Tuhan.. selamat pagi, selamat siang atau selamat
malam. Aku tak tahu di surga sedang musim
apa, penghujan, kemarau, salju,
gugur atau semi.
Surga memang tempat yang indah, tempat impian semua makhluk bumi jika sudah
saatnya kembali kepangkuanMu. Ngomong-ngomong, di bumi sedang ada pandemi yang
terjadi. Aku tahu Kau ijinkan terjadi karena Kau ingin makhluk bumi
beristirahat dan lebih peduli menjaga diri. Baiklah, aku bukan sedang ingin
membahas itu.
Aku tahu Kau tak pernah sibuk. Aku tahu Kau selalu mendengar isi
hatiku meskipun Kau
tak segera memberi jawabannya. Aku tak perlu curiga padaMu, soal Kau mendengar
doaku atau tidak. Aku percaya telingaMu tak kurang tajam untuk mendengar semua
seruanku. Kau selalu tersedia untuk siapapun yang percaya padaMu. Aku yakin
pelukanMu selalu terbuka bagi siapapun yang lelah pada dunia yang membuatnya
menggigil dan hampir putus asa. Aku mengerti tanganMu selalu siap menyatukan
kembali kepingan-kepingan hati yang patah. Sebab tanganMu tak kurang panjang
untuk selalu menolong semua makhluk bumi.
Masih tentang hal yang sama, Tuhan. Aku belum ingin mengganti
topiknya. Tentang dia, masih tentang dia. Seseorang yang selalu kuperbincangkan
sangat lama bersamaMu. Seseorang yang selalu kusebut dalam setiap frasa kata
ketika aku bercakap panjang denganMu.
Aku sudah tahu perpisahan yang Kau ciptakan adalah
sesuatu yang terbaik untukku. Aku mengerti kalau Kau sudah mempersiapkan
seseorang yang jauh lebih baik darinya. Tapi, bukan berarti aku harus absen untuk
menyebut namanya dalam doaku, kan?
Aku tahu kalau dia sudah menemukan penggantiku. Entah
lebih baik atau lebih buruk dariku. Atas alasan apapun, aku harus turut bahagia
mendengar berita itu, karena ia tak perlu merayakan kesedihannya seperti yang
aku lakukan beberapa hari terakhir ini. Seiring mendapatkan penggantiku, ia tak
perlu merasa galau ataupun merasa kehilangan. Sungguh.. aku tak pernah ingin
dia merasakan sakit seperti yang kurasakan. Aku tak pernah tega melihat kesayanganku terluka seperti luka
yang juga belum kering di dadaku. Aku hanya ingin kebahagiannya terjamin
olehMu, dengan atau tanpaku.
Tolong kali ini jangan tertawa, Tuhan. Aku tentu saja
menangis, dadaku sesak ketika tahu semua berlalu begitu cepat. Apalagi ketika
dia menemukan penggantiku dan akan menjadikannya sebagai tujuan akhir. Aku memang tak habis pikir. Padahal, aku
sedang menikmati perasaan bahagia yang meletup pelan-pelan itu. Bukannya ingin
berpikiran negatif, tapi ternyata setiap manusia punya topengnya masing-masing.
Ia bergati peran sesukanya. Sementara aku belum cukup cerdas untuk mengerti
wajah dan kenampakan aslinya. Aku hanya melihat segala hal yang ia tunjukkan
padaku, tanpa pernah tahu apa yang sebenanrnya ada dalam hatinya. Dia begitu
manis, sangat manis. Dan aku selalu suka.
Aku tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang. Bagaimana
hubungannya dengan kekasihnya. Aku tak terlalu ingin mengetahui hal itu. Aku yakin
dia pasti bahagia, karena itu yang selalu aku nginkan terjadi dalam hidupnya
seiring doa yang selalu kulantunkan padaMu untuknya.
Aku percaya dia sedang dalam titik jatuh cinta
setengah mati pada kekasihnya, dan tidak lagi membutuhkan aku dalam helaan
nafasnya. Permintaan yang sama seperti kemarin dan sebelum-sebelumya, Tuhan. Jagalah
kebahagiaannya untukku. Senyumnya adalah segalanya yang kuharapkan. Bahkan, aku
rela menangis untuknya agar ada lengkungan senyum dibibirnya. Aku ingin lakukan
apapun untuknya, tanpa melupakan rasa cintaku padaMu. Aku memang tak
menyentuhnya. Tapi, dalam jarak sejauh ini, aku bisa terus memeluknya dalam
doa. Dalam tuturan kalimatku padaMu.
Pernah terpikir agar aku bisa terkena amnesia dan
melupakan segala sakit yang pernah kurasa. Agar aku tak pernah merasa
kehilangan dan tak perlu menangisi sebuah perpisahan. Rasanya hidup tak akan
terlalu rumit jika setiap orang mudah melupakan rasa sakit dan hanya mengingat
rasa bahagia. Namun, aku tahu hidup tak bisa seperti itu, Tuhan. harus ada rasa
sakit agar kita tahu rasa bahagia. Tapi, bagiku rasa sakit yang terlalu sering
bisa membuat seseorang enggan menikmati segala sisi kehidupan yang telah
terjadi.
Aku memang tak perlu meratap, karena sepertinya ia
bahagia bersama kekasihnya.
Ia pasti telah menemukan dunia baru yang indah dan meyenangkan. Aku turut
senang jika hal itu benar, kembali pada bagian awal Tuhan. Aku tak pernah ingin
dia merasakan sakitnya perpisahan, seperti yang aku rasakan.
Akhir percakapan, aku tidak minta agar dia segera
putus dari kekasihnya, atau hubungan mereka segera kandas di tengah jalan. Aku
hanya minta agar ia selalu sehat dan mampu mengejar setiap mimpinya. Agar ia
terhindar dari setiap serangan orang yang tak menyukainya. Semoga kekasihnya
mampu membantunya dalam setiap momen kesulitannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar