Pertemuan kita bukanlah suatu
kebetulan. Aku selalu percaya itu dan entah dengan keajaiban apa, Tuhan
menyebabkan kita saling berkenalan. Perkenalan itu tak menimbulkan kesan apapun
pada awalnya. Aku menganggapmu pria biasa, yang ingin berkenalan. Kamu tak
pernah benar-benar tahu tentangku, seperti aku yang tak tahu apa-apa tentangmu.
Kamu tak tahu siapa aku, yang kamu tahu aku hanyalah gadis yang lebih tua
darimu yang wanitamu dan kawan lainnya memanggilku dengan sebutan kakak. Dan
yang kau tahu pun aku hanyalah wanita biasa yang tak suka berdandan dan
bersolek di depan cermin.
Hingga akhirnya kita menjalin
hubungan yang sangat dekat dan kamu mengungkapkan kekagumanmu padaku. Setelah
banyak bercerita melalui pesan singkat dan malam itu aku benar-benar kecewa dengan
persepsimu yang salah dan aku mengajakmu untuk bertemu. Menemani aku menikmati ice cream yang kamu belikan untukku.
Langit siang di hari minggu yang cerah kala itu menjadi saksi bahwa dua orang
anak manusia dipertemukan semesta untuk jatuh cinta. Aku tak tahu hal ini
dinamakan apa, kedekatan kita memang belum terlalu lama, namun rasanya aku
selalu ingin berada di dekatmu juga disampingmu.
Kamu tak menuntutku untuk menjadi
wanita yang seutuhnya bisa kau atur. Kamu memperlakukanku semanis mungkin,
membuatku merasa nyaman berada disampingmu, membuatku bahagia ketika kamu dengan
manis mendengarkan setiap celotehanku. Tahukah kamu, dari setiap perlakuanmu
padaku itu membuat aku semakin takut kebersamaan kita tiba-tiba terbelah
berantakan karena wanitamu tahu tentang kedekatan kita.
Aku tak tahu arti tatapan matamu
setiap kali kamu berkata “sayang” padaku. Fakta-fakta yang tak bisa kupungkiri
adalah aku cemburu. Aku cemburu setiap kali melihatmu dengan wanitamu yang kau
bilang hanya teman. Tapi, apakah kedekatan kalian bisa kupercaya hanya sekedar
teman? Entahlah, setiap kali aku mengingat dan memikirkannya rasanya hatiku
hancur. Hancur karena aku hanya bisa menahan setiap sakitnya tanpa mampu
bertindak apa-apa.
Aku tak mengerti arti kata sayang
yang kau lontarkan. Aku tak tahu arti setiap kata manis dan perhatianmu padaku.
Aku tak tahu arti penjelasanmu ketika kamu bercerita pada ibumu tentangku dan
ibumu ingin bertemu denganku, begitupun sebaliknya kamu ingin kerumahku bertemu
orangtuaku. Aku tak tahu, Hasianku. Dan kenyataan yang harus kuterima adalah
nampaknya aku mulai mencintai pria Batak yang dengan cara uniknya mendekatiku.
Nampaknya, aku mulai mencintai kamu.
Aku berjalan mengarungi hari
bersamamu, menghadapi datang dan pergimu, bergelut dengan rindu yang mungkin
tidak kau mengerti. Kamu terlalu gaib untukku, Hasian, kamu terlalu jauh untuk
kugapai. Dan aku yang sedang dalam keadaan sangat berharap ini sedang ketakutan
jika kau tiba-tiba pergi seakan tak pernah terjadi apapun diantara kita. Malam
ini, aku sedang dalam keadaan mempertanyakan semuanya. Mempertanyakan
perasaanmu padaku, mempertanyakan apa tujuan hubungan yang kita jalani selama
ini, mempertanyakan semua arti dari perhatianmu, candaan, serta setiap bisikan
kata sayangmu yang selalu berhasil memabukkanku.
Dalam keadaan sering
kehilanganmu, aku selalu mempertanyakan apa yang Tuhan mau. Aku melihat dirimu
sebagai sosok pria yang hebat, seiman, menyenangkan, humoris, dan pendengar
yang baik. Kamulah pria yang kehadirannya selama ini kutunggu. Pria sepertimu
yang langka bagiku, yang sangat jarang masuk kedalam hidupku. Ketika
menemukanmu, aku seperti menemukan kesegaran yang menghilangkan dahagaku.
Dahaga karena terlalu sering berlari dan mencari hal yang tak pasti, haus yang
dihasilkan karena aku terlalu sibuk melompat dari satu hubungan ke hubungan
lain, hingga aku lupa apa sebenarnya yang kucari selama ini.
Aku menatap matamu dan menyadari betapa
semua ini bisa saja berakhir jika kau bosan. Aku ingin bilang padamu bahwa aku
menginginkan status dan kejelasan, karena selama ini kau sudah tunjukkan dunia
yang membahagiakan untukku. Tapi, setiap kali melihat matamu, setiap kali
mengingat kedekatan kita yang tiba-tiba, nampaknya aku hanya sekedar
persinggahan buatmu. Rasanya aku semakin merasa kecut. Aku ingin menangis dan
pasti air mata ini belum tentu kau pahami.
Rasanya aku ingin memberhentikan
pencarianku padamu. Rasanya aku ingin menjadikanmu sebagai akhir dari pelarianku.
Rasanya aku ingin hubungan kita bisa lebih lama dari yang kita bayangkan dan
kita takutkan. Rasanya aku ingin bertanya, apakah kamu mulai mencintai sosok
wanita jadi-jadian sepertiku. Sosok wanita yang tak pernah mengakui bahwa
diluar dia adalah wanita hebat sementara bersamamu dia merendahkan hatinya,
mengecilkan egoisnya, melumat habis gengsinya, karena dia mencintai kamu.
Rasanya aku ingin berkata padamu, bahwa aku menunggu kamu tak lagi menjadikanku
pelarian, aku menunggumu tak lagi menjadikanku persinggahan sementara. Aku
menunggumu menjadikanku tujuan, menjadikan ku tempat kau selalu pulang, menjadi
peluk tempat kamu meletakkan tangis.
Jika kamu tahu wanita ini sudah
tersakiti begitu parah, sudah pernah dilukai habis-habisan oleh pria lainnya,
masa sih kamu tak ingin membahagiakan dia dengan memberikan dia kejelasan
status? Walau selalu terlihat tertawa dan jenaka, sebenarnya di dalam hati ini
ada perasaan yang masih ku sembunyikan, aku mencintaimu dan sedang dalam
keadaan sangat takut kehilangan kamu.
Hasianku, maukah kamu
memperkenalkanku pada ibumu? Maukah kamu kuperkenalkan pada orangtuaku? Maukah
kau tak lagi menyembunyikanku dari sorotan mata dunia?
Hasianku, perjelaslah. Secepatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar