Senin, 24 Agustus 2015

Perjelaslah, secepatnya!


Pertemuan kita bukanlah suatu kebetulan. Aku selalu percaya itu dan entah dengan keajaiban apa, Tuhan menyebabkan kita saling berkenalan. Perkenalan itu tak menimbulkan kesan apapun pada awalnya. Aku menganggapmu pria biasa, yang ingin berkenalan. Kamu tak pernah benar-benar tahu tentangku, seperti aku yang tak tahu apa-apa tentangmu. Kamu tak tahu siapa aku, yang kamu tahu aku hanyalah gadis yang lebih tua darimu yang wanitamu dan kawan lainnya memanggilku dengan sebutan kakak. Dan yang kau tahu pun aku hanyalah wanita biasa yang tak suka berdandan dan bersolek di depan cermin.

Hingga akhirnya kita menjalin hubungan yang sangat dekat dan kamu mengungkapkan kekagumanmu padaku. Setelah banyak bercerita melalui pesan singkat dan malam itu aku benar-benar kecewa dengan persepsimu yang salah dan aku mengajakmu untuk bertemu. Menemani aku menikmati ice cream yang kamu belikan untukku. Langit siang di hari minggu yang cerah kala itu menjadi saksi bahwa dua orang anak manusia dipertemukan semesta untuk jatuh cinta. Aku tak tahu hal ini dinamakan apa, kedekatan kita memang belum terlalu lama, namun rasanya aku selalu ingin berada di dekatmu juga disampingmu.

Kamu tak menuntutku untuk menjadi wanita yang seutuhnya bisa kau atur. Kamu memperlakukanku semanis mungkin, membuatku merasa nyaman berada disampingmu, membuatku bahagia ketika kamu dengan manis mendengarkan setiap celotehanku. Tahukah kamu, dari setiap perlakuanmu padaku itu membuat aku semakin takut kebersamaan kita tiba-tiba terbelah berantakan karena wanitamu tahu tentang kedekatan kita.
Aku tak tahu arti tatapan matamu setiap kali kamu berkata “sayang” padaku. Fakta-fakta yang tak bisa kupungkiri adalah aku cemburu. Aku cemburu setiap kali melihatmu dengan wanitamu yang kau bilang hanya teman. Tapi, apakah kedekatan kalian bisa kupercaya hanya sekedar teman? Entahlah, setiap kali aku mengingat dan memikirkannya rasanya hatiku hancur. Hancur karena aku hanya bisa menahan setiap sakitnya tanpa mampu bertindak apa-apa.

Aku tak mengerti arti kata sayang yang kau lontarkan. Aku tak tahu arti setiap kata manis dan perhatianmu padaku. Aku tak tahu arti penjelasanmu ketika kamu bercerita pada ibumu tentangku dan ibumu ingin bertemu denganku, begitupun sebaliknya kamu ingin kerumahku bertemu orangtuaku. Aku tak tahu, Hasianku. Dan kenyataan yang harus kuterima adalah nampaknya aku mulai mencintai pria Batak yang dengan cara uniknya mendekatiku. Nampaknya, aku mulai mencintai kamu.

Aku berjalan mengarungi hari bersamamu, menghadapi datang dan pergimu, bergelut dengan rindu yang mungkin tidak kau mengerti. Kamu terlalu gaib untukku, Hasian, kamu terlalu jauh untuk kugapai. Dan aku yang sedang dalam keadaan sangat berharap ini sedang ketakutan jika kau tiba-tiba pergi seakan tak pernah terjadi apapun diantara kita. Malam ini, aku sedang dalam keadaan mempertanyakan semuanya. Mempertanyakan perasaanmu padaku, mempertanyakan apa tujuan hubungan yang kita jalani selama ini, mempertanyakan semua arti dari perhatianmu, candaan, serta setiap bisikan kata sayangmu yang selalu berhasil memabukkanku.

Dalam keadaan sering kehilanganmu, aku selalu mempertanyakan apa yang Tuhan mau. Aku melihat dirimu sebagai sosok pria yang hebat, seiman, menyenangkan, humoris, dan pendengar yang baik. Kamulah pria yang kehadirannya selama ini kutunggu. Pria sepertimu yang langka bagiku, yang sangat jarang masuk kedalam hidupku. Ketika menemukanmu, aku seperti menemukan kesegaran yang menghilangkan dahagaku. Dahaga karena terlalu sering berlari dan mencari hal yang tak pasti, haus yang dihasilkan karena aku terlalu sibuk melompat dari satu hubungan ke hubungan lain, hingga aku lupa apa sebenarnya yang kucari selama ini.
Aku menatap matamu dan menyadari betapa semua ini bisa saja berakhir jika kau bosan. Aku ingin bilang padamu bahwa aku menginginkan status dan kejelasan, karena selama ini kau sudah tunjukkan dunia yang membahagiakan untukku. Tapi, setiap kali melihat matamu, setiap kali mengingat kedekatan kita yang tiba-tiba, nampaknya aku hanya sekedar persinggahan buatmu. Rasanya aku semakin merasa kecut. Aku ingin menangis dan pasti air mata ini belum tentu kau pahami.

Rasanya aku ingin memberhentikan pencarianku padamu. Rasanya aku ingin menjadikanmu sebagai akhir dari pelarianku. Rasanya aku ingin hubungan kita bisa lebih lama dari yang kita bayangkan dan kita takutkan. Rasanya aku ingin bertanya, apakah kamu mulai mencintai sosok wanita jadi-jadian sepertiku. Sosok wanita yang tak pernah mengakui bahwa diluar dia adalah wanita hebat sementara bersamamu dia merendahkan hatinya, mengecilkan egoisnya, melumat habis gengsinya, karena dia mencintai kamu. Rasanya aku ingin berkata padamu, bahwa aku menunggu kamu tak lagi menjadikanku pelarian, aku menunggumu tak lagi menjadikanku persinggahan sementara. Aku menunggumu menjadikanku tujuan, menjadikan ku tempat kau selalu pulang, menjadi peluk tempat kamu meletakkan tangis.

Jika kamu tahu wanita ini sudah tersakiti begitu parah, sudah pernah dilukai habis-habisan oleh pria lainnya, masa sih kamu tak ingin membahagiakan dia dengan memberikan dia kejelasan status? Walau selalu terlihat tertawa dan jenaka, sebenarnya di dalam hati ini ada perasaan yang masih ku sembunyikan, aku mencintaimu dan sedang dalam keadaan sangat takut kehilangan kamu.

Hasianku, maukah kamu memperkenalkanku pada ibumu? Maukah kamu kuperkenalkan pada orangtuaku? Maukah kau tak lagi menyembunyikanku dari sorotan mata dunia?

Hasianku, perjelaslah. Secepatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar