Terimakasih atas rasa sakit yang
kau berikan. Karena rasa sakit itulah aku mampu menuliskan deretan kalimat ini
dengan airmata yang menitih jatuh tanpa bisa kuhentikan.
Kembali ke lima bulan lalu. Rasanya semua terjadi
begitu sangat cepat, kita berkenalan dan tanpa kita sadari tiba-tiba kita
merasakan perasaan yang aneh. Perasaan nyaman diluar batas yang tak mampu kita
kendalikan. Setiap hari rasanya berbeda dan tak lagi sama. Kamu hadir membawa
banyak perubahan dalam hari-hariku. Hitam dan putih menjadi lebih berwarna
ketika sosokmu hadir mengisi kekosongan dalam hari-hariku. Karena itulah aku
menyebutmu pelangiku.
Tak ada percakapan yang biasa,
seakan-akan semua terasa begitu ajaib dan luar biasa. Entahlah, perasaan ini
timbul dan tumbuh tanpa batas yang bisa ku kendalikan. Aku takut kehilanganmu.
Aku merasa tersiksa saat tubuhmu tidak berada disampingku. Kamu seperti
mengendalikan otak dan hatiku. Salahkah jika kamu masih menjadi nomor satu
dihatiku? Tapi.. entah mengapa sikapmu tidak sama seperti sikapku. Perhatianmu
tidak sedalam perhatianku. Tatapan matamu pun tak setajam tatapan mataku. Apakah
kamu tak merasakan seperti hal yang aku rasakan?
Kamu mungkin belum terlalu paham
dengan perasaanku, karena kamu memang tak pernah sibuk memikirkan perasaanku.
Salahkah jika aku masih sering menjatuhkan airmata untukmu? Aku kehilangan
kamu, dan kamu pergi tanpa meminta izin. Minta izin? Memangnya aku siapa?
Kekasihmu? Bodoh!! Hadir dalam mimpimu saja aku sudah bersyukur. Apalagi bisa menjadi
milikmu seutuhnya. Apa mungkin? Aku tak kuasa memikirkannya.
Ucapan manismu terlalu banyak
hingga aku kebingungan kapan waktu yang tepat untuk menagihnya. Begitu sering
kamu menyakitiku, tapi selalu kumaafkan. Lihatlah aku yang hanya bisa mentapmu
dari kejauhan. Mencuri keindahan senyummu dari balik sorot mataku yang
malu-malu. Seberapa tidak pentingnyakah aku sekarang? Apakah aku hanya
persinggahan yang tak ada artinya hingga seenaknya begitu saja kau abaikan?
Apa aku tak berharga dimatamu?
Dimana kamu yang dulu? Dimana letak kepedulianmu yang dulu? Aku tak bisa bicara
banyak. Aku tak kuasa terus berbicara tentang cinta jika kau terus tulikan
telinga dan membekukan hatimu. Aku tak kuasa berkata rindu jika kau terus
menjauh dan semakin menjauhiku secara perlahan. Aku tak bisa apa-apa selain
memandangmu dari kejauhan dan menyelipkan namamu dalam percakapanku dengan
Tuhan.
Bodoh! Seharusnya aku sadar kalau
aku bukan siapa-siapa dimatamu dan tak akan pernah menjadi siapa-siapa. Jujur aku ingin tahu, sebenarnya dimanakah kau
letakkan hatiku yang selama ini kuberikan padamu? Tapi aku yakin kau pasti tak
akan menjawabnya karena sejauh yang kutahu kau memang tak pernah peduli dengan
perasaanku. Dengan setiap kata cintaku. Kau memang sangat tidak peduli. Lalu,
siapakah kini wanita yang beruntung mendapatkan perhatian lebih darimu? Wanita
manakah dia dan seperti apakah dia? Rasa penasaranku membuncah hebat saat
kulihat matamu berkata lain waktu kau menatap wanita itu. Benarkah wanita itu?
Ah.. aku berharap ini hanya mimpi buruk dan aku segera bangun dari lelapnya.
Mungkin semua memang salahku.
Menganggap semua berubah sesuai keinginanku. Bermimpi kau akan menjadi sosok
yang lebih dari sekedar teman. Salahkah jika perasaanku bertumbuh secepat ini? Aku
mencintaimu tidak hanya sebagai teman tetapi sebagi seseorang yang bernilai
dalam hatiku. Namun semua jauh dari harapanku selama ini. Mungkn memang aku
yang terlalu banyak berharap. Aku yang tak menyadari siapa diriku dan tak
menyadari apa posisiku. Aku sangat lemah mengartikan semua perhatianmu selama
ini adalah tanda cinta.
Tapi tenanglah, aku sudah
terbiasa tersakiti meski ini adalah pertama kalinya aku merasakan sakit yang
sangat dalam. Kau campakkan aku disaat aku benar-benar menaruh perhatian penuh
padamu. Kau abaikan aku saat aku benar-benar membutuhkanmu sebagai
penyemangatku. Tapi sudahlah tak perlu memperhatikanku lagi. Aku bisa sendiri,
meski sebenarnya aku sedang belajar untuk mandiri tanpamu. Dan kamu pasti tak
sadar bahwa aku berbohong jika aku dengan mudah mampu melupakanmu.
Pergilah. Aku tak ingin lagi
berhubungan dengan sakit yang pernah kau goreskan. Aku hanya ingin dekat-dekat
dengan kesepian karena disanalah lukaku terobati. Disanalah aku hidup dalam
kesendirianku dan mencoba perlahan untuk merapikan setiap kepingan hatiku yang
pecah berantakan karenamu.