Minggu, 30 Agustus 2015

Adakah Pria Lain Seperti Kamu?


Kali ini aku duduk di depan laptopku mencoba untuk menulis sesuatu. Kuharap aku tak menuliskan hal tentangmu. Tapi sayangnya pikiranku dan jemariku ingin menari menuliskan tentang sosokmu. Kamu, lagi-lagi menjadi peran utama dalam tulisanku, dalam deretan kalimat yang kucoba rangkai tanpa adanya kebohongan. Saat mulut tak mampu berucap, hanya lewat tulisan aku mampu mengungkap.

Satu bulan terakhir ini kamu hadir dalam hidupku. Menjelma menjadi seorang pria sederhana yang cara bicaranya selalu membuatku bahagia. Kita bertukar sapa hingga larut malam, hingga mata lelah menatap layar benda kecil yang membuat kita merasa begitu dekat, handphone. Kita berjalan atas nama hari, membicarakan berbagai hal absurd yang entah mengapa segalanya begitu menyenangkan bagiku. Aku pernah lupa rasanya bertanya-tanya dalam hati seperti ini. Aku pernah lupa rasanya begitu bahagia hanya membaca percakapan sederhana dalam pesan singkat. Aku pernah lupa rasanya tersenyum diam-diam ketika bisa bercakap dengan seseorang yang mengerti duniaku, dunia yang tak pernah dimengerti siapapun.

Aku menyukaimu. Aku mohon maaf kalau aku terlalu lancang. Tapi, adakah yang bisa menahan diri jika kamu telah menunggu seseorang yang sangat kau ingini, lalu dia datang disaat kau sedang sendiri, disaat kau butuhkan dia didalam hari-harimu, dan disaat hatinya hampir sekarat karena terlalu sering patah. Ya, kamulah sosok itu. Pria yang hadir dalam dinginnya malam-malamku, pria yang hadir dalam gelapnya malamku, dan pria yang tiba-tiba muncul disaat hati ini gersang dan butuh hujan untuk menyiraminya.

Saat pertama kamu meberanikan diri mengirimkan pesan singkat, aku tidak pernah tahu bahwa kita akan sedekat ini. Tak pernah aku merasakan senyaman ini berbagi cerita bersama seorang pria. Pria yang mengerti leluconku, pria yang begitu menghargai isi otakku, pria yang mengerti imajinasiku, pria yang memahami apa mauku, pria yang mencoba mengalah untukku, pria yang segalanya dia lakukan yang berhasil membuatku bahagia.

Kamu adalah penyemangatku, kamu adalah dunia baruku, meski kita hanya mampu bercakap melalui pesan singkat. Namun, aku merasa bahwa kedekatan kita ini adalah rancangan Tuhan yang indah, entah dengan tujuan apa. Satu bulan ini, aku bertahan dalam posisi keetidakjelasan status yang kita jalani dan hanya bisa membayangkan betapa bahagianya jika bisa benar-benar kau jadikan aku tujuan terakhirmu. Setiap berjam-jam obrolan kita melalui pesan singkat, aku berharap bahwa kamu tidak hanya menjadikanku persinggahan sementaramu.

Tapi, kebahagiaanku berubah sejak api menyambar lembaran yang kucoba simpan rapat-rapat. Aku memang menyuruhmu mengakui dan menjelaskan semuanya pada wanitamu, tapi tak pernah terpikir bahwa akan berakhir semenyakitkan ini. Aku inginkan kamu menjadikanku tujuanmu, karena semua ucapan sayang yang kau lontarkan. Aku meyakininya bahwa itu bukan hanya bualan seorang pria tak bertanggungjawab. Aku berharap setiap kata manismu yang mebuatku bahagia bisa benar-benar terjadi. Aku penasaran, adakah pria lain seperti kamu? membuat bahagia dan sakit dalam bilangan waktu bersamaan.

Kubangun mimpi-mimpi indahku bersamamu semenjak kuceritakan kamu pada orangtuaku. Kurapalkan namamu saat malam kuhampiri Tuhan melalui doa. Kureka wajahmu agar menjadi pemeran utama dalam bunga tidurku. Ah, hasianku. Kamu begitu istimewa bagiku. Hingga kejadian menyakitkan itu membuatku menjatuhkan air mata yang pasti tak mau kau dengar ceritanya. Tapi, aku ingin ceritakan saja, karena hanya lewat tulisan aku mampu bercerita. Aku hanya dilanda cemburu yang berlebihan. Kecemburuan konyol yang seharusnya tak hadir. Aku harusnya sadar diri siapa aku dan bagaimana posisiku. Tapi, kamu membawaku pada duniamu yang menyenangkan dan selalu mampu meyakinkan aku dengan semua penjelasan sayang mu.

Aku hanya bertahan atas nama hari, semua janji manismu serta keinginan-keinginan manis yang kau bisikkan padaku. Janji tidak akan meninggalkan malam itu adalah janji terbaik yang pernah kudengar dari seorang pria. Janji bahwa kau akan membahagiakan wanita jadi-jadian sepertiku. Serta setiap keinginanmu yang ingin cepat memperjelas hubungan kita, keinginanmu untuk memperkenalkanku pada ibumu dan keinginanmu yang tak menginginkan hubungan kita pisah. Tapi, rasanya semua akan berakhir. Kau tidak akan menjadikanku tujuan dan tempatmu untuk pulang, karena nyatanya kau tak mampu dan tak berani melangkah satu langkah lagi.

Hasian, bukan aku ingin mengemis, sungguh kau tentu tahu. Aku perempuan yang takut untuk bicara. Aku hanya mampu menumpahkan semua kebahagiaan, kekesalan, kesakitanku melalui tulisan. Aku tak tahu siapa yang salah dan aku tak ingin menyalahkan siapa yang sesungguhnya harus bertanggung jawab atas semua perih yang kuterima. Tapi, aku mencoba tegar menghadapi semua ini, karena aku yang memilih membelamu habis-habisan didepan mereka, aku yang memilih masuk dalam duniamu, dan aku yang memilih mencintaimu.
Tak akan kusalahkan siapapun. Tak akan kusalahkan kamu, mereka, apalagi dia. Sebagai wanita yang tak bisa apa-apa, izinkan aku menyayangimu dan menyelipkan namamu dalam setiap rapalan doaku dengan Tuhan. Biarkan aku menjadi perempuan yang sabar menanti, meskipun kutahu hasianku sangat sulit kuajak pulang. Biarkan aku sibuk menunggu, meskipun kutahu kau sulit untuk melangkah menghampiriku. Biarkan aku jadi perindu yang sabar menanti, meskipun kutahu hasianku tidak pernah meminta untuk dinanti.

Terimakasih pria pembawa tawa. Terimakasih telah singgah. Terimakasih sudah hadir. Terimakasih sudah menjadi bagian dalam doaku. Terimakasih untuk banyak hal yang tidak cukup hanya sekedar dihargai dengan kata terimakasih.

Kalau mau pulang, pulanglah.
Aku siap membukakan pintu.
Berhentilah mencari, hasianku.
Biarkan aku menjadi tujuan terakhirmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar