Lagi-lagi hujan turun. Entah mengapa belakangan ini hujan sering sekali
turun. Dan aku selalu menyukai runtuhan air yang jatuh dari langit itu. Setiap
hujan turun selalu mampu membuatku kembali teringat akan sore itu. Saat
keindahan senja dibaluri dengan air menari dengan indahnya. Saat senja mulai
menampakkan kemegahannya dengan bulir gemericik dari langit. Saat sore dan
hujan meyatu dengan senja yang menawan.
Sore itu kita memiliki janji dengan teman-teman satu kelas
untuk menghabiskan malam pertama di tahun baru bersama. Tapi sayangnya, sore
itu hujan turun, turun dengan derasnya.
“Kamu dimana? Hujan nih,” katamu dalam pesan singkat
“Aku dirumah sepupuku. Tunggu hujannya berhenti aja baru
kamu jemput aku,” balasku
“Oke. Ini aku udah di pom bensin lagi neduh dulu,” balas
kamu lagi
“Yaudah tunggu sebentar lagi aja ya,” jawabku
Hujan masih saja mengguyur bumi
dengan derasnya. Semakin deras hingga aku mulai khawatir dengan semua rancana
yang sudah tersusun rapih. Aku takut hujan tak kunjung berhenti dan
menggagalkan semua rencana serta acara kita. Aku takut semua khayalan
kesenangan kita yang sudah tersusun rapih akan jatuh berantakan. Sungguh,
halangan yang tak aku suka. Karena hujan semua acara diundur dan karena hujan
jam pertemuanku denganmu pun diundur.
Tapi, tidak lama kemudian hujan mulai reda menjadi tetesan
air yang masih menari dengan indah dan sangat lembut. Hujan lebat kini berubah
wujud hanya tinggal gerimis gemericik lembut.
“Hujannya udah berhenti nih. Aku jemput sekarang ya?,”
tanyamu dalam pesan singkat beberapa
saat kemudian
“Tunggu sebentar lagi deh, ini masih gerimis. Nanti aku
enggak diizinin pergi sama Papa kalau masih hujan begini,”
“Tapi kita harus kerumah Desva dulu. Makanya berangkat
sekarang biar enggak terlalu sore,” balas Wira. Kami memang akan pergi kerumah Desva untuk minta
izin pada orangtuanya. Teman satu kelas kami.
“Tapi enggak bisa kalau sekarang. Ini masih hujan, Wira”
balasku sedikit sewot
“Hmm.. Desva udah nungguin kita dari tadi, Joy”
“Yaudah kamu berangkat duluan aja sana. Aku enggak usah ikut
juga engga apa-apa kok,” aku balas pesan Wira makin sewot
“Loh kok kamu jadi begitu sih? Iya maaf. Yasudah kita tunggu
hujannya sampai berhenti,” Wira menenangkan. Wira memang selalu saja mengalah
saat aku mulai bad mood atau mulai
terlihat ngambek.
“Lagian kalau berangkat sekarang aku takut diomelin sama
Papa. Aku takut malah jadi enggak diizinin untuk pergi kalau masih hujan
seperti ini. Tunggu sebentar lagi ya, biar aku coba bilang sama Papa,” jelasku
pada Wira.
Karena saat itu aku dan Papa
sedang berkunjung kerumah Sepupuku. Papa
tidak tahu kalau aku akan dijemput oleh Wira, teman sekelasku yang kini sedang
dekat denganku. Maka dari itu, aku tak
ingin pergi meskipun hujan sudah berhenti dan menjadi gerimis. Aku ingin pergi
sampai hujan benar-benar berhenti dan aku akan menunggu Wira menjemputku di
gerbang komplek perumahan Sepupuku. Kalau hujan masih turun aku takut Papa
tidak akan memberikanku izin. Aku takut Papa menanyakan aku berangkat dengan
siapa atau aku akan pulang jam berapa atau aku akan mengadakan acara apa dan
masih banyak lagi tentang ini itu. Karena Papa memang sedikit over protective
padaku, apalagi kalau dia tahu mengenai laki-laki yang sedang dekat denganku.
Bisa kewalahan aku menjelaskannya. Karena Papa masih menganggapku sebgai gadis
kecilnya.
“Loh kenapa? Kamu belum izin emangnya?,” tanya Wira
“Sudah kok. Tapi hanya sama Mama, kalau sama Papa aku bilang
ingin main sebentar saja,” balasku
“Sini biar aku yang izin sama Papa kamu yaa,” balas Wira
lagi
“Enggak usah. Biar nanti kita ketemu digerbang perumahan aja.
Aku tunggu kamu disana. Ini aku berangkat kesana sekarang,” balasku
“Kamu yakin aku enggak perlu izin ke Papa?,” lagi-lagi Wira
menawarkan
“Udah enggak perlu. Sekarang kamu cepat jemput aku. Aku mau
jalan nih,” balasku
Lalu aku pergi minta izin pada
Papa. Ku bilang temanku sudah menungguku digerbang perumahan. Karena dia tidak
tahu rumah Sepupuku jadinya aku suruh dia untuk menjemputku di gerbang saja.
Alasan yang sangat klise.
Setelah berusaha minta izin
dengan alasan yang sebenarnya sungguh tidak pantas dijadikan alasan. Aku pergi
ke gerbang komplek perumahan. Sebenarnya, rumah sepupuku tidak jauh dari
gerbang. Aku teriak dan melambaikan tangan saja pasti Wira akan melihatku dari
gerbang perumahan. Tapi demi tidak ketahuan Papa aku pun melakukan hal itu,
menunggu Wira di gerbang komplek perumahan.
Dengan diantar Sepupuku ke
gerbang perumahan lagi-lagi dengan alasan untuk memayungiku, aku pun pergi ke
gerbang dan menemui Wira. Sepupuku sudah kenal dengan Wira walau hanya dari
ceritaku dan dari foto saja. Tapi dengan begitu aku tidak takut lagi kalau dia
keceplosan bercerita pada Papa.
Tak lama kemudian Wira datang.
Sore itu Wira mengenakan jaketnya yang berwarna biru, celana putih panjang
dengan tas kecil yang diselempangkan dibahunya serta sendal gunungnya yang
berwarna hitam. Aku selalu suka melihat style sederhananya. Kesederhanaannya
itulah yang membuatku jatuh cinta padanya.
“Hay, maaf lama ya? Yuk langsung berangkat,” sapa Wira saat
dia tiba di gerbang.
“Enggak kok. Aku juga baru aja nyampe disini,” jawabku lalu
naik ke motor Wira kami pun langsung berangkat meninggalkan tempat itu serta
sepupuku yang berjalan pulang kerumah.
“Di pake helmnya yaa,” suruh Wira. Wira tahu kalau aku tidak
suka menggunakan helm. Ribet.
Aku hanya tersenyum dan mengenakan helm Sepupuku yang ku
pinjam.
“Kamu kok pake sweater
yang itu sih? Kenapa enggak pake yang lain aja?,” kata Wira kembali sambil
mengendarai motornya
“Iya nih, tadi kan aku kira enggak akan hujan, makanya aku
pakai yang ini aja” jawabku.
Saat itu aku mengenakan sweater
rajutanku berwarna biru muda serta baju berbahan chifon yang tipis. Dan mengenakan jeans panjang serta sepatu flat
berwarna coklat.
“Berhenti dulu ya, kamu pakai jaket aku”
“Ah, engga usah Wir, aku gak apa-apa kok”
“Yasudah kalau begitu berarti kamu pakai jas hujan aku aja
ya”
“Udah aku engga apa-apa kok. Lagian juga kan Cuma gerimis
dan aku udah pakai helm, kan”
“Tapi tetep aja hujan kan, Joy” suara Wira mulai meninggi
“Engga ah, aku gak mau. Aku mau menikmati hujan” gerutuku
“Yaudah deh, terserah kamu” Wira terlihat mulai sedikit
marah karena aku tak mau mengenakan jas hujannya. Kami saling terdiam.
Sekitar beberapa lama setelah itu Wira kembali membuka
keheningan ditengah perjalan.
“Eh, aku punya temen rumahnya daerah sini, loh” ucap Wira
“Oh ya? Temen apa? Sekolah atau kerja” tanyaku
“Temen kerja aku tapi di tempat kerja lamaku dulu. Aku
pernah antar dia pulang. Seinget aku sih daerah sini” jelas Wira
“Kok dianter pulang sama kamu? Kenapa?” tanyaku kembali
“Iya ceritanya waktu itu kita habis main dari Lippo gitu”
“Dia cewek?” tanyaku
“Iya, dia cewek” jawab Wira santai
“Pacar kamu atau mantan pacar kamu?” tanyaku menyelidik
“Dibilang pacar bukan, dibilang mantan juga bukan” Wira
tetap santai menjawab
“Loh kok begitu? Lalu dia siapa?” aku makin menyelidik
“Kan tadi udah aku bilang kalau dia teman kerja aku”
“Yakin cuma teman kerja?” tanyaku penasaran
“Ya engga juga. Dia sempet suka sama aku. Eh, tapi aku engga
lho” Wira menjelaskan
“Noh kan, bukan Cuma teman biasa”
“Haaha. Kan tapi akunya engga suka sama dia. Lagian enggak
enak pacaran satu kerjaan”
“Sekarang kan udah enggak satu kerjaan lagi. Kenapa enggak
pacaran aja?”
“Kamu yakin ngomong begitu?” tanya Wira
“Lho, kenapa engga yakin?” aku balik bertanya
“Kamu mau aku pacaran sama dia?” tanya Wira lagi
“Iya. Emang kenapa? Kalau kalian sama-sama saling suka dan
saling sayang, why not?”
“Tapi kan tadi aku udah bilang kalau aku enggak suka sama
dia. Terus kenapa kamu suruh aku buat pacaran sama dia?” Wira mulai menyelidik
“Ya siapa tahu aja sekarang udah suka” aku mencoba menjawab
dengan santai
“Oke kalau begitu. Nanti aku coba hubungin dia”
“Kamu yakin?” aku balik bertanya kaget
“Maksudnya?” Wira bertanya bingung
“Iya, kamu yakin mau hubungin dia dan mau pacaran sama dia?”
nadaku mulai melemah
“Hahaha” Wira tertawa “kan tadi kamu yang suruh aku pacaran sama
dia?”
“Iya sih, tapi kaan..” aku terhenti
“Kenapa?” tanya Wira
“Engga apa-apa kok. Silahkan aja. Hehe” jawabku dengan tawa
yang dibuat-buat
“Haha. Tenang aja, Joy. Aku kan sekarang sama kamu. Aku
engga bakalanlah sama dia. Kan sekarang ada kamu” jelas Wira
“Kamu yakin?” tanyaku meledek
“Yakin dong. Kamu yakin engga?” Wira balik bertanya
“Hmm..., gimana ya?”
“Oh yaudah kalau engga yakin juga engga apa-apa kok”
“Haha. Aku yakin kok kalau kamu yakin sama aku” jawabku
malu-malu
“Aku punya kamu dan sekarang aku sama kamu. Jadi, ngapain
mikirin oranglain. Hehe” kata Wira
Aku hanya bisa tertawa malu
mendengar ucapan Wira. Semoga semua berjalan baik-baik saja dan tidak akan
pernah ada yang merasa tersakiti. Meski kami sama-sama tahu kalau nanti pasti
akan ada yang tersakiti. Entah aku atau Wira yang lebih dahulu.
Sejak saat itu aku menyukai hujan. Aku mengibaratkan dirinya sebagai
hujan. Menyejukkan, menenangkan, lembut dan indah. Tenang, aku sudah hilangkan
kamu kok. Hanya saja aku tak kan pernah berhenti menjadi penikmat hujan. Hujan
selalu sederhana, hanya saja kenangannya luar biasa dan aku menyukai hujan
dalam versi apapun.
Terimakasih untuk kamu, sudah berikan pengertian berbeda tentang hujan.