Minggu, 16 September 2018

Secangkir kopi tubruk dan secangkir cokelat panas


Ini pertemuan kami yang ketiga setelah beberapa kali dia menolak ajakkan ku untuk bertemu. Kali ini dia yang terlebih dahulu mengajakku menghabiskan waktu bersama. “Aku butuh liburan, temenin aku ya” begitu katanya dalam pesan singkat yang dia kirimkan padaku beberapa hari lalu. Itulah alasan mengapa hari ini kami bertemu.

Kini sudah sekitar lima jam kami bersama. Menonton film di bioskop, makan siang bersama serta menikmati ice cream bersama, lalu pergi menikmati kopi di sebuah cafe kecil yang tak jauh dari tempat kami makan sebelumnya. “Aku mau minum kopi” begitu katanya padaku. Maka dari itulah kami ada ditempat ini saat ini.

“Kamu mau pesan kopi apa?” tanyaku padanya yang masih sibuk melihat daftar menu yang dipegangnya.
“Aku mau kopi tubruk aja, deh. Kopinya yang Arabica Mandailing tapi yaa.”
“Oke” kataku.

Setelah itu aku berlalu meninggalkannya dan menuju tempat pemesanan. Aku memesan secangkir kopi tubruk pesanannya, dan aku memesan secangkir cokelat panas untukku. Sebab aku tak begitu menyukai kopi. Kemudian aku kembali ke bangku ku dan menemukannya tengah asyik memainkan seluler genggamnya. Tak berapa lama menunggu, pesanan kami datang.

Ia terlihat begitu menyukai kopi pesanannya. Menikmati hangatnya dan menciumi aroma khas kopi Arabica Mandailing yang di pesannya. Aku pun serupa menikmati cokelat panas pesanan ku.
“Kamu mau coba enggak?” dia menawari kopinya padaku.
“Pahit enggak kopinya? Aku enggak terlalu suka kopi” ucap ku menatap wajahnya dengan mantap.
“Enggak kok. Coba deh” katanya sambil menyodorkan cangkir kopinya padaku.
“Aku coba sedikit ya.” Ku gunakan sendok yang tadi ku pakai untuk mengaduk cokelat panas ku, kuambil sedikit di ujung bibir sendok kemudian aku mencoba kopi tubruk miliknya.
“Kok pahit banget, sih” kataku seketika setelah mencoba kopi miliknya dengan muka menahan rasa pahit.
“Masa, sih? Padahal aku minumnya manis loh” katanya sambil menahan senyum melihat wajah ku yang mungkin terlihat lucu karena kepahitan.
“Pahit begini kok dibilang manis, sih” balasku dengan nada yang sedikit ditekan.
“Iya, manis. Soalnya aku minum kopinya sambil lihat kamu, jadi rasanya manis. Pahitnya enggak terasa sama sekali” katanya sambil tersenyum memandang ku. Seketika aku ikut tersenyum.
“Gombal banget sih, bang” balasku malu-malu seraya membuang muka dan kembali menyeruput secangkir cokelat panasku yang sedang kupegang. 

Tak dapat ku pungkiri aku menyukai rayuan gombalannya. Ku pandangi dia yang kini asyik dengan layar ponselnya. Kunikmati setiap lekukan wajahnya, kunikmati setiap senyum simpulnya serta setiap lirikannya menatapku yang lalu kemudian kami tertawa bersama ketika tatapan kami tak sengaja bertemu.

“Mengapa kau selalu tak bisa kubaca jalan pikirannya? Mengapa kau bisa membuatku jatuh cinta dan bimbang dengan rasa ini diwaktu yang bersamaan” hatiku membatin sambil sesekali mencuri melirik wajahnya.

Kami menikmati minuman kami hingga habis seraya menguraikan setiap cerita tentang banyak hal. Diiringi musik syahdu di tengah sore menjelang malam, penerangan dengan lampu temaram serta angin berhembus sejuk menyatu. Semua terasa sempurna.

Jelang beberapa saat setelah kopi tubruknya dan cokelat panasku habis tak tersisa, kami memutuskan untuk meninggalkan tempat ini untuk kemudian menuju pulang. Kurasakan hatiku semakin berdegup lebih kencang setelah apa yang kami lalui bersama sepanjang hari ini. Diatas motornya sambil menyusuri jalan menuju rumah, aku hanya mampu tersenyum menikmati sisa hari ini bersamanya. Aku sungguh menikmatinya. Entah, bagaimana dengan dirinya. “Semoga dia menikmatinya juga” begitu bisikku dalam hati sambil melihat arah kaca motor bagian kanannya dan melihat sebagian wajahnya.
 
“Oke, sampai!” katanya sambil mematikan motornya.
“Thanks ya, Bang” Ucap ku setelah turun dari motornya.
“Sama-sama” katanya.
“Abang enggak mau mampir dulu?” tanyaku.
“Enggak deh, lain kali aja. Aku ada latihan basket lagi.”
“Oh gitu. Oke, kalau begitu hati-hati ya Bang.”
“Iya” jawabnya sambil melontarkan senyum manis khasnya yang aku suka.
Dia menyalakan sepeda motornya, kemudian berlalu dan pergi meninggalkanku di depan rumah yang masih melihat ke arah punggungnya seraya tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya.

Aku mengirimkan pesan terakhir hari ini setelah seharian kami bersama “Selamat malam, Bang, Terima kasih untuk hari ini. Menyenangkan.” Yang kemudian hanya dibalas “Iya. Sama-sama. Thanks juga, ya”.

Lalu kami kembali seperti tak saling mengenal, kembali pada dunia kami masing-masing. Aku yang masih terus berharap padanya dan dia yang begitu cuek padaku. Setelahnya tidak ada pesan singkat, tidak ada sapaan istimewa, semuanya serba biasa seperti biasanya.