Kali ini aku duduk di depan
laptopku mencoba untuk menulis sesuatu. Kuharap aku tak menuliskan hal
tentangmu. Tapi sayangnya pikiranku dan jemariku ingin menari menuliskan
tentang sosokmu. Kamu, lagi-lagi menjadi peran utama dalam tulisanku, dalam
deretan kalimat yang kucoba rangkai tanpa adanya kebohongan. Saat mulut tak
mampu berucap, hanya lewat tulisan aku mampu mengungkap.
Satu bulan terakhir ini kamu
hadir dalam hidupku. Menjelma menjadi seorang pria sederhana yang cara
bicaranya selalu membuatku bahagia. Kita bertukar sapa hingga larut malam,
hingga mata lelah menatap layar benda kecil yang membuat kita merasa begitu
dekat, handphone. Kita berjalan atas
nama hari, membicarakan berbagai hal absurd
yang entah mengapa segalanya begitu menyenangkan bagiku. Aku pernah lupa
rasanya bertanya-tanya dalam hati seperti ini. Aku pernah lupa rasanya begitu
bahagia hanya membaca percakapan sederhana dalam pesan singkat. Aku pernah lupa
rasanya tersenyum diam-diam ketika bisa bercakap dengan seseorang yang mengerti
duniaku, dunia yang tak pernah dimengerti siapapun.
Aku menyukaimu. Aku mohon maaf
kalau aku terlalu lancang. Tapi, adakah yang bisa menahan diri jika kamu telah
menunggu seseorang yang sangat kau ingini, lalu dia datang disaat kau sedang
sendiri, disaat kau butuhkan dia didalam hari-harimu, dan disaat hatinya hampir
sekarat karena terlalu sering patah. Ya, kamulah sosok itu. Pria yang hadir
dalam dinginnya malam-malamku, pria yang hadir dalam gelapnya malamku, dan pria
yang tiba-tiba muncul disaat hati ini gersang dan butuh hujan untuk
menyiraminya.
Saat pertama kamu meberanikan
diri mengirimkan pesan singkat, aku tidak pernah tahu bahwa kita akan sedekat
ini. Tak pernah aku merasakan senyaman ini berbagi cerita bersama seorang pria.
Pria yang mengerti leluconku, pria yang begitu menghargai isi otakku, pria yang
mengerti imajinasiku, pria yang memahami apa mauku, pria yang mencoba mengalah
untukku, pria yang segalanya dia lakukan yang berhasil membuatku bahagia.
Kamu adalah penyemangatku, kamu
adalah dunia baruku, meski kita hanya mampu bercakap melalui pesan singkat.
Namun, aku merasa bahwa kedekatan kita ini adalah rancangan Tuhan yang indah,
entah dengan tujuan apa. Satu bulan ini, aku bertahan dalam posisi
keetidakjelasan status yang kita jalani dan hanya bisa membayangkan betapa
bahagianya jika bisa benar-benar kau jadikan aku tujuan terakhirmu. Setiap
berjam-jam obrolan kita melalui pesan singkat, aku berharap bahwa kamu tidak
hanya menjadikanku persinggahan sementaramu.
Tapi, kebahagiaanku berubah sejak
api menyambar lembaran yang kucoba simpan rapat-rapat. Aku memang menyuruhmu
mengakui dan menjelaskan semuanya pada wanitamu, tapi tak pernah terpikir bahwa
akan berakhir semenyakitkan ini. Aku inginkan kamu menjadikanku tujuanmu,
karena semua ucapan sayang yang kau lontarkan. Aku meyakininya bahwa itu bukan
hanya bualan seorang pria tak bertanggungjawab. Aku berharap setiap kata
manismu yang mebuatku bahagia bisa benar-benar terjadi. Aku penasaran, adakah pria lain seperti kamu? membuat bahagia dan sakit dalam bilangan waktu bersamaan.
Kubangun mimpi-mimpi indahku
bersamamu semenjak kuceritakan kamu pada orangtuaku. Kurapalkan namamu saat
malam kuhampiri Tuhan melalui doa. Kureka wajahmu agar menjadi pemeran utama
dalam bunga tidurku. Ah, hasianku. Kamu begitu istimewa bagiku. Hingga kejadian
menyakitkan itu membuatku menjatuhkan air mata yang pasti tak mau kau dengar
ceritanya. Tapi, aku ingin ceritakan saja, karena hanya lewat tulisan aku mampu
bercerita. Aku hanya dilanda cemburu yang berlebihan. Kecemburuan konyol yang
seharusnya tak hadir. Aku harusnya sadar diri siapa aku dan bagaimana posisiku.
Tapi, kamu membawaku pada duniamu yang menyenangkan dan selalu mampu meyakinkan
aku dengan semua penjelasan sayang mu.
Aku hanya bertahan atas nama
hari, semua janji manismu serta keinginan-keinginan manis yang kau bisikkan
padaku. Janji tidak akan meninggalkan malam itu adalah janji terbaik yang
pernah kudengar dari seorang pria. Janji bahwa kau akan membahagiakan wanita
jadi-jadian sepertiku. Serta setiap keinginanmu yang ingin cepat memperjelas
hubungan kita, keinginanmu untuk memperkenalkanku pada ibumu dan keinginanmu
yang tak menginginkan hubungan kita pisah. Tapi, rasanya semua akan berakhir.
Kau tidak akan menjadikanku tujuan dan tempatmu untuk pulang, karena nyatanya
kau tak mampu dan tak berani melangkah satu langkah lagi.
Hasian, bukan aku ingin mengemis,
sungguh kau tentu tahu. Aku perempuan yang takut untuk bicara. Aku hanya mampu
menumpahkan semua kebahagiaan, kekesalan, kesakitanku melalui tulisan. Aku tak
tahu siapa yang salah dan aku tak ingin menyalahkan siapa yang sesungguhnya
harus bertanggung jawab atas semua perih yang kuterima. Tapi, aku mencoba tegar
menghadapi semua ini, karena aku yang memilih membelamu habis-habisan didepan
mereka, aku yang memilih masuk dalam duniamu, dan aku yang memilih mencintaimu.
Tak akan kusalahkan siapapun. Tak
akan kusalahkan kamu, mereka, apalagi dia. Sebagai wanita yang tak bisa
apa-apa, izinkan aku menyayangimu dan menyelipkan namamu dalam setiap rapalan
doaku dengan Tuhan. Biarkan aku menjadi perempuan yang sabar menanti, meskipun
kutahu hasianku sangat sulit kuajak pulang. Biarkan aku sibuk menunggu,
meskipun kutahu kau sulit untuk melangkah menghampiriku. Biarkan aku jadi
perindu yang sabar menanti, meskipun kutahu hasianku tidak pernah meminta untuk
dinanti.
Terimakasih pria pembawa tawa.
Terimakasih telah singgah. Terimakasih sudah hadir. Terimakasih sudah menjadi
bagian dalam doaku. Terimakasih untuk banyak hal yang tidak cukup hanya sekedar
dihargai dengan kata terimakasih.
Kalau mau pulang, pulanglah.
Aku siap membukakan pintu.
Berhentilah mencari, hasianku.
Biarkan aku menjadi tujuan terakhirmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar