Ini pertemuan kami yang ketiga
setelah beberapa kali dia menolak ajakkan ku untuk bertemu. Kali ini dia yang
terlebih dahulu mengajakku menghabiskan waktu bersama. “Aku butuh liburan,
temenin aku ya” begitu katanya dalam pesan singkat yang dia kirimkan padaku
beberapa hari lalu. Itulah alasan mengapa hari ini kami bertemu.
Kini sudah sekitar lima jam kami
bersama. Menonton film di bioskop, makan siang bersama serta menikmati ice
cream bersama, lalu pergi menikmati kopi di sebuah cafe kecil yang tak jauh dari
tempat kami makan sebelumnya. “Aku mau minum kopi” begitu katanya padaku. Maka
dari itulah kami ada ditempat ini saat ini.
“Kamu mau pesan kopi apa?”
tanyaku padanya yang masih sibuk melihat daftar menu yang dipegangnya.
“Aku mau kopi tubruk aja, deh.
Kopinya yang Arabica Mandailing tapi yaa.”
“Oke” kataku.
Setelah itu aku berlalu
meninggalkannya dan menuju tempat pemesanan. Aku memesan secangkir kopi tubruk
pesanannya, dan aku memesan secangkir cokelat panas untukku. Sebab aku tak
begitu menyukai kopi. Kemudian aku kembali ke bangku ku dan menemukannya tengah
asyik memainkan seluler genggamnya. Tak berapa lama menunggu, pesanan kami
datang.
Ia terlihat begitu menyukai kopi
pesanannya. Menikmati hangatnya dan menciumi aroma khas kopi Arabica Mandailing
yang di pesannya. Aku pun serupa menikmati cokelat panas pesanan ku.
“Kamu mau coba enggak?” dia
menawari kopinya padaku.
“Pahit enggak kopinya? Aku enggak
terlalu suka kopi” ucap ku menatap wajahnya dengan mantap.
“Enggak kok. Coba deh” katanya
sambil menyodorkan cangkir kopinya padaku.
“Aku coba sedikit ya.” Ku gunakan
sendok yang tadi ku pakai untuk mengaduk cokelat panas ku, kuambil sedikit
di ujung bibir sendok kemudian aku mencoba kopi tubruk miliknya.
“Kok pahit banget, sih” kataku
seketika setelah mencoba kopi miliknya dengan muka menahan rasa pahit.
“Masa, sih? Padahal aku minumnya
manis loh” katanya sambil menahan senyum melihat wajah ku yang mungkin terlihat
lucu karena kepahitan.
“Pahit begini kok dibilang manis,
sih” balasku dengan nada yang sedikit ditekan.
“Iya, manis. Soalnya aku minum
kopinya sambil lihat kamu, jadi rasanya manis. Pahitnya enggak terasa sama
sekali” katanya sambil tersenyum memandang ku. Seketika aku ikut tersenyum.
“Gombal banget sih, bang” balasku
malu-malu seraya membuang muka dan kembali menyeruput secangkir cokelat panasku
yang sedang kupegang.
Tak dapat ku pungkiri aku menyukai
rayuan gombalannya. Ku pandangi dia yang kini asyik dengan layar ponselnya.
Kunikmati setiap lekukan wajahnya, kunikmati setiap senyum simpulnya serta setiap
lirikannya menatapku yang lalu kemudian kami tertawa bersama ketika tatapan
kami tak sengaja bertemu.
“Mengapa kau selalu tak bisa
kubaca jalan pikirannya? Mengapa kau bisa membuatku jatuh cinta dan bimbang
dengan rasa ini diwaktu yang bersamaan” hatiku membatin sambil sesekali mencuri
melirik wajahnya.
Kami menikmati minuman kami
hingga habis seraya menguraikan setiap cerita tentang banyak hal. Diiringi
musik syahdu di tengah sore menjelang malam, penerangan dengan lampu temaram
serta angin berhembus sejuk menyatu. Semua terasa sempurna.
Jelang beberapa saat setelah kopi
tubruknya dan cokelat panasku habis tak tersisa, kami memutuskan untuk
meninggalkan tempat ini untuk kemudian menuju pulang. Kurasakan hatiku semakin
berdegup lebih kencang setelah apa yang kami lalui bersama sepanjang hari ini. Diatas
motornya sambil menyusuri jalan menuju rumah, aku hanya mampu tersenyum
menikmati sisa hari ini bersamanya. Aku sungguh menikmatinya. Entah, bagaimana
dengan dirinya. “Semoga dia menikmatinya juga” begitu bisikku dalam hati sambil
melihat arah kaca motor bagian kanannya dan melihat sebagian wajahnya.
“Oke, sampai!” katanya sambil
mematikan motornya.
“Thanks ya, Bang” Ucap ku setelah
turun dari motornya.
“Sama-sama” katanya.
“Abang enggak mau mampir dulu?”
tanyaku.
“Enggak deh, lain kali aja. Aku
ada latihan basket lagi.”
“Oh gitu. Oke, kalau begitu hati-hati
ya Bang.”
“Iya” jawabnya sambil melontarkan
senyum manis khasnya yang aku suka.
Dia menyalakan sepeda motornya,
kemudian berlalu dan pergi meninggalkanku di depan rumah yang masih melihat
ke arah punggungnya seraya tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya.
Aku mengirimkan pesan terakhir
hari ini setelah seharian kami bersama “Selamat malam, Bang, Terima kasih untuk
hari ini. Menyenangkan.” Yang kemudian hanya dibalas “Iya. Sama-sama. Thanks
juga, ya”.
Lalu kami kembali seperti tak
saling mengenal, kembali pada dunia kami masing-masing. Aku yang masih terus
berharap padanya dan dia yang begitu cuek padaku. Setelahnya tidak ada pesan
singkat, tidak ada sapaan istimewa, semuanya serba biasa seperti biasanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar