Jumat, 23 Desember 2016

Nanti, Semoga.



Akhirnya kamu pergi lagi, salahku bikin kamu pergi.  Dan mungkin kamu juga enggak akan pernah baca tulisan ini. Kalau nanti kamu baca tulisan ini, semoga nggak ada yang jadi masalah yaa.

Oke. Baiklah. Sampai bertemu beberapa bulan kedepan dengan cerita yang berbeda tentunya dan lagi-lagi aku berharap tidak akan menjadi masalah.  Atau mungkin kamu sudah tidak akan mengirimiku chat lagi seperti ini.

Sebelumnya aku mau ngucapin terimakasih untuk setiap ‘Surat CintaNYA” yang selalu kamu kirimkan. Mungkin cuma itu yang jadi penghubung terus antara aku dan kamu.

Terimakasih juga untuk semangat dan supportnya. Sadar atau enggak, kamu udah jadi amunisi mujarab aku selama aku nyusun skripsi bab satu ku. Kamu juga udah bikin aku benci dan cinta diwaktu yang bersamaan. Kamu tahu enggak kenapa? Aku benci karena aku harus tetap tersenyum dan tampak seperti tidak ada apa-apa di depan kamu dan wanitamu, meski nyatanya hati aku perih. Dan aku juga enggak bisa tipu hati aku kalau sampai saat ini kamu  masih punya tempat berbeda dihati aku.

Kali ini dengan alasan apa dan maksud apa aku juga enggak paham. Kamu tiba-tiba datang dan hancurin benteng pertahanan aku. Dengan senyum dan lirikan malu-malu kucingmu malam itu mataku dan matamu tak sengaja tepat beradu pandang, dan aku tahu kalau kamu memang sedang memandangiku dengan dalamnya. Seketika kamu berhasil menghancurkan setengah benteng pertahananku. Dengan obrolan kita di pesan singkat malam itu hingga pagi berlanjut, untuk pertama kalinya kamu bilang kalau kamu kangen aku. Dan aku baru tahu ternyata rasa kangen itu bisa timbul di hati kamu. Kau ingat tidak, waktu itu aku bertanya kenapa kau melihatku dengan cara menstare hingga sebegitunya? Dan jawabmu "emang sengaja ngeliatin begitu biar matanya saling ketemu". Kau tahu, aku terkejut mendengar jawabanmu. Sadar atau enggak, itu pertama kalinya kamu dengan gamblang mengungkapkan isi hati kamu setelah hubungan kita lama berakhir.

Lalu sempat kita berhenti beberapa hari. Kupikir memang semuanya hanya sekedar obat penawar biasa tanpa makna. Namun kamu datang dengan satu kata “hay” di malam yang berbeda. Saat itu kamu bikin pertahanan yang udah aku bangun selama ini rubuh. Hanya dengan satu kata “hay” itu, akhirnya kita berlanjut berbalas pesan singkat hingga tanpa sadar kita menggunakan panggilan “miss dan abang” lagi seperti dulu waktu aku dan kamu masih menjadi kita. Entah karena rasa rindumu yang memuncak maka kau dengan senangnya panggil aku dengan sebutan itu lagi, atau ada alasan lain apa aku pun tak tahu.

Aku juga gak paham kenapa kamu nampak asyik berbalas pesan singkat denganku hingga larut malam. Aku juga gak paham kenapa kamu nampak sangat menikmati bersenda gurau membahas ini dan itu denganku hingga larut malam. Aku juga masih belum paham kenapa hati aku ngerasa deg-degan saat malam itu kamu minta ID Line aku dan langsung videocall aku malam itu juga. Dengan alasan hanya mencoba yang kamu ucap kurasa itu tak masuk akal, karena wanitamu seringkali memposting foto videocall kalian. Ah entahlah apa alasannya, satu hal yang kutahu,  ini seharusnya tidak boleh terjadi.

Dan sekarang kamu pergi lagi. Dan aku harus mulai lagi buat bikin pondasi dan pertahan baru buat bangun “MoveOn Tower” aku yang udah rubuh. Aku gak pernah paham apa yang bikin kamu sebegitu besar efeknya buat aku. Aku penasaran mantra apa sih yang kamu pakai untuk bikin aku jatuh cinta, terus patah hati, terus jatuh cinta lagi, dan begitu seterusnya entah sampai kapan.

Oh iya, kamu ingat saat perdebatan malam kita tentang jam berapa anak kita boleh pulang larut malam? Kamu bilang jika kamu jadi bapaknya, kamu akan ijinkan anakmu pulang jam 1 malam. Sedangkan aku, jika aku jadi ibunya aku hanya mengijinkan anakku pulang jam 12 malam. Perdebatan yang aneh memang. Tapi bagaimanapun itu salah satu percakapan kita yang aku sukai. Kamu bertahan dengan pola pikir serta pendapatmu, aku pun sama tak mau kalah dengan pendapatku.

Mungkin tulisan ini berlebihan. Tapi kita tidak pernah tahu kan apa yang masa depan akan berikan? Jadi aku mengaminkan kalau kita bisa mengusahakan agar kita jodoh atau kita bisa sama-sama mengusahakan minta ke Tuhan supaya kita berjodoh, atau cuma aku yang berharap kayak gitu?

Ah, aku enggak tahu. Kuserahkan semuanya pada Tuhan. Fokusku sekarang mengistirahatkan hati aku yang lelah karena mungkin sekarang aku hanya sedang merasa kesepian dan butuh teman saja. Tapi kalaupun nanti kamu jodohnya orang lain, atau aku jodohnya oranglain, aku harap itu benar-benar yang terbaik dari Tuhan. Aku juga berharap perasaan sayang aku ke kamu atau perasaan sayang kamu ke aku udah hilang 100% dan pindah ke jodoh kita masing-masing.

Mungkin ada benarnya juga apa yang temanku bilang kalau aku gak boleh hanya jadi pelengkap kebahagiaan seseorang. Aku juga berhak untuk temukan kebahagiaan sendiri, buka hati buat yang lain dan rasain jatuh cinta yang sebenarnya itu gimana, pasti rasanya jauh lebih indah. Jadi, biarin aku move on, ya? Biarin aku jatuh cinta lagi sama oranglain, kalau nanti kita jodoh, kita bakal sama-sama kok, dengan caranya Tuhan yang indah dan pasti bukan dengan cara yang sembunyi-sembunyi seperti ini. Doakan saja ya semoga yang terbaik datang pada kita secepatnya. Nanti, semoga.

Miss Ester

Kamis, 04 Februari 2016

Surat Untuk Lelapmu



Selamat malam..
Ini surat yang ku tulis untuk tidurmu malam ini. Agar di saat kau tertidur, aku masih bisa menutur rasa padamu. Menghabiskan terjaganya mataku, demi masih menumpuk rindu yang tumbuhnya tidak kira-kira.

Jika pernah terbesit di fikirmu, tentang mengapa begitu keras kepalanya aku. Mengapa ada aku yang masih memasung diri di cinta yang bahkan kau sendiri tak tahu ingin meletakkannya di mana. Biar ku beri tahu rahasia kecilku, aku ini bukanlah perempuan cantik yang bisa menyenangkan hatimu, tidak juga memiliki hati malaikat yang menyejukkanmu, tidak cerdas hingga bisa membuatmu terkagum, tidak pula memiliki banyak hal hingga bisa memberimu sedikitpun.

Tak ada hal apapun yang seharusnya membuatku begitu percaya diri untuk tetap di sana, berdiri di sisimu sebagai seseorang yang terus ingin kau cari.

Namun tahukah rahasia kecil itu? Rahasia hati yang menidurkan rasa tahu diriku? Ini adalah tentang sebuah perasaan, sesuatu yang tidak bisa dinilai dengan harga atau ukuran. Ya, namanya cinta.

Hmm iya, hingga bila kau ingin aku melunak, dan segera beranjak dari hidupmu. Tolong beritahuku perasaanmu sebagaimana panjangnya waktu yang kita lewati, kurasa ia sudah cukup detail menjelaskan perasaanku, bukan?

Rahasia kecil itu hanya sebuah pengakuan, cukup katakan balasan hatimu padaku. Sesakit apapun kemudian untukku, percayalah sebesar apapun aku mencintaimu. Cinta akan tetap memilih kebahagiaanmu.

Namun jika cinta ternyata tak menepuk angin, apakah kau masih tak mempercayaiku bahwa apapun itu aku akan selalu di sisimu?

Ah benar, cinta hanyalah perasaan-perasaan yang bisa berubah kapanpun tanpa kita tahu. Ia rapuh, seperti gelas kaca yang sekali jatuh akan pecah berkeping dan berantakan. Dan iya, cintaku memang tidaklah sejati.

Namun jika ada perempuan yang perasaannya berubah setiap waktu hanya menjadi semakin besar, dan walau berkali jatuh hingga pecah oleh pengabaian ia tetap berdiri di sana. Bolehkah ku katakan sesuatu? Bolehkah kuberi tahu jawabannya?
Ya, perempuan itu adalah aku.

Dan kamu, pria yang kucintai. Yang begitu pandai merebut hati serta segala pengertian tentang cinta.
Selamat malam.
Selamat melelapkan lelahmu.
Esok bila kau terbangun, tersenyumlah dan bahagialah. Itu cukup membuatku bahagia.

Sabtu, 30 Januari 2016

Selamat Bahagia, Kamu


Ku pastikan ini jentikan jemariku yang terakhir tentangmu. Ku pastikan malam ini adalah malam terakhir aku menyimpan namamu dalam hatiku. Ku pastikan malam ini adalah malam terakhir aku mengingat dan mengenang semua kenangan tentang kita. Dan ku pastikan malam kemarin dan pagi ini adalah yang terakhir airmata ku terjatuh, tumpah karena kamu.

Aku mengikhlaskan semuanya. Aku mengikhlaskan kamu memilih dia sebagai rumahmu. Aku mengikhlaskan kamu bercanda dan bersenda gurau dengannya. Aku mengikhlaskan kamu menghabiskan waktumu dengannya. Aku mengikhlaskan dia mengambil semua kebahagiaanku. Dan aku mengikhlaskan dia menjadi tujuan terakhirmu.

Aku tidak akan pernah membencimu. Aku tidak akan pernah meletakkan dendam sedikitpun padamu. Aku tidak akan pernah menaruh amarah apapun padamu. Hanya saja aku butuh waktu untuk sembuhkan lukaku. Lukaku masih amat sangat basah, entah kapan akan kering, aku harap secepatnya. Kalau pun aku menjauh bukan berarti aku ingin kamu pergi. Aku tidak sebenci itu padamu. Ini hanyalah caraku untuk menenangkan diriku, bahwa seseorang yang pernah ku perjuangkan sendiri gagal untuk kumilikki.

Aku akan selalu belajar menghapus semua tetang kita hingga nanti rasaku benar-benar hilang bukan hanya sekedar pudar. Aku akan berusaha semampuku untuk menyangkal rasa sakit meski aku tahu itu tak mudah. Aku juga akan belajar untuk meletakkan list namamu sebagai teman biasaku.

Aku selalu tahu, mengaggapmu tak pernah ada memang sangat sulit. Tapi aku harus melakukannya. Aku ingin bebas tanpa ada lagi yang terganjal. Aku ingin berlari kencang tanpa lagi melihat kebelakang. Setiap kenangan manis yang pernah kita buat biar hanya menjadi kenangan yang tak ingin kuingat lagi adanya. Biar aku yang akan bereskan sendiri, berusaha untuk kuat meski perasaan masih saja sekarat.

Maaf, jika aku selalu menjadi wanita munafik dihadapanmu. Maaf, jika aku selalu tak jujur dengan perasaanku. Aku melakukan hal itu agar kamu tak pergi. Agar kamu tetap bersamaku. Kamu mungkin tak akan pernah paham bagaimana aku sudah meletakkan banyak mimpiku bersamamu. Kamu juga tidak akan pernah paham kenapa malam itu aku meminta kita untuk saling jujur tentang apapun, dan aku bahagia kamu mengiyakannya. Kamu juga tak akan pernah paham mengapa aku harus menipu perasaanku malam itu. Semuanya ku lakukan karena aku tak ingin kamu pergi. Aku tak ingin kamu merasa pusing dengan perasaan bodohku.

Ahh, kamu. Bagiku kamu tetaplah kamu. Seseorang yang pernah kucintai dan kurindukan di malam-malamku. Bagaimanapun, aku pernah kamu panggil sayang. Bagaimanapun, kita pernah bercumbu dalam ikatan perasaan yang nyata. Perasaan yang masih saja ada, meski berkali-kali kucoba untuk mengusirnya.
Tenang, kupastikan akan segera hilang. Kalau pun nanti aku memilih seseorang yang lain untuk menemani hidup, menghabiskan sisa waktu, serta menjadi rumah dan tujuan, sudah kupastikan dia bukan pilihan atas sebuah pelarian. Karena aku percaya bahwa aku akan menemukan dan ditemukan oleh seseorang yang paham menjaga hati dan tidak akan pernah melepaskanku dengan rasa patah hati.

Terimakasih sudah pernah singgah meski hanya sebentar. Terimakasih sudah menunjukkan dunia yang berbeda walau hanya sebentar. Terimakasih sudah menjadi alasanku untuk selalu kuat menghadapi semua omongan orang. Terimakasih sudah pernah menjadi alasanku untuk tetap tersenyum meski dalam keadaan sulit. Terimakasih sudah pernah mencintaiku walau tak sedalam rasaku. Terimakasih sudah bersedia untuk bersama.

Dan untuk kamu, terus jadi pria dewasa yang hebat yaa.

Tunjukkan padaku kalau kamu bukanlah pria lemah dan payah. Jangan pernah berhenti tersenyum dan bahagia meski keadaan tak seperti yang kamu harapkan. Dan tolong cintai dia sebagaimana layaknya kekasih. Jangan jadikan dia seperti oranglain yang hanya merasa bahagia sendiri. Karena itu rasanya amat sangat menyakitkan. Ada, tapi hanya dianggap seperti bayangan.

Harus jujur dan terbuka apapun alasan dan masalahnya, karena hubungan yang baik adalah hubungan yang memiliki rasa saling didalamnya serta dijalankan dengan dua orang, bukan sendiri apalagi bertiga.
Selamat bahagia kamu, senjaku.


Dari wanita yang ingin dilihat
bukan sekedar dilirik.