Jumat, 13 Maret 2015

Kamu, Bye!


Aku pernah menaruh hati pada pria lain. Tapi entah mengapa hanya kamu yang terus mampu membuatku berpaling. Aku mengagumimu. Awalnya memang aku kagum pada pribadimu, tapi entah mengapa semakin hari rasa itu berubah dan bertumbuh menjadi perasaan yang lebih dari sekedar rasa kagum. Perasaan itu mulai menjalar menjadi perasaan cinta, aku tidak pernah mengerti perasaan itu, yang aku tahu bahwa aku selalu merasa senang saat ada di dekatmu. Merasa tentram dari semua galau. Merasa damai dari semua senyap. Membuat hal membosankan menjadi sangat menyenangkan. Aku menyukai caramu melucu yang kadang membuat tawaku membuncah. Menyukainya saat aku menghabiskan waktu itu bersamamu.

Mungkin kala itu aku hanya mengikuti emosi sesaat. Aku tahu seharusnya aku menahan diri untuk setiap rasa yang timbul. Tapi aku tak mampu. Aku juga tidak tahu karena rasa itu timbul dengan sendirinya. Timbul sejak beberapa tahun lalu karena kejadian singkat yang sebenarnya biasa saja. Kamu membuatku melihat dirimu dari sudut pandang yang berbeda. Ternyata kamu menyimpan banyak sekali hal yang orang lain tidak ketahui tentangmu. Tapi malam itu, kamu hadir sebagai sosok yang hangat, sosok yang sangat peduli dan menyenangkan. Sejak saat itu kamu membuat setiap hariku berbeda. Membuat hariku lebh baik. Memberikan semangat meski tak secara langsung, dan memberikan energi positif yang baru untukku.

Aku menginginkanmu. Itu benar. Tapi maksudku dalam artian yang positif. Menginginkanmu menjadi teman, sahabat, kakak serta kekasih untuk melalui hari demi hari bersama. Menjejak sudut-sudut kebahagiaan dan mungkin juga pahit-getirnya kehidupan.

Tapi aku tahu itu semua tak akan mungkin terjadi. Karena kamu memiliki dunia yang berbeda denganku. Aku dan kamu layaknya bumi dan langit. Aku hanya bisa memandangmu dari kejauhan. Hanya bisa terus menjadi secret admirermu, mengagumimu ketika kamu memainkan tuts-tuts hitam putih di pojok kiri sana. Aku hanya bisa memandang senyum simpulmu yang manis ketika kamu bercengkrama ramah dengan orang lain di sekitarmu. Sedangkan aku hanya bisa menikmatinya dari kejauhan.

Tenang, aku sedang dalam proses melupakanmu kok. Melupakan segala hal indah yang pernah aku dan kamu lakukan. Melupakan segala kenangan terbaik yang selalu aku banggakan ketika aku bercerita pada teman dan sahabatku. Aku akan belajar mengubur dalam-dalam setiap perasaan yang ada. Karena wanita diluar sana memang lebih pantas menggenggam jemarimu dibandingkan aku. Wanita diluaran sana lebih pantas mendapat rasa yang tulus darimu. Tenang, aku sedang dalam proses mengikhlaskanmu kok. Mengikhlaskan kamu sepenuhnya dengan wanita pilihan terbaikmu.


Terimakasih sudah menjadi pelangi terindah dalam hari-hariku selama hampir 5 tahun ini. Beberapa kali pria keluar masuk dalam hidupku, kamu tetap jadi pria yang terus aku kagumi. Karena aku hanya di takdirkan menjadi secret admirermu dan aku menyukai setiap rasa sakitnya.