Kamis, 04 Juni 2020

Demi Bahagianya


Tuhan.. selamat pagi, selamat siang atau selamat malam. Aku tak tahu di surga sedang  musim apa, penghujan, kemarau, salju, gugur atau semi. Surga memang tempat yang indah, tempat impian semua makhluk bumi jika sudah saatnya kembali kepangkuanMu. Ngomong-ngomong, di bumi sedang ada pandemi yang terjadi. Aku tahu Kau ijinkan terjadi karena Kau ingin makhluk bumi beristirahat dan lebih peduli menjaga diri. Baiklah, aku bukan sedang ingin membahas itu.

Aku tahu Kau tak pernah sibuk. Aku tahu Kau selalu mendengar isi hatiku meskipun Kau tak segera memberi jawabannya. Aku tak perlu curiga padaMu, soal Kau mendengar doaku atau tidak. Aku percaya telingaMu tak kurang tajam untuk mendengar semua seruanku. Kau selalu tersedia untuk siapapun yang percaya padaMu. Aku yakin pelukanMu selalu terbuka bagi siapapun yang lelah pada dunia yang membuatnya menggigil dan hampir putus asa. Aku mengerti tanganMu selalu siap menyatukan kembali kepingan-kepingan hati yang patah. Sebab tanganMu tak kurang panjang untuk selalu menolong semua makhluk bumi.

Masih tentang hal yang sama, Tuhan. Aku belum ingin mengganti topiknya. Tentang dia, masih tentang dia. Seseorang yang selalu kuperbincangkan sangat lama bersamaMu. Seseorang yang selalu kusebut dalam setiap frasa kata ketika aku bercakap panjang denganMu.

Aku sudah tahu perpisahan yang Kau ciptakan adalah sesuatu yang terbaik untukku. Aku mengerti kalau Kau sudah mempersiapkan seseorang yang jauh lebih baik darinya. Tapi, bukan berarti aku harus absen untuk menyebut namanya dalam doaku, kan?

Aku tahu kalau dia sudah menemukan penggantiku. Entah lebih baik atau lebih buruk dariku. Atas alasan apapun, aku harus turut bahagia mendengar berita itu, karena ia tak perlu merayakan kesedihannya seperti yang aku lakukan beberapa hari terakhir ini. Seiring mendapatkan penggantiku, ia tak perlu merasa galau ataupun merasa kehilangan. Sungguh.. aku tak pernah ingin dia merasakan sakit seperti yang kurasakan. Aku tak pernah tega melihat kesayanganku terluka seperti luka yang juga belum kering di dadaku. Aku hanya ingin kebahagiannya terjamin olehMu, dengan atau tanpaku.

Tolong kali ini jangan tertawa, Tuhan. Aku tentu saja menangis, dadaku sesak ketika tahu semua berlalu begitu cepat. Apalagi ketika dia menemukan penggantiku dan akan menjadikannya sebagai tujuan akhir.  Aku memang tak habis pikir. Padahal, aku sedang menikmati perasaan bahagia yang meletup pelan-pelan itu. Bukannya ingin berpikiran negatif, tapi ternyata setiap manusia punya topengnya masing-masing. Ia bergati peran sesukanya. Sementara aku belum cukup cerdas untuk mengerti wajah dan kenampakan aslinya. Aku hanya melihat segala hal yang ia tunjukkan padaku, tanpa pernah tahu apa yang sebenanrnya ada dalam hatinya. Dia begitu manis, sangat manis. Dan aku selalu suka.

Aku tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang. Bagaimana hubungannya dengan kekasihnya. Aku tak terlalu ingin mengetahui hal itu. Aku yakin dia pasti bahagia, karena itu yang selalu aku nginkan terjadi dalam hidupnya seiring doa yang selalu kulantunkan padaMu untuknya.

Aku percaya dia sedang dalam titik jatuh cinta setengah mati pada kekasihnya, dan tidak lagi membutuhkan aku dalam helaan nafasnya. Permintaan yang sama seperti kemarin dan sebelum-sebelumya, Tuhan. Jagalah kebahagiaannya untukku. Senyumnya adalah segalanya yang kuharapkan. Bahkan, aku rela menangis untuknya agar ada lengkungan senyum dibibirnya. Aku ingin lakukan apapun untuknya, tanpa melupakan rasa cintaku padaMu. Aku memang tak menyentuhnya. Tapi, dalam jarak sejauh ini, aku bisa terus memeluknya dalam doa. Dalam tuturan kalimatku padaMu.

Pernah terpikir agar aku bisa terkena amnesia dan melupakan segala sakit yang pernah kurasa. Agar aku tak pernah merasa kehilangan dan tak perlu menangisi sebuah perpisahan. Rasanya hidup tak akan terlalu rumit jika setiap orang mudah melupakan rasa sakit dan hanya mengingat rasa bahagia. Namun, aku tahu hidup tak bisa seperti itu, Tuhan. harus ada rasa sakit agar kita tahu rasa bahagia. Tapi, bagiku rasa sakit yang terlalu sering bisa membuat seseorang enggan menikmati segala sisi kehidupan yang telah terjadi. 

Aku memang tak perlu meratap, karena sepertinya ia bahagia bersama kekasihnya. Ia pasti telah menemukan dunia baru yang indah dan meyenangkan. Aku turut senang jika hal itu benar, kembali pada bagian awal Tuhan. Aku tak pernah ingin dia merasakan sakitnya perpisahan, seperti yang aku rasakan.

Akhir percakapan, aku tidak minta agar dia segera putus dari kekasihnya, atau hubungan mereka segera kandas di tengah jalan. Aku hanya minta agar ia selalu sehat dan mampu mengejar setiap mimpinya. Agar ia terhindar dari setiap serangan orang yang tak menyukainya. Semoga kekasihnya mampu membantunya dalam setiap momen kesulitannya.

Sekali lagi kembali pada bagian awal, Tuhan. Aku hanya ingin ia bahagia. Cukup

Tidak ada komentar:

Posting Komentar