Selasa, 08 Desember 2015

Senja, aku rindu


Ini jentikan jemariku yang kelima tentang kamu. Berbeda dengan tulisanku sebelumnya kali ini dengan kondisi rindu yang menyiksa, aku menulis deretan kalimat ini ditengah kesibukan dan tugas kuliahku yang menumpuk. Mengendap-endap aku telusuri kenangan kita, tersenyum kecil walau hatiku menyimpan tangis. Ada rasa gemetar yang menyiksa hati. Namun tetap saja kunikmati sambil menahan sakitnya.

Dia. Sebut saja dia senja. Gelap, dingin, dan mempesona. Ini gila, diluar logika. Tapi aku suka.

Sudah lama aku menyimpannya, tapi dengan kenyataan yang sama, aku tidak pernah berani untuk menunjukannya. Aku memilih diam dan menatapmu dari sini, jarak dan tempat yang tak akan pernah kamu ketahui. Apa perasaan cinta harus ditunjukkan? Apakah perasaan rindu yang tersimpan ini harus meluap dan menggenang? Menghujani hadirnya yang selalu membawa kemarau dalam hati? Atau hanya untuk sekadar membanjiri perasaan yang selalu kering?
 
Aku kunang-kunang dan dia senja. Aku terang, dia gelap. Aku hangat, dia dingin. Aku terlena, dia mempesona. Aku diam, dia bisu. Aku tanda tanya, dia jawabnya.
 
Dadaku semakin sesak, aku tak mampu lagi memendam bahkan menahannya sekalipun. Jemariku gemetar, mataku mengeluarkan bulir lembutnya. Entah kali keberapa rindu ini menyelinap, berharap dapat segera tersampaikan pada senja secara langsung. Rindu ini menyiksa dan dengan cara apa aku menyampaikannya. Aku seperti kehabisan cara tersirat untuk menyampaikannya.

Rindu, sampaikan pada senja bahwa ada kunang-kunang yang ingin menerangi gelapnya. Sampaikan pada senja bahwa ada kunang-kunang yang terlena akan pesonanya. Sampaikan pada senja bahwa ada kunang-kunang yang hingga terangnya meredup tapi dia masih ingin menjadi sesuatu yang akan senja suka, senja tahu, dan senja cinta.

Kau tahu aku begitu menyukai senja. Kau tahu aku sempat memimpikan bisa melihat senja bersamamu. Tapi sampai saat ini belum sempat mimpi itu diwujudkan karena perpisahan tergesa-gesa menjalankan tugasnya, untuk membuat aku dan kamu seakan-akan tak pernah saling kenal.
  
Dan, senja. Apa kabarmu? Bagaimana denganmu sekarang?
Aku hanya bisa memperhatikanmu dari sini. Memperhatikanmu dari jauh dengan caraku.
Hey, Senja. Bisakah kita sempatkan waktu satu hari untuk melihat senja? Walau rasanya sulit untuk diwujudkan tapi aku tak bisa tipu diri bahwa aku mengharapkan itu terwujud.

Dan maaf karena aku tak mampu memberi keindahan dalam hidupmu. Maaf, karena kubiarkan kamu memasuki hidupku. Harusnya ku akhiri segalanya, ketika kubiarkan kamu memasuki hidupku. Jadi, tak pernah ada kita dalam dongeng sebelum tidur ataupun sejarah yang tak dibukukan.

13 September, ponselmu dan ponselku jadi saksi dua hati menjadi satu melebur dalam perbedaan. Kamu pria yang sempat menjadi senja dan malamku, pria yang menjadi teman begadangku, si perut buncit yang pernah menjelma menjadi tangis dan tawaku.

Senja, maaf aku rindu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar