Akhirnya kamu pergi lagi, salahku bikin kamu pergi. Dan mungkin kamu juga enggak akan pernah baca
tulisan ini. Kalau nanti kamu baca tulisan ini, semoga nggak ada yang jadi masalah yaa.
Oke. Baiklah. Sampai bertemu beberapa bulan kedepan dengan cerita yang berbeda tentunya dan lagi-lagi aku berharap tidak akan menjadi masalah. Atau
mungkin kamu sudah tidak akan mengirimiku chat lagi seperti ini.
Sebelumnya aku mau ngucapin terimakasih untuk setiap ‘Surat
CintaNYA” yang selalu kamu kirimkan. Mungkin cuma itu yang jadi penghubung
terus antara aku dan kamu.
Terimakasih juga untuk semangat dan supportnya. Sadar atau
enggak, kamu udah jadi amunisi mujarab aku selama aku nyusun skripsi bab satu
ku. Kamu juga udah bikin aku benci dan cinta diwaktu yang bersamaan. Kamu tahu
enggak kenapa? Aku benci karena aku harus tetap tersenyum dan tampak seperti
tidak ada apa-apa di depan kamu dan wanitamu, meski nyatanya hati aku perih.
Dan aku juga enggak bisa tipu hati aku kalau sampai saat ini kamu masih punya tempat berbeda dihati aku.
Kali ini dengan alasan apa dan maksud apa aku juga enggak
paham. Kamu tiba-tiba datang dan hancurin benteng pertahanan aku. Dengan senyum dan lirikan malu-malu kucingmu malam itu mataku dan matamu tak sengaja tepat beradu pandang, dan aku tahu kalau kamu memang sedang memandangiku dengan dalamnya. Seketika kamu berhasil menghancurkan setengah benteng pertahananku. Dengan obrolan kita di pesan singkat malam itu hingga pagi berlanjut, untuk pertama kalinya kamu bilang kalau kamu kangen aku. Dan aku baru tahu ternyata rasa kangen itu bisa timbul di hati kamu. Kau ingat tidak, waktu itu aku bertanya kenapa kau melihatku dengan cara menstare hingga sebegitunya? Dan jawabmu "emang sengaja ngeliatin begitu biar matanya saling ketemu". Kau tahu, aku terkejut mendengar jawabanmu. Sadar atau enggak, itu pertama kalinya kamu dengan gamblang mengungkapkan isi hati kamu setelah hubungan kita lama berakhir.
Lalu sempat kita berhenti beberapa hari. Kupikir memang semuanya hanya sekedar obat penawar biasa tanpa makna. Namun kamu datang dengan satu kata “hay” di malam yang berbeda. Saat itu kamu bikin pertahanan yang udah aku bangun selama ini rubuh. Hanya dengan satu kata “hay” itu, akhirnya kita berlanjut berbalas pesan singkat hingga tanpa sadar kita menggunakan panggilan “miss dan abang” lagi seperti dulu waktu aku dan kamu masih menjadi kita. Entah karena rasa rindumu yang memuncak maka kau dengan senangnya panggil aku dengan sebutan itu lagi, atau ada alasan lain apa aku pun tak tahu.
Lalu sempat kita berhenti beberapa hari. Kupikir memang semuanya hanya sekedar obat penawar biasa tanpa makna. Namun kamu datang dengan satu kata “hay” di malam yang berbeda. Saat itu kamu bikin pertahanan yang udah aku bangun selama ini rubuh. Hanya dengan satu kata “hay” itu, akhirnya kita berlanjut berbalas pesan singkat hingga tanpa sadar kita menggunakan panggilan “miss dan abang” lagi seperti dulu waktu aku dan kamu masih menjadi kita. Entah karena rasa rindumu yang memuncak maka kau dengan senangnya panggil aku dengan sebutan itu lagi, atau ada alasan lain apa aku pun tak tahu.
Aku juga gak paham kenapa kamu nampak asyik berbalas pesan
singkat denganku hingga larut malam. Aku juga gak paham kenapa kamu nampak sangat
menikmati bersenda gurau membahas ini dan itu denganku hingga larut malam. Aku
juga masih belum paham kenapa hati aku ngerasa deg-degan saat malam itu kamu
minta ID Line aku dan langsung videocall aku malam itu juga. Dengan alasan
hanya mencoba yang kamu ucap kurasa itu tak masuk akal, karena wanitamu
seringkali memposting foto videocall kalian. Ah entahlah apa alasannya, satu
hal yang kutahu, ini seharusnya tidak boleh terjadi.
Dan sekarang kamu pergi lagi. Dan aku harus mulai lagi buat bikin pondasi dan pertahan baru buat bangun “MoveOn Tower” aku yang
udah rubuh. Aku gak pernah paham apa yang bikin kamu sebegitu besar efeknya
buat aku. Aku penasaran mantra apa sih yang kamu pakai untuk bikin aku jatuh
cinta, terus patah hati, terus jatuh cinta lagi, dan begitu seterusnya entah
sampai kapan.
Oh iya, kamu ingat saat perdebatan malam kita tentang jam
berapa anak kita boleh pulang larut malam? Kamu bilang jika kamu jadi bapaknya,
kamu akan ijinkan anakmu pulang jam 1 malam. Sedangkan aku, jika aku jadi
ibunya aku hanya mengijinkan anakku pulang jam 12 malam. Perdebatan yang aneh
memang. Tapi bagaimanapun itu salah satu percakapan kita yang aku sukai. Kamu bertahan dengan pola pikir serta pendapatmu, aku pun sama tak mau kalah dengan pendapatku.
Mungkin tulisan ini berlebihan. Tapi kita tidak pernah tahu kan apa yang masa depan akan berikan? Jadi aku mengaminkan kalau kita bisa mengusahakan agar kita jodoh atau kita bisa sama-sama mengusahakan minta ke Tuhan supaya kita berjodoh, atau cuma aku yang berharap kayak gitu?
Ah, aku enggak tahu. Kuserahkan semuanya pada Tuhan. Fokusku
sekarang mengistirahatkan hati aku yang lelah karena mungkin sekarang aku hanya
sedang merasa kesepian dan butuh teman saja. Tapi kalaupun nanti kamu jodohnya
orang lain, atau aku jodohnya oranglain, aku harap itu benar-benar yang terbaik
dari Tuhan. Aku juga berharap perasaan sayang aku ke kamu atau perasaan sayang kamu ke aku udah hilang 100% dan
pindah ke jodoh kita masing-masing.
Mungkin ada benarnya juga apa yang temanku bilang kalau aku
gak boleh hanya jadi pelengkap kebahagiaan seseorang. Aku juga berhak untuk
temukan kebahagiaan sendiri, buka hati buat yang lain dan rasain jatuh cinta
yang sebenarnya itu gimana, pasti rasanya jauh lebih indah. Jadi, biarin aku move on,
ya? Biarin aku jatuh cinta lagi sama oranglain, kalau nanti kita jodoh, kita
bakal sama-sama kok, dengan caranya Tuhan yang indah dan pasti bukan dengan
cara yang sembunyi-sembunyi seperti ini. Doakan saja ya semoga yang terbaik datang pada kita secepatnya. Nanti, semoga.
Miss Ester