Cinta selalu menyimpan tanda
tanya. Kadang, cinta juga bisa menjadi jawaban. Dia membisu, datang malu-malu,
tanpa isyarat dan kata, tiba-tiba mengalir saja sesukanya, seenaknya.
Seringkali cinta disalahartikan sebagai pembawa duka, sebagai sebab seseorang
mengingat kenangan buruk karenanya, sebagai terdakwa yang menyebabkan seseorang
takut akan takdirnya. Tapi bagiku cinta adalah karya Tuhan yang paling mulia,
penenang dalam kerinduan, pembawa tawa dan air mata, serta pengingat rasa kehilangan.
Selalu saja, sesuatu yang harus seseorang lupakan adalah sesuatu yang justru
jauh tersimpan begitu dalam, kenangan akan cinta.
Seorang pria, sederhana saja. Senyumnya
menyimpan banyak tanda tanya, tatapannya mengganggu laju kerja otak, dan
gerak-geriknya memaksaku agar tidak melewati setiap inci perpindahannya.
Lalu, semua terjadi begitu saja.
Saat sapa lembutnya menjaring nyata menyentuh gendang telinga, saat percakapan
kecil yang tercipta berubah menjadi deretan narasi nyata, aku dan kamu,
mengalir, begitu saja, seperti curah lembut hujan yang jatuh ke permukaaan.
Sederhana sekali, cinta memang selalu menuntut kesederhanaan.
Kamu mengajariku banyak hal. Cara
tertawa dalam kesedihan, cara menghargai perbedaan, cara bertahan meski sangat
lelah, dan cara bermimpi walau dalam kemustahilan.
Seringkali aku menatapmu
dalam-dalam, menyelami sejuk matamu, tercebur dalam hatimu, lalu terpeleset
dalam aliran darahmu. Aku sangat ingin menjadi bagian dalam setiap detak
jantungmu, aku ingin ikut berhembus dalam helaan nafasmu.
Sosokmu menjadi sangat penting
dalam setiap bangun pagi hingga tidur malamku. Sedetik, semenit, seharian,
hanya kamu saja yang begitu rajin menghampiri otakku. Aku ragu kalau kamu tak
punya kerjaan lain selain mengganggu pikkiran dan imajinasiku.
Kini, cinta tak lagi menjelma
menjadi sesuatu yang sederhana, tapi berangsur-angsur tingkatannya bebeda,
hingga ia menjelma menjadi dua kata, luar biasa. Perasaan itu tak lagi sekedar
teman biasa, tapi dia berevolusi menjadi lebih dari teman biasa.
Cinta yang awalnya menjadi peran
antagonis sekarang berubah menjadi amat sangat manis. Cinta yang perlahan
menikamku dengan kejutan dan keindahan yang tak bisa ku tolak kehadirannya.
Kamu, yang menyusup tanpa pamit, tanpa ucapan permisi mampu membuatku
membiarkanmu menempati singgasana kosong dalam hatiku.
Ah.. berdosakah aku kalau terus
memikirkanmu? Hari-hari ini hanya kamu saja yang mengajariku menghargai
kerasnya hidup, menghargai derasnya rindu, menghargai penantian, dan menghargai
hasil dari sebuah perjuangan.
Cinta kali ini, benar-benar
membawaku menyelam terbawa arus yang sangat menakjubkan. Ketika tanganku sulit
sekali meraihmu, ketika kakiku mulai lelah mengejarmu, ketika mataku mulai
meredup karena kelelahan menantimu, tapi tak pernah lelah mulutku menyebutkan
namamu dalam setiap rapalan doaku hingga Tuhan terketuk mendengar semua keluhku.
Kamu memintaku untuk tetap berada
disampingmu, entah sampai kapan. Atas dasar janji tak saling meninggalkan yang
pernah kita buat, aku rela tetap berada disampingmu. Menanti kamu berani
pulang, menanti kamu menjadikanku tujuan.
Tepat diminggu lalu, kamu dan aku
benar-benar menghabiskan waktu bersama. Kita memulai semuanya dari pagi saat
kabut kesegaran masih terlihat. Kamu datang menjemputku tepat sekali dengan
waktu yang kamu katakan, 6:10 pagi. Berangkat
meninggalkan rumahku menuju rumah Tuhan, gereja, kita menyenangkan hati Tuhan
bersama. Aku menari, sedang kamu memetik gitar membuat alunan nada yang indah.
Tidak terasa, waktu benar-benar
bergulir dengan cepat. Ketika pagi beranjak berganti menjadi siang, kini kita
sama-sama menghabiskan waktu berada di satu lapangan basket. Karena memang saat
itu ada jadwal latihan basket. Aku menemanimu bermain bersama para
sahabat-sahabat tercinta kita, melihatmu terpesona ketika kamu turun kelapangan
dan menggiring bola besar itu. Betapa bahagianya aku, benar-benar menghabiskan
sehari denganmu.
Kini siang berganti menjadi sore,
ketika latihan selesai dan kamu mengantarku sampai rumah. Kamu memang pria
bertanggung jawab, menepati setiap janjimu menghabiskan waktu bersamaku. Kita
tertawa, saling bercerita, membagi kebahagiaan bersama. Ketika sore ingin
berganti malam, kamu pamit pulang. Ah.. rasanya cepat sekali waktu berputar.
Ingin sekali rasanya aku menghentikan waktu agar aku bisa lebih lama menikmati
setiap lelucon yang kamu lontarkan yang selalu mampu membuat tawaku membuncah.
Malam dengan tegasnya beranjak
hadir. Bahagia itu masih berlanjut ketika kamu mengajakku mengobrol melalui
benda kecil yang membuat aku merasa dekat denganmu, handphone. Kamu meneleponku malam itu, kita berbincang banyak
sekali. Memperbincangkan hal-hal absurd
yang biasa kita lakukan. Aku senang bisa mendengar suaramu meski hanya dari
ujung telepon. Kamu memang selalu memiliki cara unik untuk membuatku tersenyum.
Kamu memang selalu mampu membuatku tertawa. Kamu, iya kamu pria yang aku
inginkan kehadirannya untuk menemani setiap hariku.
Perbincangan kita cukuplah lama,
tapi dari semuanya itu satu hal yang membuatku benar-benar bahagia. Akhirnya, kamu
berani melangkah satu langkah lagi dan menjadikanku tujuan. Memang tak
romantis, tapi kamu memiliki cara berbeda mengajakku mengakhiri ketidakjelasan
kita selama ini. hanya dua kata “jadian yuk?” yang kamu lontarkan aku terkesima
mendengarnya. Aku terdiam, entah ini lelucon atau benar pertanyaan yang
membutuhkan jawaban. Tapi kamu meyakinkanku bahwa pertanyaan tadi memanglah
membutuhkan jawaban. Aku bahagia, kamu mengakhiri penantianku dengan sangat
indah.
Sejak mengawali pagi hingga malam
yang benar-benar membuatku merasa bahagia. Kamu menyempurnakan hariku dengan
sangat manis. Mengajakku berhenti menanti dengan hasil yang menakjubkan. Kini
kamu dan aku telah menjadi kita.
Hasian, terimakasih sudah pulang.
Terimaksih sudah menjadikanku tujuanmu.
Hasian, jangan pergi lagi ya..