Ini jentikan
jemariku yang kelima tentang kamu. Berbeda dengan tulisanku sebelumnya kali ini
dengan kondisi rindu yang menyiksa, aku menulis deretan kalimat ini ditengah
kesibukan dan tugas kuliahku yang menumpuk. Mengendap-endap aku telusuri
kenangan kita, tersenyum kecil walau hatiku menyimpan tangis. Ada rasa gemetar
yang menyiksa hati. Namun tetap saja kunikmati sambil menahan sakitnya.
Dia. Sebut saja dia senja. Gelap, dingin, dan mempesona. Ini gila, diluar logika. Tapi aku suka.
Sudah lama aku menyimpannya, tapi dengan kenyataan yang sama, aku tidak pernah berani untuk menunjukannya. Aku memilih diam dan menatapmu dari sini, jarak dan tempat yang tak akan pernah kamu ketahui. Apa perasaan cinta harus ditunjukkan? Apakah perasaan rindu yang tersimpan ini harus meluap dan menggenang? Menghujani hadirnya yang selalu membawa kemarau dalam hati? Atau hanya untuk sekadar membanjiri perasaan yang selalu kering?
Dia. Sebut saja dia senja. Gelap, dingin, dan mempesona. Ini gila, diluar logika. Tapi aku suka.
Sudah lama aku menyimpannya, tapi dengan kenyataan yang sama, aku tidak pernah berani untuk menunjukannya. Aku memilih diam dan menatapmu dari sini, jarak dan tempat yang tak akan pernah kamu ketahui. Apa perasaan cinta harus ditunjukkan? Apakah perasaan rindu yang tersimpan ini harus meluap dan menggenang? Menghujani hadirnya yang selalu membawa kemarau dalam hati? Atau hanya untuk sekadar membanjiri perasaan yang selalu kering?
Aku
kunang-kunang dan dia senja. Aku terang, dia gelap. Aku hangat, dia dingin. Aku
terlena, dia mempesona. Aku diam, dia bisu. Aku tanda tanya, dia jawabnya.
Dadaku semakin
sesak, aku tak mampu lagi memendam bahkan menahannya sekalipun. Jemariku
gemetar, mataku mengeluarkan bulir lembutnya. Entah kali keberapa rindu ini
menyelinap, berharap dapat segera tersampaikan pada senja secara langsung. Rindu
ini menyiksa dan dengan cara apa aku menyampaikannya. Aku seperti kehabisan
cara tersirat untuk menyampaikannya.
Rindu, sampaikan
pada senja bahwa ada kunang-kunang yang ingin menerangi gelapnya. Sampaikan
pada senja bahwa ada kunang-kunang yang terlena akan pesonanya. Sampaikan pada
senja bahwa ada kunang-kunang yang hingga terangnya meredup tapi dia masih
ingin menjadi sesuatu yang akan senja suka, senja tahu, dan senja cinta.
Kau tahu aku
begitu menyukai senja. Kau tahu aku sempat memimpikan bisa melihat senja
bersamamu. Tapi sampai saat ini belum sempat mimpi itu diwujudkan karena
perpisahan tergesa-gesa menjalankan tugasnya, untuk membuat aku dan kamu
seakan-akan tak pernah saling kenal.
Dan, senja. Apa
kabarmu? Bagaimana denganmu sekarang?
Aku hanya
bisa memperhatikanmu dari sini. Memperhatikanmu dari jauh dengan caraku.
Hey, Senja. Bisakah
kita sempatkan waktu satu hari untuk melihat senja? Walau rasanya sulit untuk
diwujudkan tapi aku tak bisa tipu diri bahwa aku mengharapkan itu terwujud.
Dan maaf karena
aku tak mampu memberi keindahan dalam hidupmu. Maaf, karena kubiarkan kamu
memasuki hidupku. Harusnya ku akhiri segalanya, ketika kubiarkan kamu memasuki
hidupku. Jadi, tak pernah ada kita dalam dongeng sebelum tidur ataupun sejarah
yang tak dibukukan.
13
September, ponselmu dan ponselku jadi saksi dua hati menjadi satu melebur dalam
perbedaan. Kamu pria yang sempat menjadi senja dan malamku, pria yang menjadi
teman begadangku, si perut buncit yang pernah menjelma menjadi tangis dan
tawaku.
Senja, maaf
aku rindu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar