Selasa, 01 April 2014

Lima Minggu Tanpa Kamu


Aku tak pernah sesedih ini sebelumnya. Awalnya ku pikir waktu utuk melupakanmu tak akan selama ini. Ternyata aku salah besar, hari-hari yang kulalui tanpamu ternyata tak menemui ujung untuk benar-benar mampu merelakanmu. Kamu masih jadi segalanya, masih setia bermain ria menemani bunga tidurku, masih jadi pemeran penting dalam tulisanku dan masih jadi yang paling penting dalam hati. Maaf, jika segala kejujuranku terlihat bodoh dimatamu. Tapi begitulah adanya, dan beginilah aku dengan segala rasa yang masih kumiliki dan masih ingin ku perjuangkan akhir kebahagiaanya. Seandainya aku bisa berada disampingmu, aku ingin menceritakan betapa sulitnya melupakan dan mengikhlaskan dirimu bukanlah sesuatu hal yang mudah ku lakukan. Mungkin kamu akan tertawa dan berkata bahwa sikapku berlebihan, tapi bagiku ini adalah perjuangan yang sangat sulit ku temui akhirnya.
Sudah lima minggu, harusnya bisa menjadi waktu yang cukup untuk melupakanmu serta kenangan singkat yang pernah kita lakukan bersama. Tapi ternyata aku tidak bisa melakukan hal itu. Hari berganti hari, minggu berganti minggu namun sosokmu masih mampu menyergap perhatianku, mengalihkan setiap konsentrasiku dan masih menjadi topik terpenting yang sering ku perbincangkan dengan saahabat dan temanku serta dalam setiap tulisanku. Sampai saat ini belum kutemukan sosok yang bisa menggantikan hadirmu. Belum kutemukan bisikan selembut kamu ketika kita berbincang tentang cinta, mimpi, harapan-harapan yang dulu ingin kita wujudkan bersama.
Melupakan memang bukan hal yang mudah.  Apalagi melupakanmu. Merelakan yang pernah ada menjadi tidak ada adalah salah satu hal yang sangat sulit kupelajari. Aku lelah dengan semua ini. Perjuanganku sampai saat ini belum menunjukkan hasilnya sama sekali. Aku menulis ini ketika aku merasa lelah dihajar dan dihantui oleh kenangan. Mengapa di otakku kau tak pernah hilang walau hanya sebentar saja? Perkenalan kita terlalu singkat bila kita menyebutnya cinta, dan terlalu dalam bila kita menyebutnya ketertarikan sesaat. Rasa nyaman itu berubah wujud menjadi suatu hal yang sial, seperti yang pernah kau katakan. Mungkin menurutmu sial, tapi rasa nyaman saat itu adalah perasaan yang timbul karena perkenalan kita yang menarik hatiku dan perhatianku. Aku tak mengerti harus diberi nama apa kedekatan kita dulu. Aku juga tak mengerti mengapa aku yang tak mudah tergoda serta cuek malah begitu saja dengan mudah terjebak dalam perhatian dan tindakanmu yang berbeda.kamu memang terlihat berbeda dari pria kebanyakan. Sikap dan caramu mendekatiku begitu unik dan aku terjebak dalam kenikmatan yang kau beri.  Kamu sangat luar biasa dimataku, dulu bahkan hingga saat ini masih tetap sama.
Dan sampai saat ini aku masih menangisi dan bertanya-tanya mengapa hubungan istimewa kita harus berakhir sesingkat ini? Apa tujuanmu menyakiti dan melukaiku jika dulu kita pernah saling terikat dalam ketertarikan yang enggan terlepas. Kini aku tak tahu lagi setiap detail aktivitasmu, aku tak tahu lagi kamu sedang berbuat apa dengan siapa, bahkan hal terkecil sekalipun tak ada lagi yang kuketahui seperti dulu. Segala ketidaktahuanku mengantarkanku pada satu perasaan yang membuncah kencang, yaitu rindu. Rasa rindu yang semakin hari semakin berontak. Rindu yang memaksaku untuk kembali berdekatan denganmu. Rindu yang memaksaku untuk berani menatapmu walau hanya dari balik badanmu. Rindu ini menyiksaku, menyiksa hati dan pikiranku. Mebuat semuanya terasa aneh dan terlihat seperti permainan yang tak berakhir. Hampir gila aku dibuatnya, dibuat oleh rindu yang tak mampu kutahan setiap bisikkan lembutnya.
Kalau aku berada disampingmu sekarang, ingin rasanya aku mengulang segalanya. Ingin kehentikan waktu, ingin kuhentikan detak jarum jam. Biar yang ada hanya kamu, aku, dan kita tanpa airmata. Seandainya hal itu bisa ku lakukan mungkin sekarang aku tak akan merasakan rindu sesesak dan sedalam ini padamu. Lihatlah kita sering bertemu di kampus, bertatap muka tapi tanpa sepatah kata pun keluar. Kau terlalu asyik membagi tawamu bersama temanmu tanpa memperdulikan aku yang kewalahan menahan sesak karena rindu pada tawa dan senyummu. Aku hanya bisa menikmati senyummu dengan malu-malu karena takut terlihat kejelasan rindu yang membuncah di mataku. Tak bisakah kau berbagi sedikit kecerianmu padaku? Apa kebersamaan kita dulu hanya kau anggap permainan saja? Mengapa aku terlalu bodoh bisa dengan mudahnya tergoda dengan semua keistimewaanmu. Apa karena kau terlalu bercahaya hingga mata dan telingaku seketika menjadi tak berfungsi kegunannya.
Tolong berhenti menyiksaku dengan segala macam rindu dan kenangan yang tak mungkin kembali. Aku lelah dengan semua ini, aku lelah hanya bisa melamunkanmu dalam khayalan belaka yang ketika ku sadar aku hanya bisa menangis dan meratapi nasib cintaku. Ah.. sudahlah, aku hanya ingin memberitahu bahwa sudah lima minggu aku bermain dengan kesepian dan masih setia meratapi kesendirianku. Sebenarnya aku benci harus mengakui ini. Aku sering merindukanmu dan masih memendam perasaanku terhadapmu. Tersiksa dengan angan dan lamunan yang kubuat sendiri, menangis karena kebodohanku sendiri. Aku ingin mengaku bahwa aku masih mencintaimu dan masih berharap kamu akan kembali walau untuk menenangkanku dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Maaf, aku masih merindukanmu!!!                              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar