Kamis, 04 Februari 2016

Surat Untuk Lelapmu



Selamat malam..
Ini surat yang ku tulis untuk tidurmu malam ini. Agar di saat kau tertidur, aku masih bisa menutur rasa padamu. Menghabiskan terjaganya mataku, demi masih menumpuk rindu yang tumbuhnya tidak kira-kira.

Jika pernah terbesit di fikirmu, tentang mengapa begitu keras kepalanya aku. Mengapa ada aku yang masih memasung diri di cinta yang bahkan kau sendiri tak tahu ingin meletakkannya di mana. Biar ku beri tahu rahasia kecilku, aku ini bukanlah perempuan cantik yang bisa menyenangkan hatimu, tidak juga memiliki hati malaikat yang menyejukkanmu, tidak cerdas hingga bisa membuatmu terkagum, tidak pula memiliki banyak hal hingga bisa memberimu sedikitpun.

Tak ada hal apapun yang seharusnya membuatku begitu percaya diri untuk tetap di sana, berdiri di sisimu sebagai seseorang yang terus ingin kau cari.

Namun tahukah rahasia kecil itu? Rahasia hati yang menidurkan rasa tahu diriku? Ini adalah tentang sebuah perasaan, sesuatu yang tidak bisa dinilai dengan harga atau ukuran. Ya, namanya cinta.

Hmm iya, hingga bila kau ingin aku melunak, dan segera beranjak dari hidupmu. Tolong beritahuku perasaanmu sebagaimana panjangnya waktu yang kita lewati, kurasa ia sudah cukup detail menjelaskan perasaanku, bukan?

Rahasia kecil itu hanya sebuah pengakuan, cukup katakan balasan hatimu padaku. Sesakit apapun kemudian untukku, percayalah sebesar apapun aku mencintaimu. Cinta akan tetap memilih kebahagiaanmu.

Namun jika cinta ternyata tak menepuk angin, apakah kau masih tak mempercayaiku bahwa apapun itu aku akan selalu di sisimu?

Ah benar, cinta hanyalah perasaan-perasaan yang bisa berubah kapanpun tanpa kita tahu. Ia rapuh, seperti gelas kaca yang sekali jatuh akan pecah berkeping dan berantakan. Dan iya, cintaku memang tidaklah sejati.

Namun jika ada perempuan yang perasaannya berubah setiap waktu hanya menjadi semakin besar, dan walau berkali jatuh hingga pecah oleh pengabaian ia tetap berdiri di sana. Bolehkah ku katakan sesuatu? Bolehkah kuberi tahu jawabannya?
Ya, perempuan itu adalah aku.

Dan kamu, pria yang kucintai. Yang begitu pandai merebut hati serta segala pengertian tentang cinta.
Selamat malam.
Selamat melelapkan lelahmu.
Esok bila kau terbangun, tersenyumlah dan bahagialah. Itu cukup membuatku bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar