Selasa, 29 April 2014

Tinggal Kenangan


Terimakasih atas rasa sakit yang kau berikan. Karena rasa sakit itulah aku mampu menuliskan deretan kalimat ini dengan airmata yang menitih jatuh tanpa bisa kuhentikan.

Kembali  ke lima bulan lalu. Rasanya semua terjadi begitu sangat cepat, kita berkenalan dan tanpa kita sadari tiba-tiba kita merasakan perasaan yang aneh. Perasaan nyaman diluar batas yang tak mampu kita kendalikan. Setiap hari rasanya berbeda dan tak lagi sama. Kamu hadir membawa banyak perubahan dalam hari-hariku. Hitam dan putih menjadi lebih berwarna ketika sosokmu hadir mengisi kekosongan dalam hari-hariku. Karena itulah aku menyebutmu pelangiku.
Tak ada percakapan yang biasa, seakan-akan semua terasa begitu ajaib dan luar biasa. Entahlah, perasaan ini timbul dan tumbuh tanpa batas yang bisa ku kendalikan. Aku takut kehilanganmu. Aku merasa tersiksa saat tubuhmu tidak berada disampingku. Kamu seperti mengendalikan otak dan hatiku. Salahkah jika kamu masih menjadi nomor satu dihatiku? Tapi.. entah mengapa sikapmu tidak sama seperti sikapku. Perhatianmu tidak sedalam perhatianku. Tatapan matamu pun tak setajam tatapan mataku. Apakah kamu tak merasakan seperti hal yang aku rasakan?
Kamu mungkin belum terlalu paham dengan perasaanku, karena kamu memang tak pernah sibuk memikirkan perasaanku. Salahkah jika aku masih sering menjatuhkan airmata untukmu? Aku kehilangan kamu, dan kamu pergi tanpa meminta izin. Minta izin? Memangnya aku siapa? Kekasihmu? Bodoh!! Hadir dalam mimpimu saja aku sudah bersyukur. Apalagi bisa menjadi milikmu seutuhnya. Apa mungkin? Aku tak kuasa memikirkannya.
Ucapan manismu terlalu banyak hingga aku kebingungan kapan waktu yang tepat untuk menagihnya. Begitu sering kamu menyakitiku, tapi selalu kumaafkan. Lihatlah aku yang hanya bisa mentapmu dari kejauhan. Mencuri keindahan senyummu dari balik sorot mataku yang malu-malu. Seberapa tidak pentingnyakah aku sekarang? Apakah aku hanya persinggahan yang tak ada artinya hingga seenaknya begitu saja kau abaikan?
Apa aku tak berharga dimatamu? Dimana kamu yang dulu? Dimana letak kepedulianmu yang dulu? Aku tak bisa bicara banyak. Aku tak kuasa terus berbicara tentang cinta jika kau terus tulikan telinga dan membekukan hatimu. Aku tak kuasa berkata rindu jika kau terus menjauh dan semakin menjauhiku secara perlahan. Aku tak bisa apa-apa selain memandangmu dari kejauhan dan menyelipkan namamu dalam percakapanku dengan Tuhan.
Bodoh! Seharusnya aku sadar kalau aku bukan siapa-siapa dimatamu dan tak akan pernah menjadi siapa-siapa. Jujur  aku ingin tahu, sebenarnya dimanakah kau letakkan hatiku yang selama ini kuberikan padamu? Tapi aku yakin kau pasti tak akan menjawabnya karena sejauh yang kutahu kau memang tak pernah peduli dengan perasaanku. Dengan setiap kata cintaku. Kau memang sangat tidak peduli. Lalu, siapakah kini wanita yang beruntung mendapatkan perhatian lebih darimu? Wanita manakah dia dan seperti apakah dia? Rasa penasaranku membuncah hebat saat kulihat matamu berkata lain waktu kau menatap wanita itu. Benarkah wanita itu? Ah.. aku berharap ini hanya mimpi buruk dan aku segera bangun dari lelapnya.
Mungkin semua memang salahku. Menganggap semua berubah sesuai keinginanku. Bermimpi kau akan menjadi sosok yang lebih dari sekedar teman. Salahkah jika perasaanku bertumbuh secepat ini? Aku mencintaimu tidak hanya sebagai teman tetapi sebagi seseorang yang bernilai dalam hatiku. Namun semua jauh dari harapanku selama ini. Mungkn memang aku yang terlalu banyak berharap. Aku yang tak menyadari siapa diriku dan tak menyadari apa posisiku. Aku sangat lemah mengartikan semua perhatianmu selama ini adalah tanda cinta.
Tapi tenanglah, aku sudah terbiasa tersakiti meski ini adalah pertama kalinya aku merasakan sakit yang sangat dalam. Kau campakkan aku disaat aku benar-benar menaruh perhatian penuh padamu. Kau abaikan aku saat aku benar-benar membutuhkanmu sebagai penyemangatku. Tapi sudahlah tak perlu memperhatikanku lagi. Aku bisa sendiri, meski sebenarnya aku sedang belajar untuk mandiri tanpamu. Dan kamu pasti tak sadar bahwa aku berbohong jika aku dengan mudah mampu melupakanmu.
Pergilah. Aku tak ingin lagi berhubungan dengan sakit yang pernah kau goreskan. Aku hanya ingin dekat-dekat dengan kesepian karena disanalah lukaku terobati. Disanalah aku hidup dalam kesendirianku dan mencoba perlahan untuk merapikan setiap kepingan hatiku yang pecah berantakan karenamu.

Jumat, 18 April 2014

Selamat Ulang Tahun, PAPA


Aku tahu kau tak akan mungkin membaca coretan tanganku ini. Dengan segala upaya dan dayaku, aku juga tak akan mampu membuatmu untuk membaca tulisan ini. Tulisan ini dibuat oleh seorang gadis pengagummu nomor satu, barisan kalimat ini diutarakan oleh seorang gadis yang selalu memujamu. Dalam tulisanku, aku mengundangmu masuk dan menjelma sebagai topik terindah yang ingin kuperbincangkan sosoknya. Aku membiarkanmu abadi dalam setiap abjad dan kalimat-kalimat sederhana yang ingin kurangkai.

Senyummu membawa sesuatu yang berbeda dalam hari-hariku. Semangatmu memberi suatu hal magis yang mengajarkanku untuk selalu berjuang melawan hidup yang sulit. Kamu selalu mampu menjelma sebagai sosok yang sangat penting, yang tak ingin kulewati setiap tawa lembutnya. Aku meletakkan perhatianku sepenuhnya untukmu dan kamu selalu mampu merenggut rasa kepedulianku. Kutunggu kamu disetiap momen makan malam kita. Kunikmati setiap caramu berkomentar tentang hal yang tak pernah ku sadari. Kamu adalah sosok yang hangat, yang tak pernah pergi dari hati.

Ketahuilah, kau sudah menjadi segalanya dihatiku. Aku tak pernah ingin melihat lekuk senyummu memudar, aku tak pernah ingin melihat guratan wajah manismu membeku. Kamu begitu istimewa dan indah dalam setiap hari-hariku. Aku selalu ingin menikmati senyummu serta sapaan hangatmu setiap hari. Aku selalu ingin menikmati sentuhan lembut jemarimu saat kau membelai lembut rambutku, aku selalu  menikmati  keisenganmu saat kau bertanya tentang siapa pria yang mengisi hariku selain dirimu. Aku selalu menikmati setiap hal kebersamaan kita saat malam hari kita berebut menghabiskan makanan ringan kesukaan kita. Sungguh, aku sangat menikmati kehadiranmu.

Setiap malam kureka wajahmu dalam bayangan nyataku. Kamu selalu menjadi sosok magis yang tak pernah kehabisan cara memperhatikanku dalam diammu. Kamu selalu menjadi sosok terhebat dalam duniaku. Kamu selalu menjadi sosok terpenting yang tak pernah pudar saat menaburkan senyum untukku. Aku mengagumimu. Aku mencintaimu.

Terimakasih karena engkau sudah menjadi seorang Papa yang begitu luar biasa. Engkau baik hati, penuh hormat, dan mempunyai rasa humor yang luar biasa. Engkau membuatku kagum karena kebijaksanaanmu, wawasan serta kewibawaanmu. Aku selalu menghargai setiap saat yang kita habiskan bersama. Engkau memberikan dampak yang sangat berarti dalam keluarga dan duniaku. Tetaplah menjadi yang istimewa dibalik sosokmu yang sederhana. Aku bangga memanggilmu PAPA.

