gerbang.
“Enggak kok. Aku juga baru aja nyampe disini,” jawabku lalu naik ke motor Wira kami pun langsung berangkat meninggalkan tempat itu serta sepupuku yang berjalan pulang kerumah.
“Di pake helmnya yaa,” suruh Wira. Wira tahu kalau aku tidak suka menggunakan helm. Ribet.
Aku hanya tersenyum dan mengenakan helm Sepupuku yang ku pinjam.
“Kamu kok pake sweater yang itu sih? Kenapa enggak pake yang lain aja?,” kata Wira kembali sambil mengendarai motornya
“Iya nih, tadi kan aku kira enggak akan hujan, makanya aku pakai yang ini aja” jawabku.

Saat itu aku mengenakan sweater rajutanku berwarna biru muda serta baju berbahan chifon yang tipis. Dan mengenakan jeans panjang serta sepatu flat berwarna coklat.

“Berhenti dulu ya, kamu pakai jaket aku”
“Ah, engga usah Wir, aku gak apa-apa kok”
“Yasudah kalau begitu berarti kamu pakai jas hujan aku aja ya”
“Udah aku engga apa-apa kok. Lagian juga kan Cuma gerimis dan aku udah pakai helm, kan”
“Tapi tetep aja hujan kan, Joy” suara Wira mulai meninggi
“Engga ah, aku gak mau. Aku mau menikmati hujan” gerutuku
“Yaudah deh, terserah kamu” Wira terlihat mulai sedikit marah karena aku tak mau mengenakan jas hujannya. Kami saling terdiam.

Sekitar beberapa lama setelah itu Wira kembali membuka keheningan ditengah perjalan.

“Eh, aku punya temen rumahnya daerah sini, loh” ucap Wira
“Oh ya? Temen apa? Sekolah atau kerja” tanyaku
“Temen kerja aku tapi di tempat kerja lamaku dulu. Aku pernah antar dia pulang. Seinget aku sih daerah sini” jelas Wira
“Kok dianter pulang sama kamu? Kenapa?” tanyaku kembali
“Iya ceritanya waktu itu kita habis main dari Lippo gitu”
“Dia cewek?” tanyaku
“Iya, dia cewek” jawab Wira santai
“Pacar kamu atau mantan pacar kamu?” tanyaku menyelidik
“Dibilang pacar bukan, dibilang mantan juga bukan” Wira tetap santai menjawab
“Loh kok begitu? Lalu dia siapa?” aku makin menyelidik
“Kan tadi udah aku bilang kalau dia teman kerja aku”
“Yakin cuma teman kerja?” tanyaku penasaran
“Ya engga juga. Dia sempet suka sama aku. Eh, tapi aku engga lho” Wira menjelaskan
“Noh kan, bukan Cuma teman biasa”
“Haaha. Kan tapi akunya engga suka sama dia. Lagian enggak enak pacaran satu kerjaan”
“Sekarang kan udah enggak satu kerjaan lagi. Kenapa enggak pacaran aja?”
“Kamu yakin ngomong begitu?” tanya Wira
“Lho, kenapa engga yakin?” aku balik bertanya
“Kamu mau aku pacaran sama dia?” tanya Wira lagi
“Iya. Emang kenapa? Kalau kalian sama-sama saling suka dan saling sayang, why not?”
“Tapi kan tadi aku udah bilang kalau aku enggak suka sama dia. Terus kenapa kamu suruh aku buat pacaran sama dia?” Wira mulai menyelidik
“Ya siapa tahu aja sekarang udah suka” aku mencoba menjawab dengan santai
“Oke kalau begitu. Nanti aku coba hubungin dia”
“Kamu yakin?” aku balik bertanya kaget
“Maksudnya?” Wira bertanya bingung
“Iya, kamu yakin mau hubungin dia dan mau pacaran sama dia?” nadaku mulai melemah
“Hahaha” Wira tertawa  “kan tadi kamu yang suruh aku pacaran sama dia?”
“Iya sih, tapi kaan..” aku terhenti
“Kenapa?” tanya Wira
“Engga apa-apa kok. Silahkan aja. Hehe” jawabku dengan tawa yang dibuat-buat
“Haha. Tenang aja, Joy. Aku kan sekarang sama kamu. Aku engga bakalanlah sama dia. Kan sekarang ada kamu” jelas Wira
“Kamu yakin?” tanyaku meledek
“Yakin dong. Kamu yakin engga?” Wira balik bertanya
“Hmm...,  gimana ya?”
“Oh yaudah kalau engga yakin juga engga apa-apa kok”
“Haha. Aku yakin kok kalau kamu yakin sama aku” jawabku malu-malu
“Aku punya kamu dan sekarang aku sama kamu. Jadi, ngapain mikirin oranglain. Hehe” kata Wira

Aku hanya bisa tertawa malu mendengar ucapan Wira. Semoga semua berjalan baik-baik saja dan tidak akan pernah ada yang merasa tersakiti. Meski kami sama-sama tahu kalau nanti pasti akan ada yang tersakiti. Entah aku atau Wira yang lebih dahulu.

