Jumat, 18 September 2015

Terimakasih Sudah Pulang


Cinta selalu menyimpan tanda tanya. Kadang, cinta juga bisa menjadi jawaban. Dia membisu, datang malu-malu, tanpa isyarat dan kata, tiba-tiba mengalir saja sesukanya, seenaknya. Seringkali cinta disalahartikan sebagai pembawa duka, sebagai sebab seseorang mengingat kenangan buruk karenanya, sebagai terdakwa yang menyebabkan seseorang takut akan takdirnya. Tapi bagiku cinta adalah karya Tuhan yang paling mulia, penenang dalam kerinduan, pembawa tawa dan air mata, serta pengingat rasa kehilangan. Selalu saja, sesuatu yang harus seseorang lupakan adalah sesuatu yang justru jauh tersimpan begitu dalam, kenangan akan cinta.

Seorang pria, sederhana saja. Senyumnya menyimpan banyak tanda tanya, tatapannya mengganggu laju kerja otak, dan gerak-geriknya memaksaku agar tidak melewati setiap inci perpindahannya.
Lalu, semua terjadi begitu saja. Saat sapa lembutnya menjaring nyata menyentuh gendang telinga, saat percakapan kecil yang tercipta berubah menjadi deretan narasi nyata, aku dan kamu, mengalir, begitu saja, seperti curah lembut hujan yang jatuh ke permukaaan. Sederhana sekali, cinta memang selalu menuntut kesederhanaan.

Kamu mengajariku banyak hal. Cara tertawa dalam kesedihan, cara menghargai perbedaan, cara bertahan meski sangat lelah, dan cara bermimpi walau dalam kemustahilan.

Seringkali aku menatapmu dalam-dalam, menyelami sejuk matamu, tercebur dalam hatimu, lalu terpeleset dalam aliran darahmu. Aku sangat ingin menjadi bagian dalam setiap detak jantungmu, aku ingin ikut berhembus dalam helaan nafasmu.

Sosokmu menjadi sangat penting dalam setiap bangun pagi hingga tidur malamku. Sedetik, semenit, seharian, hanya kamu saja yang begitu rajin menghampiri otakku. Aku ragu kalau kamu tak punya kerjaan lain selain mengganggu pikkiran dan imajinasiku.

Kini, cinta tak lagi menjelma menjadi sesuatu yang sederhana, tapi berangsur-angsur tingkatannya bebeda, hingga ia menjelma menjadi dua kata, luar biasa. Perasaan itu tak lagi sekedar teman biasa, tapi dia berevolusi menjadi lebih dari teman biasa.

Cinta yang awalnya menjadi peran antagonis sekarang berubah menjadi amat sangat manis. Cinta yang perlahan menikamku dengan kejutan dan keindahan yang tak bisa ku tolak kehadirannya. Kamu, yang menyusup tanpa pamit, tanpa ucapan permisi mampu membuatku membiarkanmu menempati singgasana kosong dalam hatiku.

Ah.. berdosakah aku kalau terus memikirkanmu? Hari-hari ini hanya kamu saja yang mengajariku menghargai kerasnya hidup, menghargai derasnya rindu, menghargai penantian, dan menghargai hasil dari sebuah perjuangan.

Cinta kali ini, benar-benar membawaku menyelam terbawa arus yang sangat menakjubkan. Ketika tanganku sulit sekali meraihmu, ketika kakiku mulai lelah mengejarmu, ketika mataku mulai meredup karena kelelahan menantimu, tapi tak pernah lelah mulutku menyebutkan namamu dalam setiap rapalan doaku hingga Tuhan terketuk mendengar semua keluhku.

Kamu memintaku untuk tetap berada disampingmu, entah sampai kapan. Atas dasar janji tak saling meninggalkan yang pernah kita buat, aku rela tetap berada disampingmu. Menanti kamu berani pulang, menanti kamu menjadikanku tujuan.

Tepat diminggu lalu, kamu dan aku benar-benar menghabiskan waktu bersama. Kita memulai semuanya dari pagi saat kabut kesegaran masih terlihat. Kamu datang menjemputku tepat sekali dengan waktu yang kamu katakan, 6:10 pagi.  Berangkat meninggalkan rumahku menuju rumah Tuhan, gereja, kita menyenangkan hati Tuhan bersama. Aku menari, sedang kamu memetik gitar membuat alunan nada yang indah.

Tidak terasa, waktu benar-benar bergulir dengan cepat. Ketika pagi beranjak berganti menjadi siang, kini kita sama-sama menghabiskan waktu berada di satu lapangan basket. Karena memang saat itu ada jadwal latihan basket. Aku menemanimu bermain bersama para sahabat-sahabat tercinta kita, melihatmu terpesona ketika kamu turun kelapangan dan menggiring bola besar itu. Betapa bahagianya aku, benar-benar menghabiskan sehari denganmu.

Kini siang berganti menjadi sore, ketika latihan selesai dan kamu mengantarku sampai rumah. Kamu memang pria bertanggung jawab, menepati setiap janjimu menghabiskan waktu bersamaku. Kita tertawa, saling bercerita, membagi kebahagiaan bersama. Ketika sore ingin berganti malam, kamu pamit pulang. Ah.. rasanya cepat sekali waktu berputar. Ingin sekali rasanya aku menghentikan waktu agar aku bisa lebih lama menikmati setiap lelucon yang kamu lontarkan yang selalu mampu membuat tawaku membuncah.

Malam dengan tegasnya beranjak hadir. Bahagia itu masih berlanjut ketika kamu mengajakku mengobrol melalui benda kecil yang membuat aku merasa dekat denganmu, handphone. Kamu meneleponku malam itu, kita berbincang banyak sekali. Memperbincangkan hal-hal absurd yang biasa kita lakukan. Aku senang bisa mendengar suaramu meski hanya dari ujung telepon. Kamu memang selalu memiliki cara unik untuk membuatku tersenyum. Kamu memang selalu mampu membuatku tertawa. Kamu, iya kamu pria yang aku inginkan kehadirannya untuk menemani setiap hariku.

Perbincangan kita cukuplah lama, tapi dari semuanya itu satu hal yang membuatku benar-benar bahagia. Akhirnya, kamu berani melangkah satu langkah lagi dan menjadikanku tujuan. Memang tak romantis, tapi kamu memiliki cara berbeda mengajakku mengakhiri ketidakjelasan kita selama ini. hanya dua kata “jadian yuk?” yang kamu lontarkan aku terkesima mendengarnya. Aku terdiam, entah ini lelucon atau benar pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Tapi kamu meyakinkanku bahwa pertanyaan tadi memanglah membutuhkan jawaban. Aku bahagia, kamu mengakhiri penantianku dengan sangat indah.

Sejak mengawali pagi hingga malam yang benar-benar membuatku merasa bahagia. Kamu menyempurnakan hariku dengan sangat manis. Mengajakku berhenti menanti dengan hasil yang menakjubkan. Kini kamu dan aku telah menjadi kita.

Hasian, terimakasih sudah pulang. Terimaksih sudah menjadikanku tujuanmu.
Hasian, jangan pergi lagi ya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar