I miss us when I'm on my own
Oh, now I feel too much again
It's plain and cold after you're gone
Times like this I wish you're here with me
And hold me
Oh, now I feel too much again
It's plain and cold after you're gone
Times like this I wish you're here with me
And hold me
(Sorry-Pamungkas)
Setiap
mendengar suara Pamungkas, aku selalu mengingatmu. Mengingat saat kamu meminta
pendapatku tentang lagu “Kenangan Manis” yang kamu nyanyikan untuk kau buatkan
video #untiltomorrow yang sedang viral di Instagram. Hingga
akhirnya video itu jadi dan betapa bangganya kamu menunjukkan video itu padaku.
Bukan hanya itu, kamu juga pernah menyanyikan lagu “Sorry” dan penggalan lagu “I
love you but I’m letting go” menggunakan alat musik kesayanganmu saat kita
asyik bercengkerama melalui pertemuan layar. Semua terekam manis dalam memori
otakku dan aku selalu mengingat hadirmu saat mendengar lagu-lagu tersebut.
Kamu
yang sebenarnya masih ingin sekali kusentuh, kamu yang sebenarnya masih ingin
sekali kutemui. Sapa lembutmu mengalir manis dalam otakku. Aku tidak mengerti,
dengan hal yang sederhana, kau bisa membuatku begitu munyukai kehadiranmu. Aku
suka saat-saat kita bisa meluangkan waktu walau sekedar untuk bercerita hal
yang sederhana. Bercerita apapun, termasuk tentang aku dan kamu yang tidak
pernah menjadi KITA dalam dunia yang sama, meski hati begitu kuat tuk ingin
bersama.
Bagaimana
mungkin dengan cara se-sederhana itu kamu membuatku jatuh cinta? Cinta yang
saat ini ku anggap hanya kenangan yang mungkin akan kamu lupakan. Anggaplah
tidak pernah ada cinta diantara aku dan kamu, meski dengan jelas rasa yang kita
alami sangatlah nyata dan indah. Anggap saja perasaan kita tidak pernah ada,
hanya sekedar perasaan suka tak berdasarkan logika. Meski nyatanya perasaan ini
begitu manis kita rasakan.
Namun,
semesta berkata lain (lagi) tentang kita. Kita berpisah saat cinta sedang
bersemi. Bukan maksudku untuk melakukan hal yang buruk padamu, tapi sepertinya
perpisahan kita kali ini dikarenakan kita yang sama-sama sedang tak bisa
mengatur emosi dan berpikir dengan jernih. Pikiranmu yang dipenuhi dengan
amarah, serta aku yang terlalu kalut untuk menghadapimu. Hingga akhirnya kamu
putuskan untuk mengambil jarak denganku sampai waktu dimana hati dan pikiran
kita pulih.
Kali
ini, apa yang menyenangkan dalam jarak sejauh ini? Aku tak bisa menatapmu dan
jemariku tak bisa menyentuh lekukan wajahmu. Apa yang bisa aku harapkan dari
jarak ratusan kilometer yang memisahkan kita? Ketika rasa rindu menggebu, dan
kutahu kau tak ada disisiku. Sejauh ini aku masih bertahan, entah
mempertahankan apa. Meski yang kurasa sekarang, cintamu tak lagi nyata, tapi
harapanku begitu nyata untuk kita.
Dalam
jarak sejauh ini, mungkinkah kita masih saling mendoakan? Seperti saat kita
dulu masih berdekatan. Aku tak lagi paham, saat pikiranku dipenuhi hal yang tak
dapat ku kendalikan dan tak ada lagi kamu yang menenangkan. Aku tak lagi paham
saat hatiku ketakutan dan tak ada lagi ucapan “tenang ya, semua pasti baik-bak
aja kok” yang terucap dari mulutmu.
Aku
hanya bisa menatap fotomu, menikmati lengkungan senyum dan suaramu dari
video-video yang tersimpan rapi dalam ponsel serta laptopku. Dengan diam-diam ku
rapal namamu dalam doa. Ku kirimkan doa-doa terbaik demi bahagiamu, meski bukan
aku alasannya. Kulakukan semua seakan baik-baik saja, seakan aku tak terluka,
seakan tak pernah ada air mata menyakitkan, seakan tak pernah ada jarak diatara
kita. Aku begitu meyakinkan diriku bahwa tak ada yang salah diantara kita.
Saat
ini, apakah kamu baik-baik saja disana? Apakah rindu yang kita simpan dalam-dalam
akan menemui titik temunya?
Seperti
penggalan lirik dalam lagu Sorry-Pamungkas, aku masih merindukanmu disaat aku
sendiri dan masih mengharapkanmu ada disampingku.
Sayang,
kali ini aku amat lelah.
Pulanglah.
(tulisan
yang seharusnya di posting sebelum tanggal 1 Juni)