Sejak saat itu aku menyukai hujan. Aku mengibaratkan dirinya sebagai hujan. Menyejukkan, menenangkan, lembut dan indah. Tenang, aku sudah hilangkan kamu kok. Hanya saja aku tak kan pernah berhenti menjadi penikmat hujan. Hujan selalu sederhana, hanya saja kenangannya luar biasa dan aku menyukai hujan dalam versi apapun.

Terimakasih untuk kamu, sudah berikan pengertian berbeda tentang hujan.

Jumat, 18 September 2015

Terimakasih Sudah Pulang


Cinta selalu menyimpan tanda tanya. Kadang, cinta juga bisa menjadi jawaban. Dia membisu, datang malu-malu, tanpa isyarat dan kata, tiba-tiba mengalir saja sesukanya, seenaknya. Seringkali cinta disalahartikan sebagai pembawa duka, sebagai sebab seseorang mengingat kenangan buruk karenanya, sebagai terdakwa yang menyebabkan seseorang takut akan takdirnya. Tapi bagiku cinta adalah karya Tuhan yang paling mulia, penenang dalam kerinduan, pembawa tawa dan air mata, serta pengingat rasa kehilangan. Selalu saja, sesuatu yang harus seseorang lupakan adalah sesuatu yang justru jauh tersimpan begitu dalam, kenangan akan cinta.

Seorang pria, sederhana saja. Senyumnya menyimpan banyak tanda tanya, tatapannya mengganggu laju kerja otak, dan gerak-geriknya memaksaku agar tidak melewati setiap inci perpindahannya.
Lalu, semua terjadi begitu saja. Saat sapa lembutnya menjaring nyata menyentuh gendang telinga, saat percakapan kecil yang tercipta berubah menjadi deretan narasi nyata, aku dan kamu, mengalir, begitu saja, seperti curah lembut hujan yang jatuh ke permukaaan. Sederhana sekali, cinta memang selalu menuntut kesederhanaan.

Kamu mengajariku banyak hal. Cara tertawa dalam kesedihan, cara menghargai perbedaan, cara bertahan meski sangat lelah, dan cara bermimpi walau dalam kemustahilan.

Seringkali aku menatapmu dalam-dalam, menyelami sejuk matamu, tercebur dalam hatimu, lalu terpeleset dalam aliran darahmu. Aku sangat ingin menjadi bagian dalam setiap detak jantungmu, aku ingin ikut berhembus dalam helaan nafasmu.

Sosokmu menjadi sangat penting dalam setiap bangun pagi hingga tidur malamku. Sedetik, semenit, seharian, hanya kamu saja yang begitu rajin menghampiri otakku. Aku ragu kalau kamu tak punya kerjaan lain selain mengganggu pikkiran dan imajinasiku.

Kini, cinta tak lagi menjelma menjadi sesuatu yang sederhana, tapi berangsur-angsur tingkatannya bebeda, hingga ia menjelma menjadi dua kata, luar biasa. Perasaan itu tak lagi sekedar teman biasa, tapi dia berevolusi menjadi lebih dari teman biasa.

Cinta yang awalnya menjadi peran antagonis sekarang berubah menjadi amat sangat manis. Cinta yang perlahan menikamku dengan kejutan dan keindahan yang tak bisa ku tolak kehadirannya. Kamu, yang menyusup tanpa pamit, tanpa ucapan permisi mampu membuatku membiarkanmu menempati singgasana kosong dalam hatiku.

Ah.. berdosakah aku kalau terus memikirkanmu? Hari-hari ini hanya kamu saja yang mengajariku menghargai kerasnya hidup, menghargai derasnya rindu, menghargai penantian, dan menghargai hasil dari sebuah perjuangan.

Cinta kali ini, benar-benar membawaku menyelam terbawa arus yang sangat menakjubkan. Ketika tanganku sulit sekali meraihmu, ketika kakiku mulai lelah mengejarmu, ketika mataku mulai meredup karena kelelahan menantimu, tapi tak pernah lelah mulutku menyebutkan namamu dalam setiap rapalan doaku hingga Tuhan terketuk mendengar semua keluhku.

Kamu memintaku untuk tetap berada disampingmu, entah sampai kapan. Atas dasar janji tak saling meninggalkan yang pernah kita buat, aku rela tetap berada disampingmu. Menanti kamu berani pulang, menanti kamu menjadikanku tujuan.

Tepat diminggu lalu, kamu dan aku benar-benar menghabiskan waktu bersama. Kita memulai semuanya dari pagi saat kabut kesegaran masih terlihat. Kamu datang menjemputku tepat sekali dengan waktu yang kamu katakan, 6:10 pagi.  Berangkat meninggalkan rumahku menuju rumah Tuhan, gereja, kita menyenangkan hati Tuhan bersama. Aku menari, sedang kamu memetik gitar membuat alunan nada yang indah.

Tidak terasa, waktu benar-benar bergulir dengan cepat. Ketika pagi beranjak berganti menjadi siang, kini kita sama-sama menghabiskan waktu berada di satu lapangan basket. Karena memang saat itu ada jadwal latihan basket. Aku menemanimu bermain bersama para sahabat-sahabat tercinta kita, melihatmu terpesona ketika kamu turun kelapangan dan menggiring bola besar itu. Betapa bahagianya aku, benar-benar menghabiskan sehari denganmu.

Kini siang berganti menjadi sore, ketika latihan selesai dan kamu mengantarku sampai rumah. Kamu memang pria bertanggung jawab, menepati setiap janjimu menghabiskan waktu bersamaku. Kita tertawa, saling bercerita, membagi kebahagiaan bersama. Ketika sore ingin berganti malam, kamu pamit pulang. Ah.. rasanya cepat sekali waktu berputar. Ingin sekali rasanya aku menghentikan waktu agar aku bisa lebih lama menikmati setiap lelucon yang kamu lontarkan yang selalu mampu membuat tawaku membuncah.

Malam dengan tegasnya beranjak hadir. Bahagia itu masih berlanjut ketika kamu mengajakku mengobrol melalui benda kecil yang membuat aku merasa dekat denganmu, handphone. Kamu meneleponku malam itu, kita berbincang banyak sekali. Memperbincangkan hal-hal absurd yang biasa kita lakukan. Aku senang bisa mendengar suaramu meski hanya dari ujung telepon. Kamu memang selalu memiliki cara unik untuk membuatku tersenyum. Kamu memang selalu mampu membuatku tertawa. Kamu, iya kamu pria yang aku inginkan kehadirannya untuk menemani setiap hariku.

Perbincangan kita cukuplah lama, tapi dari semuanya itu satu hal yang membuatku benar-benar bahagia. Akhirnya, kamu berani melangkah satu langkah lagi dan menjadikanku tujuan. Memang tak romantis, tapi kamu memiliki cara berbeda mengajakku mengakhiri ketidakjelasan kita selama ini. hanya dua kata “jadian yuk?” yang kamu lontarkan aku terkesima mendengarnya. Aku terdiam, entah ini lelucon atau benar pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Tapi kamu meyakinkanku bahwa pertanyaan tadi memanglah membutuhkan jawaban. Aku bahagia, kamu mengakhiri penantianku dengan sangat indah.

Sejak mengawali pagi hingga malam yang benar-benar membuatku merasa bahagia. Kamu menyempurnakan hariku dengan sangat manis. Mengajakku berhenti menanti dengan hasil yang menakjubkan. Kini kamu dan aku telah menjadi kita.

Hasian, terimakasih sudah pulang. Terimaksih sudah menjadikanku tujuanmu.
Hasian, jangan pergi lagi ya..

Minggu, 30 Agustus 2015

Adakah Pria Lain Seperti Kamu?


Kali ini aku duduk di depan laptopku mencoba untuk menulis sesuatu. Kuharap aku tak menuliskan hal tentangmu. Tapi sayangnya pikiranku dan jemariku ingin menari menuliskan tentang sosokmu. Kamu, lagi-lagi menjadi peran utama dalam tulisanku, dalam deretan kalimat yang kucoba rangkai tanpa adanya kebohongan. Saat mulut tak mampu berucap, hanya lewat tulisan aku mampu mengungkap.

Satu bulan terakhir ini kamu hadir dalam hidupku. Menjelma menjadi seorang pria sederhana yang cara bicaranya selalu membuatku bahagia. Kita bertukar sapa hingga larut malam, hingga mata lelah menatap layar benda kecil yang membuat kita merasa begitu dekat, handphone. Kita berjalan atas nama hari, membicarakan berbagai hal absurd yang entah mengapa segalanya begitu menyenangkan bagiku. Aku pernah lupa rasanya bertanya-tanya dalam hati seperti ini. Aku pernah lupa rasanya begitu bahagia hanya membaca percakapan sederhana dalam pesan singkat. Aku pernah lupa rasanya tersenyum diam-diam ketika bisa bercakap dengan seseorang yang mengerti duniaku, dunia yang tak pernah dimengerti siapapun.

Aku menyukaimu. Aku mohon maaf kalau aku terlalu lancang. Tapi, adakah yang bisa menahan diri jika kamu telah menunggu seseorang yang sangat kau ingini, lalu dia datang disaat kau sedang sendiri, disaat kau butuhkan dia didalam hari-harimu, dan disaat hatinya hampir sekarat karena terlalu sering patah. Ya, kamulah sosok itu. Pria yang hadir dalam dinginnya malam-malamku, pria yang hadir dalam gelapnya malamku, dan pria yang tiba-tiba muncul disaat hati ini gersang dan butuh hujan untuk menyiraminya.

Saat pertama kamu meberanikan diri mengirimkan pesan singkat, aku tidak pernah tahu bahwa kita akan sedekat ini. Tak pernah aku merasakan senyaman ini berbagi cerita bersama seorang pria. Pria yang mengerti leluconku, pria yang begitu menghargai isi otakku, pria yang mengerti imajinasiku, pria yang memahami apa mauku, pria yang mencoba mengalah untukku, pria yang segalanya dia lakukan yang berhasil membuatku bahagia.

Kamu adalah penyemangatku, kamu adalah dunia baruku, meski kita hanya mampu bercakap melalui pesan singkat. Namun, aku merasa bahwa kedekatan kita ini adalah rancangan Tuhan yang indah, entah dengan tujuan apa. Satu bulan ini, aku bertahan dalam posisi keetidakjelasan status yang kita jalani dan hanya bisa membayangkan betapa bahagianya jika bisa benar-benar kau jadikan aku tujuan terakhirmu. Setiap berjam-jam obrolan kita melalui pesan singkat, aku berharap bahwa kamu tidak hanya menjadikanku persinggahan sementaramu.

Tapi, kebahagiaanku berubah sejak api menyambar lembaran yang kucoba simpan rapat-rapat. Aku memang menyuruhmu mengakui dan menjelaskan semuanya pada wanitamu, tapi tak pernah terpikir bahwa akan berakhir semenyakitkan ini. Aku inginkan kamu menjadikanku tujuanmu, karena semua ucapan sayang yang kau lontarkan. Aku meyakininya bahwa itu bukan hanya bualan seorang pria tak bertanggungjawab. Aku berharap setiap kata manismu yang mebuatku bahagia bisa benar-benar terjadi. Aku penasaran, adakah pria lain seperti kamu? membuat bahagia dan sakit dalam bilangan waktu bersamaan.

Kubangun mimpi-mimpi indahku bersamamu semenjak kuceritakan kamu pada orangtuaku. Kurapalkan namamu saat malam kuhampiri Tuhan melalui doa. Kureka wajahmu agar menjadi pemeran utama dalam bunga tidurku. Ah, hasianku. Kamu begitu istimewa bagiku. Hingga kejadian menyakitkan itu membuatku menjatuhkan air mata yang pasti tak mau kau dengar ceritanya. Tapi, aku ingin ceritakan saja, karena hanya lewat tulisan aku mampu bercerita. Aku hanya dilanda cemburu yang berlebihan. Kecemburuan konyol yang seharusnya tak hadir. Aku harusnya sadar diri siapa aku dan bagaimana posisiku. Tapi, kamu membawaku pada duniamu yang menyenangkan dan selalu mampu meyakinkan aku dengan semua penjelasan sayang mu.

Aku hanya bertahan atas nama hari, semua janji manismu serta keinginan-keinginan manis yang kau bisikkan padaku. Janji tidak akan meninggalkan malam itu adalah janji terbaik yang pernah kudengar dari seorang pria. Janji bahwa kau akan membahagiakan wanita jadi-jadian sepertiku. Serta setiap keinginanmu yang ingin cepat memperjelas hubungan kita, keinginanmu untuk memperkenalkanku pada ibumu dan keinginanmu yang tak menginginkan hubungan kita pisah. Tapi, rasanya semua akan berakhir. Kau tidak akan menjadikanku tujuan dan tempatmu untuk pulang, karena nyatanya kau tak mampu dan tak berani melangkah satu langkah lagi.

Hasian, bukan aku ingin mengemis, sungguh kau tentu tahu. Aku perempuan yang takut untuk bicara. Aku hanya mampu menumpahkan semua kebahagiaan, kekesalan, kesakitanku melalui tulisan. Aku tak tahu siapa yang salah dan aku tak ingin menyalahkan siapa yang sesungguhnya harus bertanggung jawab atas semua perih yang kuterima. Tapi, aku mencoba tegar menghadapi semua ini, karena aku yang memilih membelamu habis-habisan didepan mereka, aku yang memilih masuk dalam duniamu, dan aku yang memilih mencintaimu.
Tak akan kusalahkan siapapun. Tak akan kusalahkan kamu, mereka, apalagi dia. Sebagai wanita yang tak bisa apa-apa, izinkan aku menyayangimu dan menyelipkan namamu dalam setiap rapalan doaku dengan Tuhan. Biarkan aku menjadi perempuan yang sabar menanti, meskipun kutahu hasianku sangat sulit kuajak pulang. Biarkan aku sibuk menunggu, meskipun kutahu kau sulit untuk melangkah menghampiriku. Biarkan aku jadi perindu yang sabar menanti, meskipun kutahu hasianku tidak pernah meminta untuk dinanti.

Terimakasih pria pembawa tawa. Terimakasih telah singgah. Terimakasih sudah hadir. Terimakasih sudah menjadi bagian dalam doaku. Terimakasih untuk banyak hal yang tidak cukup hanya sekedar dihargai dengan kata terimakasih.

Kalau mau pulang, pulanglah.
Aku siap membukakan pintu.
Berhentilah mencari, hasianku.
Biarkan aku menjadi tujuan terakhirmu.

Senin, 24 Agustus 2015

Perjelaslah, secepatnya!


Pertemuan kita bukanlah suatu kebetulan. Aku selalu percaya itu dan entah dengan keajaiban apa, Tuhan menyebabkan kita saling berkenalan. Perkenalan itu tak menimbulkan kesan apapun pada awalnya. Aku menganggapmu pria biasa, yang ingin berkenalan. Kamu tak pernah benar-benar tahu tentangku, seperti aku yang tak tahu apa-apa tentangmu. Kamu tak tahu siapa aku, yang kamu tahu aku hanyalah gadis yang lebih tua darimu yang wanitamu dan kawan lainnya memanggilku dengan sebutan kakak. Dan yang kau tahu pun aku hanyalah wanita biasa yang tak suka berdandan dan bersolek di depan cermin.

Hingga akhirnya kita menjalin hubungan yang sangat dekat dan kamu mengungkapkan kekagumanmu padaku. Setelah banyak bercerita melalui pesan singkat dan malam itu aku benar-benar kecewa dengan persepsimu yang salah dan aku mengajakmu untuk bertemu. Menemani aku menikmati ice cream yang kamu belikan untukku. Langit siang di hari minggu yang cerah kala itu menjadi saksi bahwa dua orang anak manusia dipertemukan semesta untuk jatuh cinta. Aku tak tahu hal ini dinamakan apa, kedekatan kita memang belum terlalu lama, namun rasanya aku selalu ingin berada di dekatmu juga disampingmu.

Kamu tak menuntutku untuk menjadi wanita yang seutuhnya bisa kau atur. Kamu memperlakukanku semanis mungkin, membuatku merasa nyaman berada disampingmu, membuatku bahagia ketika kamu dengan manis mendengarkan setiap celotehanku. Tahukah kamu, dari setiap perlakuanmu padaku itu membuat aku semakin takut kebersamaan kita tiba-tiba terbelah berantakan karena wanitamu tahu tentang kedekatan kita.
Aku tak tahu arti tatapan matamu setiap kali kamu berkata “sayang” padaku. Fakta-fakta yang tak bisa kupungkiri adalah aku cemburu. Aku cemburu setiap kali melihatmu dengan wanitamu yang kau bilang hanya teman. Tapi, apakah kedekatan kalian bisa kupercaya hanya sekedar teman? Entahlah, setiap kali aku mengingat dan memikirkannya rasanya hatiku hancur. Hancur karena aku hanya bisa menahan setiap sakitnya tanpa mampu bertindak apa-apa.

Aku tak mengerti arti kata sayang yang kau lontarkan. Aku tak tahu arti setiap kata manis dan perhatianmu padaku. Aku tak tahu arti penjelasanmu ketika kamu bercerita pada ibumu tentangku dan ibumu ingin bertemu denganku, begitupun sebaliknya kamu ingin kerumahku bertemu orangtuaku. Aku tak tahu, Hasianku. Dan kenyataan yang harus kuterima adalah nampaknya aku mulai mencintai pria Batak yang dengan cara uniknya mendekatiku. Nampaknya, aku mulai mencintai kamu.

Aku berjalan mengarungi hari bersamamu, menghadapi datang dan pergimu, bergelut dengan rindu yang mungkin tidak kau mengerti. Kamu terlalu gaib untukku, Hasian, kamu terlalu jauh untuk kugapai. Dan aku yang sedang dalam keadaan sangat berharap ini sedang ketakutan jika kau tiba-tiba pergi seakan tak pernah terjadi apapun diantara kita. Malam ini, aku sedang dalam keadaan mempertanyakan semuanya. Mempertanyakan perasaanmu padaku, mempertanyakan apa tujuan hubungan yang kita jalani selama ini, mempertanyakan semua arti dari perhatianmu, candaan, serta setiap bisikan kata sayangmu yang selalu berhasil memabukkanku.

Dalam keadaan sering kehilanganmu, aku selalu mempertanyakan apa yang Tuhan mau. Aku melihat dirimu sebagai sosok pria yang hebat, seiman, menyenangkan, humoris, dan pendengar yang baik. Kamulah pria yang kehadirannya selama ini kutunggu. Pria sepertimu yang langka bagiku, yang sangat jarang masuk kedalam hidupku. Ketika menemukanmu, aku seperti menemukan kesegaran yang menghilangkan dahagaku. Dahaga karena terlalu sering berlari dan mencari hal yang tak pasti, haus yang dihasilkan karena aku terlalu sibuk melompat dari satu hubungan ke hubungan lain, hingga aku lupa apa sebenarnya yang kucari selama ini.
Aku menatap matamu dan menyadari betapa semua ini bisa saja berakhir jika kau bosan. Aku ingin bilang padamu bahwa aku menginginkan status dan kejelasan, karena selama ini kau sudah tunjukkan dunia yang membahagiakan untukku. Tapi, setiap kali melihat matamu, setiap kali mengingat kedekatan kita yang tiba-tiba, nampaknya aku hanya sekedar persinggahan buatmu. Rasanya aku semakin merasa kecut. Aku ingin menangis dan pasti air mata ini belum tentu kau pahami.

Rasanya aku ingin memberhentikan pencarianku padamu. Rasanya aku ingin menjadikanmu sebagai akhir dari pelarianku. Rasanya aku ingin hubungan kita bisa lebih lama dari yang kita bayangkan dan kita takutkan. Rasanya aku ingin bertanya, apakah kamu mulai mencintai sosok wanita jadi-jadian sepertiku. Sosok wanita yang tak pernah mengakui bahwa diluar dia adalah wanita hebat sementara bersamamu dia merendahkan hatinya, mengecilkan egoisnya, melumat habis gengsinya, karena dia mencintai kamu. Rasanya aku ingin berkata padamu, bahwa aku menunggu kamu tak lagi menjadikanku pelarian, aku menunggumu tak lagi menjadikanku persinggahan sementara. Aku menunggumu menjadikanku tujuan, menjadikan ku tempat kau selalu pulang, menjadi peluk tempat kamu meletakkan tangis.

Jika kamu tahu wanita ini sudah tersakiti begitu parah, sudah pernah dilukai habis-habisan oleh pria lainnya, masa sih kamu tak ingin membahagiakan dia dengan memberikan dia kejelasan status? Walau selalu terlihat tertawa dan jenaka, sebenarnya di dalam hati ini ada perasaan yang masih ku sembunyikan, aku mencintaimu dan sedang dalam keadaan sangat takut kehilangan kamu.

Hasianku, maukah kamu memperkenalkanku pada ibumu? Maukah kamu kuperkenalkan pada orangtuaku? Maukah kau tak lagi menyembunyikanku dari sorotan mata dunia?

Hasianku, perjelaslah. Secepatnya.

Rabu, 19 Agustus 2015

Lebih dari Dua Minggu


Ditengah lelah yang menyiksaku, gadis bodoh ini tak ingin mengungkapkan banyak hal, walaupun sebisa mungkin aku berusaha tidak menulis banyak hal tentangmu. Tapi kuyakin tulisan ini akan terdiri dari beberapa paragraf. Yang isinya tentu saja pasti memperbincangkan sosok mu.

Lebih dari dua minggu kedekatan kita. Dan selama itu pun aku tak berani mengungkapkan apa yang sebenarnya kurasakan. Ada rasa sesak yang terus menghantui dan ada rasa takut kehilangan yang tak pernah jelas ku pahami. Tuh, kan.. setiap membicarakanmu pasti aku galau lagi!

Entahlah, aku tidak tahu. Lebih dari dua minggu ini, kamu menjelma menjadi seseorang yang kutakutkan. Setiap melihatmu, ada bayang-bayang wanitamu yang selalu berusaha kulawan. Namun, semakin aku berlari ingin menjauhimu, sosokmu semakin dekat dan nyata. Mungkin, ini salahku. Mencintai sosokmu yang sudah di miliki oranglain. Mencintaimu dengan brutalnya tanpa izin. Tapi, apa dayaku. Aku tak kuasa menahan setiap hembusan angin cinta yang mengalir lembut di liang hati. Meski aku sadar kita tak akan pernah bisa bersatu.

Sejak kamu hadir menjelma menjadi pria yang sering memperhatikanku, aku tak minta banyak hal selain ingin dekat terus denganmu. Meski aku harus melawan ketakutan serta kecemasanku terhadap wanitamu. Aku bukan wanita yang pandai menceritakan perasaanku padamu, karena saat kamu hadir aku hanya bisa bungkam menahan rasa itu sendiri.

Entah mengapa, semakin hari kamu semakin nampak mempesona meskipun kau mungkin tidak menyadari gadis bodoh ini telah mencintaimu dengan sangat berani.

Bagiku kamu adalah terang yang menjadikan hariku lebih sempurna karena semangat yang kamu berikan. Tapi tak bisa kupungkiri kalau aku takut semuanya berubah menjadi gelap ketika wanitamu mengetahui bagaimana kedekatan kita saat ini. Ah.. ketakutan itu sungguh menguras tenaga dan otakku.

Kita begitu dekat, berharap kedekatan ini akan berlanjut. Tidak hilang hanya karena aku yang egois memaksakan kehendak hatiku.

Terimakasih untuk dua minggu ini, Teman, pria yang sebenarnya ingin kuanggap lebih dari teman. Sudah lebih dari dua minggu, dan aku masih dalam posisi ketakutanku entah sampai kapan.

Rabu, 10 Juni 2015

Cinta Beda Suku


Entah ini salah siapa. Salah kami kah atau orangtua kami, aku pun tak tahu. Yang kami tahu, kami hanyalah dua anak manusia yang memiliki perasaan yang sama. Kami sama-sama jatuh cinta. Cinta yang timbul karena Tuhan yang mempertemukan. Cinta yang timbul berawal dari rasa malu-malu dengan harapan bahwa akhirnya akan menyenangkan. Cinta yag indah, yang kami harapkan akan mampu bertahan lama.

Entah ini salah siapa. Salah kami kah atau orangtua kami, aku pun tak tahu. Kami baru saja memulai hubungan indah ini beberapa hari. Kami membayangkan kalau hubungan ini akan tetap berjalan dengan indah. Bayangan-bayangan indah yang sulit sekali kami khianati. Bayangan tentang hubungan indah yang kami harapkan akan membawa dampak positif dan menjadi hubungan yang dapat menjadi berkat untuk banyak orang.

Entah ini salah siapa. Salah kami kah atau orangtua kami, aku pun tak tahu. Kami sama-sama anak Tuhan. Kami sama-sama cinta Tuhan. Kami sama-sama melayani Tuhan. Kami sama-sama saling membutuhkan. Kami sama-sama berharap hubungan ini akan menjadi tempat kami untuk saling memberi semangat dan dapat memotivasi pasangan kami. Kami berharap hubungan ini akan menjadi tempat kami bertumbuh bersama di dalam Tuhan.

Tapi, entah ini salah siapa. Salah kami kah atau orangtua kami, aku pun tak tahu. Nyatanya hubungan kami diujung jalan. Hubungan kami tak bisa berjalan lama. Yang awalnya kami pikir bahwa kami ini sama, ternyata orangtua kami mempunyai pandangan berbeda tentang hubungan kami. Kami berbeda suku. Dan mereka bilang kami tidak bisa menjalani hubungan ini, dengan alasan sepele yaitu kami beda suku.

Entah ini salah siapa. Salah kami kah atau orangtua kami, aku pun tak tahu. Bagi kami beda suku bukanlah masalah yang besar asal kami bisa menjalani hubungan ini dilandaskan dengan kepercayaan kami yang sama kepada Tuhan. Tapi nyatanya tidak bagi kedua orangtua kami. Bagi mereka berbeda suku adalah hal yang sangat bermasalah. Masalah terbesar kedua setelah berbeda keyakinan.

Entah ini salah siapa. Salah kami kah atau orangtua kami, aku pun tak tahu. Entahlah akan seperti apa, kami hanya berusaha membawa terus hubungan ini kedalam tangan kuasa Sang Empunya cinta yang maha besar. Kami menaruh harapan besar kami untuk hubungan yang baru seumur jagung ini. Tidak adil bagi kami kalau akhirnya kami berpisah hanya karena keegoisan orangtua kami tentang perbedaan suku.

Bukan kah Indonesia itu mempunyai semboyan Bhineka Tunggal Ika yang artinya walau berbeda tetapi tetap satu? Kami tidaklah bermaksud menentang atau membangkang kepada orangtua, tapi bukankah kami berhak merasakan indahnya cinta yang diberikan Tuhan kepada kami?

Jumat, 13 Maret 2015

Kamu, Bye!


Aku pernah menaruh hati pada pria lain. Tapi entah mengapa hanya kamu yang terus mampu membuatku berpaling. Aku mengagumimu. Awalnya memang aku kagum pada pribadimu, tapi entah mengapa semakin hari rasa itu berubah dan bertumbuh menjadi perasaan yang lebih dari sekedar rasa kagum. Perasaan itu mulai menjalar menjadi perasaan cinta, aku tidak pernah mengerti perasaan itu, yang aku tahu bahwa aku selalu merasa senang saat ada di dekatmu. Merasa tentram dari semua galau. Merasa damai dari semua senyap. Membuat hal membosankan menjadi sangat menyenangkan. Aku menyukai caramu melucu yang kadang membuat tawaku membuncah. Menyukainya saat aku menghabiskan waktu itu bersamamu.

Mungkin kala itu aku hanya mengikuti emosi sesaat. Aku tahu seharusnya aku menahan diri untuk setiap rasa yang timbul. Tapi aku tak mampu. Aku juga tidak tahu karena rasa itu timbul dengan sendirinya. Timbul sejak beberapa tahun lalu karena kejadian singkat yang sebenarnya biasa saja. Kamu membuatku melihat dirimu dari sudut pandang yang berbeda. Ternyata kamu menyimpan banyak sekali hal yang orang lain tidak ketahui tentangmu. Tapi malam itu, kamu hadir sebagai sosok yang hangat, sosok yang sangat peduli dan menyenangkan. Sejak saat itu kamu membuat setiap hariku berbeda. Membuat hariku lebh baik. Memberikan semangat meski tak secara langsung, dan memberikan energi positif yang baru untukku.

Aku menginginkanmu. Itu benar. Tapi maksudku dalam artian yang positif. Menginginkanmu menjadi teman, sahabat, kakak serta kekasih untuk melalui hari demi hari bersama. Menjejak sudut-sudut kebahagiaan dan mungkin juga pahit-getirnya kehidupan.

Tapi aku tahu itu semua tak akan mungkin terjadi. Karena kamu memiliki dunia yang berbeda denganku. Aku dan kamu layaknya bumi dan langit. Aku hanya bisa memandangmu dari kejauhan. Hanya bisa terus menjadi secret admirermu, mengagumimu ketika kamu memainkan tuts-tuts hitam putih di pojok kiri sana. Aku hanya bisa memandang senyum simpulmu yang manis ketika kamu bercengkrama ramah dengan orang lain di sekitarmu. Sedangkan aku hanya bisa menikmatinya dari kejauhan.

Tenang, aku sedang dalam proses melupakanmu kok. Melupakan segala hal indah yang pernah aku dan kamu lakukan. Melupakan segala kenangan terbaik yang selalu aku banggakan ketika aku bercerita pada teman dan sahabatku. Aku akan belajar mengubur dalam-dalam setiap perasaan yang ada. Karena wanita diluar sana memang lebih pantas menggenggam jemarimu dibandingkan aku. Wanita diluaran sana lebih pantas mendapat rasa yang tulus darimu. Tenang, aku sedang dalam proses mengikhlaskanmu kok. Mengikhlaskan kamu sepenuhnya dengan wanita pilihan terbaikmu.


Terimakasih sudah menjadi pelangi terindah dalam hari-hariku selama hampir 5 tahun ini. Beberapa kali pria keluar masuk dalam hidupku, kamu tetap jadi pria yang terus aku kagumi. Karena aku hanya di takdirkan menjadi secret admirermu dan aku menyukai setiap rasa sakitnya.