Jumat, 12 Juni 2020

Pulanglah


I miss us when I'm on my own
Oh, now I feel too much again
It's plain and cold after you're gone
Times like this I wish you're here with me
And hold me
(Sorry-Pamungkas)

Setiap mendengar suara Pamungkas, aku selalu mengingatmu. Mengingat saat kamu meminta pendapatku tentang lagu “Kenangan Manis” yang kamu nyanyikan untuk kau buatkan video #untiltomorrow yang sedang viral di Instagram. Hingga akhirnya video itu jadi dan betapa bangganya kamu menunjukkan video itu padaku. Bukan hanya itu, kamu juga pernah menyanyikan lagu “Sorry” dan penggalan lagu “I love you but I’m letting go” menggunakan alat musik kesayanganmu saat kita asyik bercengkerama melalui pertemuan layar. Semua terekam manis dalam memori otakku dan aku selalu mengingat hadirmu saat mendengar lagu-lagu tersebut.

Kamu yang sebenarnya masih ingin sekali kusentuh, kamu yang sebenarnya masih ingin sekali kutemui. Sapa lembutmu mengalir manis dalam otakku. Aku tidak mengerti, dengan hal yang sederhana, kau bisa membuatku begitu munyukai kehadiranmu. Aku suka saat-saat kita bisa meluangkan waktu walau sekedar untuk bercerita hal yang sederhana. Bercerita apapun, termasuk tentang aku dan kamu yang tidak pernah menjadi KITA dalam dunia yang sama, meski hati begitu kuat tuk ingin bersama.

Bagaimana mungkin dengan cara se-sederhana itu kamu membuatku jatuh cinta? Cinta yang saat ini ku anggap hanya kenangan yang mungkin akan kamu lupakan. Anggaplah tidak pernah ada cinta diantara aku dan kamu, meski dengan jelas rasa yang kita alami sangatlah nyata dan indah. Anggap saja perasaan kita tidak pernah ada, hanya sekedar perasaan suka tak berdasarkan logika. Meski nyatanya perasaan ini begitu manis kita rasakan.

Namun, semesta berkata lain (lagi) tentang kita. Kita berpisah saat cinta sedang bersemi. Bukan maksudku untuk melakukan hal yang buruk padamu, tapi sepertinya perpisahan kita kali ini dikarenakan kita yang sama-sama sedang tak bisa mengatur emosi dan berpikir dengan jernih. Pikiranmu yang dipenuhi dengan amarah, serta aku yang terlalu kalut untuk menghadapimu. Hingga akhirnya kamu putuskan untuk mengambil jarak denganku sampai waktu dimana hati dan pikiran kita pulih.

Kali ini, apa yang menyenangkan dalam jarak sejauh ini? Aku tak bisa menatapmu dan jemariku tak bisa menyentuh lekukan wajahmu. Apa yang bisa aku harapkan dari jarak ratusan kilometer yang memisahkan kita? Ketika rasa rindu menggebu, dan kutahu kau tak ada disisiku. Sejauh ini aku masih bertahan, entah mempertahankan apa. Meski yang kurasa sekarang, cintamu tak lagi nyata, tapi harapanku begitu nyata untuk kita.

Dalam jarak sejauh ini, mungkinkah kita masih saling mendoakan? Seperti saat kita dulu masih berdekatan. Aku tak lagi paham, saat pikiranku dipenuhi hal yang tak dapat ku kendalikan dan tak ada lagi kamu yang menenangkan. Aku tak lagi paham saat hatiku ketakutan dan tak ada lagi ucapan “tenang ya, semua pasti baik-bak aja kok” yang terucap dari mulutmu.

Aku hanya bisa menatap fotomu, menikmati lengkungan senyum dan suaramu dari video-video yang tersimpan rapi dalam ponsel serta laptopku. Dengan diam-diam ku rapal namamu dalam doa. Ku kirimkan doa-doa terbaik demi bahagiamu, meski bukan aku alasannya. Kulakukan semua seakan baik-baik saja, seakan aku tak terluka, seakan tak pernah ada air mata menyakitkan, seakan tak pernah ada jarak diatara kita. Aku begitu meyakinkan diriku bahwa tak ada yang salah diantara kita.

Saat ini, apakah kamu baik-baik saja disana? Apakah rindu yang kita simpan dalam-dalam akan menemui titik temunya?

Seperti penggalan lirik dalam lagu Sorry-Pamungkas, aku masih merindukanmu disaat aku sendiri dan masih mengharapkanmu ada disampingku.

Sayang, kali ini aku amat lelah.

Pulanglah.

(tulisan yang seharusnya di posting sebelum tanggal 1 Juni)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar