Kamis, 03 Juli 2014

Kita Dalam Kisah Yang Berbeda


Kamu pernah menjadi bagian dalam hari-hariku. Setiap malam sebelum tidur, kuhabiskan beberapa menit untuk membaca pesan singkatmu. Tawa kecilmu, perhatian kecilmu serta canda dan gurauanmu selalu mampu membuatku tersenyum diam-diam. Aku merasa bahagia ketika membaca pesan singkatmu disela-sela malamku.

Sepertinya, aku jatuh cinta padamu. Meski seharusnya jatuh cinta terjadi dalam proses yang panjang. Tapi, aku tak  mengalami fase itu ketika denganmu. Bukankah ketika jatuh cinta setiap orang selalu menganggap segala hal yang biasa menjadi terlihat luar biasa dan begitu indah? Jatuh cinta bisa membuat sesuatu yang jelek menjadi terlihat bagus dan yang pahit bisa menjadi manis. Aku manusia biasa. Kuharap kamu memahami dan menyadari. Aku terlalu penasaran ketika kehadiranmu mulai mengisi kekosongan hatiku. Kebahagianku mulai hadir ketika kamu menyapaku lebih dulu dalam pesan singkat. Semua begitu bahagia, dulu.

Aku berharap lebih. Kugantungkan harapanku padamu. Kuberikan sepenuhnya perhatianku padamu. Sayangnya, semua hal itu sama sekali tak kamu gubris. Kamu ingin tahu rasanya jadi aku? Dari awal kita berkenalan, aku hanya ingin melihatmu bahagia. Senyummu adalah salah satu keteduhan yang paling ingin kulihat setiap harinya. Dulu, aku berharap bisa menjadi salah satu penyebab kamu tersenyum, tapi ternyata harapanku terlalu tinggi.

Semua telah berakhir. Perjuanganku terhenti karena kamu tak ingin memperjuangkan hubungan ini. Semua terasa aneh bagiku. Kita yang dulu sempat dekat, walaupun tak punya status apa-apa, meskipun berada dalam ketidakjelasan, kini tiba-tiba harus menjauh. Aku yang terbiasa dengan sapaan manismu dalam pesan singkat, kini harus terpaksa ikhlas kehilangan kamu, karena akhirnya kamu sibuk dengan duniamu atau mungkin sekarang dengan wanita barumu. Aku berusaha memahami itu. Setiap hari, setiap waktu. Aku berusaha meyakini diriku bahwa semua sudah berakhir.

Jika aku bisa langsung meminta pada Tuhan, aku tak ingin perkenalan kita terjadi. Aku tak ingin membaca pesan-pesan manismu. Aku tak ingin mendengar suara lembutmu diujung telepon sana. Aku tak ingin segala hal manis itu terjadi kalau akhirnya kamu membuat airmataku menetes dan membuat kepingan puzle hatiku patah, jatuh lalu pecah berantakan.

Kalau kamu ingin tahu bagaimana perasaanku, aku merasa kesesakan dalam status yang menyedihkan itu. Aku terkatung-katung sendirian, sedangkan kamu meneguk manis tawa bersama duniamu. Aku lelah. Begitulah perasaanku. Aku masih belum mengerti mengapa semua berakhir sesakit ini? Aku berusaha semampuku, menjunjung tinggi kamu sebisaku, tapi dimana perasaanmu? Aku dilarang menuntut ini dan itu karena aku hanya temanmu. Hanya temanmu. Persinggahan yang tak akan kamu jadikan tujuan.

Setiap hari, setiap waktu aku selalu berusaha menganggap semuanya baik-baik saja. Semua akan berakhir seiring berjalannya waktu. Aku berharap perasaanku akan segera hilang dan lukaku akan sembuh secepatnya. Aku tak ingin lagi ada hal-hal penyebab airmataku terjatuh.  Namun, sampai kapan aku harus mencoba? Entahlah aku terlalu lemah.

Sejak dulu harusnya tak kuperhatikan kamu sedalam itu. Sejak tahu kehadiranmu mengusik kekosongan hatiku, seharusnya aku menolak usikan dan bisikan lembutmu itu. Tapi aku terlalu penasaran, aku terlalu mengikuti rasa keingintahuanku. Jika dari awal aku mampu menolakmu, mungkin aku tak akan tahu rasanya menjatuhkan airmata karena rasa sakit. Aku tak tahu apa salahku sehingga kita yang baru saja mencicipi keindahan, tiba-tiba harus terhempas dari dunia mimpi kedunia nyata.

Aku mengingatmu sebagai sosok yang pernah hadir meski tak benar-benar tinggal. Yaa.. aku tahu, aku hanyalah persinggahan tempatmu meletakkan kecemasan lalu pergi tanpa berjanji untuk pulang. Iya, aku bodoh terlalu mengikuti permainan tanpa bisa berhenti, hingga akhirnya berakhir kalah. Semua berlalu dan semua cerita harus punya akhir. Meski ini bukanlah akhir yang kupilih. Sandainya aku bisa memilih, aku ingin terus menjadi wanita istimewa dihatimu. Tapi, asal kamu tahu, setiap malamku aku masih sering mendoakanmu dan memperbincangkanmu dengan Tuhan.

Semoga kamu tahu kalau aku berjuang setiap hari untuk melupakanmu. Aku memaksa diriku untuk membencimu. Sampai nanti kamu mempunyai wanita lain aku akan terus berusaha menghilangkan rasaku padamu. Setiap hari, setiap waktu.

Bisakah kamu bayangkan rasanya jadi orang yang setiap hari terluka? Bisakah kamu bayangkan rasanya jadi aku? Bisakah kamu bayangkan rasanya menjadi seseorang yang setiap hari harus menahan tangisnya agar tetap terlihat baik-baik saja?

Kurasa kamu tak bisa. Ya, tentu saja. Karena sejauh yang kutahu kamu bukanlah orang yang perasa.

2 Bulan 24 Hari


Kita berada dalam satu tempat dimana pertama kali kita bertemu. Tempat yang harusnya menjadi tempat yang sangat indah dengan berbagai kisahnya. Ruangan tak terlalu luas dengan satu papan tulis dan beberapa bangku, tempat untuk kita belajar bersama dengan teman lainnya. Ruang kelas. Aku suka berada diruangan itu. Kenangan dan kisah yang tercipta disitu pun berbeda-beda. Tapi, bagian yang paling indah adalah ketika aku bisa melihat sorot matamu dan senyummu.
Perkenalan kita sangatlah instan. Kesederhanaanmu membuat aku percaya kalau kamu adalah pria yang berbeda. Aku mulai membangun mimpi, harapan, dan keyakinan agar tidak menyia-nyiakan kebersamaan kita. Kamu humoris dan manis, mungkin dua hal itu memang tak cukup dijadikan alasan akan hadirnya cinta. Terlalu buru-buru jika aku mengartikan ini semua adalah cinta, mungkinkah kita terjebak dalam ketertarikan sesaat? Aku tak tahu. Jika ini hanya ketertarikan sesaat mengapa aku begitu sedih ketika kamu memutuskan untuk pisah dan mengakhiri segalanya?
Akhir tahun lalu kamu begitu manis dan mengejutkan. Perhatian-perhatianmu membuat aku yang lama tak merasakan cinta seperti tersetrum dengan energi magis. Kamu mulai ungkapkan rasa, bercerita tentang rasa kagummu terhadapku, serta tetang dirimu dan mimpimu. Kamu tahu, diam-diam sebenarnya aku mengagumimu, tapi aku tak ingin bilang. Kalau saat itu aku sempat cuek hingga kamu merasa bahwa aku tak ingin menjalani hubungan ini denganmu. Sebenarnya aku hanya terlalu gengsi untuk mengatakan bahwa aku mulai menyukaimu. Aku merasa nyaman dengan keberadaanmu di hari-hariku.
Beberapa bulan lalu kukira aku sudah menjadi sosok yang benar-benar istimewa bagimu, seperti yang kau bilang kalau hubungan ini spesial dan aku wanita istimewa di hatimu, tapi ternyata perkiraanku salah. Itu hanya sekedar ucapan palsumu. Aku belum jadi pemilik hatimu. Aku hanya persinggahan yang mungkin tak akan kau jadikan tujuan.
Kalau boleh jujur, aku sungguh menikmati kebersamaan kita. Kebersamaan yang terjalin dari makhluk yang bisa membuat bodoh menjadi pintar dalam waktu yang bersamaan-handphone. Perhatian serta senyuman yang kau selipkan dalam setiap percakapan kita lewat tulisan itu membuatku banyak berharap. Kupikir, kamu memang mempunyai perasaan serius denganku. Tapi lagi-lagi aku salah, harapanku terlalu tinggi.
Tapi mengapa terus saja kau tunjukkan jalan terang? Jalan terang yang kupikir adalah tujuan untuk menuju kenyataan. Aku mencoba mengikuti jalan itu, berjalan bersamamu atas nama hari, dan kita tak tahu teka-teki dibalik perbedaan yang ada didalam kita. Hingga akhirnya kamu memilih pergi dengan alasan yang tidak kupahami. Kamu memilih pergi ketika aku mulai menyayangimu dan terus ingin memperjuangkan kamu. Bayangkan, semua hanya terjadi 2 bulan 24 hari! Begitu singkat, bukan? Kamu pergi ketika aku mulai merasa bahwa ini adalah cinta. Kamu pergi ketika aku mulai berharap kebersamaan kita tidak akan berakhir meski sudah diujung tanduk.
Tapi, kini aku harus melewati hari yang kurasa aneh. Tidak ada lagi kamu dan perhatianmu. Tidak ada lagi kita dan canda tawa yang dulu pernah ada. Rasa sakit ini masih begitu terasa. Kamu tentu tahu, melupakan sesuatu yang sudah melekat bukanlah perkara yang mudah. Aku tak pernah membayangkan bangun pagi dan tidur malam tanpa ucapan-ucapan manismu. Aku tak pernah membayangkan rasanya terlelap sebelum mendengar suara lembutmu dari ujung telepon sana. Aku tak ingin perpisahan, tapi sayangnya Tuhan berkata lain-kita berpisah.
Kita pernah saling merasakan kenyamanan karena rasa sayang. Ingatkah kamu dengan semua kata-kata manismu dulu?  Atau aku yang terlalu berlebihan mendambakan sosok seperti kamu? Pipiku seringkali basah entah oleh apa. Mungkin air mata. Tapi, tolong jangan paksa aku mengaku bahwa itu adalah airmata, karena kamu tak akan mengerti rasa sakitku. Dan karena aku tahu kamu pun tak pernah ingin mendengar cerita apapun tentang airmataku.
Kita masih akan  berada diruangan itu bersama, diruangan favoritku. Diruangan yang penuh dengan kisah dan kejutan yang berbeda setiap harinya. Diruangan itulah aku masih bisa menikmati senyummu dari kejauhan meski harus mencurinya dengan tatapan malu. Aku masih menjadikan ruangan itu sebagai ruangan favoritku. Meski tak ada kamu lagi disampingku. Hey, kita belum saling membahagiakan dan meraih kesuksesan, tapi mengapa kau inginkan perpisahan ini terjadi?