Salam hangat,
 Putri Tunggalmu

Selasa, 08 April 2014

Masih Saja Tentang Kita


Ini bukanlah kali pertama aku duduk sendirian dan memperhatikan tulisan-tulisan di layar laptop-ku. Setiap deretan abjad yang tersusun rapih dalam rangkaian kata yang berbentuk sebaris kalimat, entah mengapa selalu ada sosokmu didalamnya, berdiam dalam tulisan yang sebenarnya enggan ku baca tapi masih sering ku perbincangkan sosoknya. Ini juga bukanlah hal yang baru bagiku, duduk berjam-jam tanpa adanya perhatian darimu melalui pesan singkat. Tentu saja kamu tak merasakan seperti apa yang kurasakan, juga tak memiliki rindu seperti yang kumiliki. Aku sengaja menyembunyikan perasaan itu, agar kita tak lagi saling menggangu. Bukankah dengan berjauhan seperti ini semua jadi terasa lebih baik? Seakan-akan aku tak pernah peduli, seakan-akan aku tak mau tahu, seakan-akan aku tak memiliki rasa perhatian, seakan-akan aku bersikap tak ada masalah. Bagiku sudah cukup seperti ini, cukup aku dan kamu, tanpa kita.
Kali ini aku tak akan bercerita tentang kesepian, atau bercerita tentang banyak hal yang sulit untuk kau pahami. Karena aku tahu kau sangat sulit untuk diajak basa-basi, apalagi jika berbicara menyangkut cinta dan perasaan. Aku tak akan membebanimu dengan cerita-cerita konyol yang tak masuk akal dan selalu kau benci. Walau hanya cerita sederhana yang mungkin tak ingin kau dengar sebagai pengantar tidurmu. Kamu tak pernah suka jika kuceritakan tentang airmata bukan? Atau bagaimana jika ku ganti airmata dengan senyum pura-pura? Tentu saja kau tak akan menggubrisnya, sejauh yang kutahu kau itu tidak peka. Dan mungkin saja sifat burukmu masih sama meski kita sudah lama tak saling bertatap mata.
Entah mengapa akhir-akhir ini sepi sekali kurasa. Aku heran, mengapa di tengah kegelapan malam masih saja aku mencoba mengingat semua hal tentang kita. Banyak sekali malam yang sudah aku dan kamu lewatkan tanpa adanya kita seperti yang dulu. Aku tahu pasti sekarang kau sudah menghapus bayanganku dari hadapan dan dari pikiranmu. Aku juga sama, tapi sampai saat ini aku belum benar-benar mampu membuang bayangmu yang masih ingin kureka senyum manisnya serta tatapan indah mata itu.
Ahh..kamu. Pria yang dulu pernah kucintai dan kukagumi (bahkan hingga saat ini), jujur aku merindukanmu. Masih kamu, dan tentu saja masih tentang kita. Aku merindukan sosok dewasa yang dulu pernah menopang dan menegakkan langkahku. Aku merindukan suaramu yang dulu menyusup lembut ke dalam telingaku. Aku merindukan sosok sederhanamu itu. Sekarang aku tahu bagaimana rasanya tidak ada kamu dalam hari-hariku. Sekarang aku tahu rasanya saat bangun pagi tak ada lagi sapaan sederhana di inbox handphoneku. Aku benar-benar kehilangan sosokmu. Aku benar-benar kehilangan kamu.
Ingin rasanya kembali ke masa lalu ketika masih ada kamu, ketia masih ada kita. Ketika aku masih bisa tersenyum saat bangun pagi hingga kembali terlelap dalam tidur malamku. Saat kamu masih menganggapku lebih dari teman, saat panggilan sayang itu masih sering kudengar, saat kehadiranmu bagai pemeran utama dalam bunga tidurku. Aku masih saja sering mengharapkan itu semua dapat kembali terulang seperti sedia kala. Ahh..tapi kamu terlalu sibuk dengan duniamu yang tak pernah bisa kumengerti. Sering kali aku memutar kembali rekaman diotakku yang berisi tentangmu, aku mencoba mengingat setiap perlakuan lembutmu terhadapku. Aku mencoba mengingat setiap kesabaranmu saat menghadapi sikap kanak-kanakku, aku mencoba mereka-reka kembali setiap ucapanmu saat menenangkan amarahku, aku mencoba mengingat semua kalimatmu yang selalu mampu menjadikanku merasa sangat berharga, aku mencoba mengulas kembali setiap usahamu agar hubungan kita bisa terus berjalan dengan baik. Bayanganmu berputar-putar dalam otakku, suaramu menusuk-nusuk di telingaku. Aku sadar bahwa belum ada yang mampu menggantikan sosokmu hingga saat ini.
Kali ini aku sama sekali tak merasakan kantuk. Kantuk ini tak berarti hingga aku mampu menulis deretan kalimat ini dan menikmati kehadiranmu lewat tulisanku. Kadang aku kesal mengapa setiap kejadian indah selalu tak bisa diputar ulang rekamannya. Aku kebingungan. Aku kewalahan. Aku butuh kamu. Aku butuh hadirmu. Aku butuh semua kata semangatmu. Aku rindu senyuman itu. Dimana kamu saat aku jatuh terpuruk? Dimana kamu saat ragaku lemah? Dimana kamu saat bebanku terasa tak mampu kupikul sendiri? Dimana kamu saat aku mulai merasa jenuh dengan semua hal disekelilingku? Mengapa kamu tak memperdulikanku seperti dulu aku memperdulikanmu. Menunggumu hingga larut malam, memberikan semangat serta motivasi padamu saat dirimu merasa terpuruk. Apa kamu sudah benar-benar tidak peduli denganku? Apa aku memang sudah tak ada artinya lagi dihatimu? Kau tahu, sejak enam minggu lalu aku mencari sosokmu yang hilang, tapi aku tidak menemukannya hingga saat ini. Aku mohon tolong selamatkan aku dari keterpurukan dan kesepianku. Aku butuh hadirmu.

Untuk seseorang yang mungkin tak akan pernah membaca tulisan ini
25112013
Aku merindukan kehadiranmu (kembali)

Selasa, 01 April 2014

Lima Minggu Tanpa Kamu


Aku tak pernah sesedih ini sebelumnya. Awalnya ku pikir waktu utuk melupakanmu tak akan selama ini. Ternyata aku salah besar, hari-hari yang kulalui tanpamu ternyata tak menemui ujung untuk benar-benar mampu merelakanmu. Kamu masih jadi segalanya, masih setia bermain ria menemani bunga tidurku, masih jadi pemeran penting dalam tulisanku dan masih jadi yang paling penting dalam hati. Maaf, jika segala kejujuranku terlihat bodoh dimatamu. Tapi begitulah adanya, dan beginilah aku dengan segala rasa yang masih kumiliki dan masih ingin ku perjuangkan akhir kebahagiaanya. Seandainya aku bisa berada disampingmu, aku ingin menceritakan betapa sulitnya melupakan dan mengikhlaskan dirimu bukanlah sesuatu hal yang mudah ku lakukan. Mungkin kamu akan tertawa dan berkata bahwa sikapku berlebihan, tapi bagiku ini adalah perjuangan yang sangat sulit ku temui akhirnya.
Sudah lima minggu, harusnya bisa menjadi waktu yang cukup untuk melupakanmu serta kenangan singkat yang pernah kita lakukan bersama. Tapi ternyata aku tidak bisa melakukan hal itu. Hari berganti hari, minggu berganti minggu namun sosokmu masih mampu menyergap perhatianku, mengalihkan setiap konsentrasiku dan masih menjadi topik terpenting yang sering ku perbincangkan dengan saahabat dan temanku serta dalam setiap tulisanku. Sampai saat ini belum kutemukan sosok yang bisa menggantikan hadirmu. Belum kutemukan bisikan selembut kamu ketika kita berbincang tentang cinta, mimpi, harapan-harapan yang dulu ingin kita wujudkan bersama.
Melupakan memang bukan hal yang mudah.  Apalagi melupakanmu. Merelakan yang pernah ada menjadi tidak ada adalah salah satu hal yang sangat sulit kupelajari. Aku lelah dengan semua ini. Perjuanganku sampai saat ini belum menunjukkan hasilnya sama sekali. Aku menulis ini ketika aku merasa lelah dihajar dan dihantui oleh kenangan. Mengapa di otakku kau tak pernah hilang walau hanya sebentar saja? Perkenalan kita terlalu singkat bila kita menyebutnya cinta, dan terlalu dalam bila kita menyebutnya ketertarikan sesaat. Rasa nyaman itu berubah wujud menjadi suatu hal yang sial, seperti yang pernah kau katakan. Mungkin menurutmu sial, tapi rasa nyaman saat itu adalah perasaan yang timbul karena perkenalan kita yang menarik hatiku dan perhatianku. Aku tak mengerti harus diberi nama apa kedekatan kita dulu. Aku juga tak mengerti mengapa aku yang tak mudah tergoda serta cuek malah begitu saja dengan mudah terjebak dalam perhatian dan tindakanmu yang berbeda.kamu memang terlihat berbeda dari pria kebanyakan. Sikap dan caramu mendekatiku begitu unik dan aku terjebak dalam kenikmatan yang kau beri.  Kamu sangat luar biasa dimataku, dulu bahkan hingga saat ini masih tetap sama.
Dan sampai saat ini aku masih menangisi dan bertanya-tanya mengapa hubungan istimewa kita harus berakhir sesingkat ini? Apa tujuanmu menyakiti dan melukaiku jika dulu kita pernah saling terikat dalam ketertarikan yang enggan terlepas. Kini aku tak tahu lagi setiap detail aktivitasmu, aku tak tahu lagi kamu sedang berbuat apa dengan siapa, bahkan hal terkecil sekalipun tak ada lagi yang kuketahui seperti dulu. Segala ketidaktahuanku mengantarkanku pada satu perasaan yang membuncah kencang, yaitu rindu. Rasa rindu yang semakin hari semakin berontak. Rindu yang memaksaku untuk kembali berdekatan denganmu. Rindu yang memaksaku untuk berani menatapmu walau hanya dari balik badanmu. Rindu ini menyiksaku, menyiksa hati dan pikiranku. Mebuat semuanya terasa aneh dan terlihat seperti permainan yang tak berakhir. Hampir gila aku dibuatnya, dibuat oleh rindu yang tak mampu kutahan setiap bisikkan lembutnya.
Kalau aku berada disampingmu sekarang, ingin rasanya aku mengulang segalanya. Ingin kehentikan waktu, ingin kuhentikan detak jarum jam. Biar yang ada hanya kamu, aku, dan kita tanpa airmata. Seandainya hal itu bisa ku lakukan mungkin sekarang aku tak akan merasakan rindu sesesak dan sedalam ini padamu. Lihatlah kita sering bertemu di kampus, bertatap muka tapi tanpa sepatah kata pun keluar. Kau terlalu asyik membagi tawamu bersama temanmu tanpa memperdulikan aku yang kewalahan menahan sesak karena rindu pada tawa dan senyummu. Aku hanya bisa menikmati senyummu dengan malu-malu karena takut terlihat kejelasan rindu yang membuncah di mataku. Tak bisakah kau berbagi sedikit kecerianmu padaku? Apa kebersamaan kita dulu hanya kau anggap permainan saja? Mengapa aku terlalu bodoh bisa dengan mudahnya tergoda dengan semua keistimewaanmu. Apa karena kau terlalu bercahaya hingga mata dan telingaku seketika menjadi tak berfungsi kegunannya.
Tolong berhenti menyiksaku dengan segala macam rindu dan kenangan yang tak mungkin kembali. Aku lelah dengan semua ini, aku lelah hanya bisa melamunkanmu dalam khayalan belaka yang ketika ku sadar aku hanya bisa menangis dan meratapi nasib cintaku. Ah.. sudahlah, aku hanya ingin memberitahu bahwa sudah lima minggu aku bermain dengan kesepian dan masih setia meratapi kesendirianku. Sebenarnya aku benci harus mengakui ini. Aku sering merindukanmu dan masih memendam perasaanku terhadapmu. Tersiksa dengan angan dan lamunan yang kubuat sendiri, menangis karena kebodohanku sendiri. Aku ingin mengaku bahwa aku masih mencintaimu dan masih berharap kamu akan kembali walau untuk menenangkanku dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Maaf, aku masih merindukanmu!!!