Senin, 24 Maret 2014

Andai aku bisa memutar waktu..

Di tengah malam yang sepi ini dengan buku yang berserakan, tulisan yang belum terselesaikan dan puisi-puisi karanganku yang entah aku pun belum mengerti arti dan maknanya, tapi diluar itu aku masih sempat memikirkanmu. Mataku yang lelah, suara detak jarum jam dan jentikan jemari di laptop-ku ternyata tak memberi pertolongan nyata apapun saat ini.
Hari ini aku melihatmu di kelas seperti biasanya, dan sampai sekarang aku masih belum berani menyapamu dengan biasa. Aku masih belum berani melihat mata itu. Gaya dan tingkah konyolmu kini membawa kesan lain dalam hari-hariku. Aku merindukan itu, aku merindukan saat kita berbicara malu-malu dan bukan berjauhan seperti ini. Hal-hal di masa lalu yang hanya bisa ku kenang. Seandainya aku bisa memutar waktu itu kembali, aku ingin mengembalikan kamu yang dulu. Tapi nyatanya hanya khayal yang kian menjauh.
Apa kamu ingin tahu kabarku? Kabar hati dan perasaanku?? Sampai saat ini aku masih sering merindukanmu, dan rasa itu hanya terobati dengan melihat isi percakapan kita dalam chat whatsap yang sering kita lakukan hingga larut malam dulu. Rasa rindu yang hanya terobati saat melihat percakapan kita empat bulan lalu, saat kau pertama kali dengan iseng menanyakan sesuatu padaku malam itu. Dan suara lembutmu di ujung telepon sana masih terngiang jelas ditelingaku, bahkan meski saat ini kita sudah tak pernah lagi menghabiskan tawa renyah bersama dalam telepon. Beberapa sahabat dan temanku bertanya mengapa sosok pria mungil, berambut cepak dan berjenggot itu selalu menjadi topik utama dalam beberapa tulisanku? Tapi aku hanya menjawab dengan senyum miris yang itu pun kubuat agar terlihat natural, dengan mata berair, dengan kata-kata seadanya rasanya ingin ku muntahkan semua bahwa sosok itu adalah kamu. Kamu, yang telah mengendap-endap dan menjelma secara magis dalam setiap tulisanku. Kamu, yang entah dengan kekuatan apa mampu membuatku terluka separah ini.
Rasanya aku ingin berteriak sekencang mungkin agar rasa yang tertahankan ini bisa terluapkan dengan bebasnya. Dan harus kau tahu, bahwa sampai sekarang aku tak bisa lupa mata itu. Mata yang pertama kali bersinar sambil menjabat tanganku. Mata yang menarikku ke dalam lembah sedalam ini, mata yang cahanyanya seharusnya empat bulan lalu ku tolak mentah-mentah.
Aku ingin tahu cara menolakmu, melupakanmu, dan meniadakan bayanganmu. Seandainya aku bisa memutar waktu, aku ingin kembali ke waktu dulu saat pertama kali aku melihatmu waktu pengambilan kaos ospek itu. Tak ada yang tahu bahwa pertama kali aku melihatmu saat pengambilan kaos ospek itu aku sudah mulai merasakan sesuatu. Aku tersihir lembut oleh senyum simpul manis itu. Bahkan kau pun tak tahu akan kejadian itu, mungkin. Tadinya ku pikir itu hanyalah ketertarikan biasa karena senyummu saat itu mampu mengalihkan pandanganku. Tak banyak berharap akan terjadi hal semanis ini. Ya.. aku menyukaimu saat pertama kali aku melihatmu, bahkan hingga saat ini. Aku tahu Tuhan pasti punya rencana terbaik dan aku tak menyesali semua. Aku tak pernah meminta dan memohon untuk bisa satu kelas denganmu apalagi untuk bisa jadi wanita istimewa dihatimu. Tapi semuanya mengalir sangat indah, perasaan ini kian datang tanpa ku mau, dan aku tak punya kuasa untuk menolaknya.
Tak banyak yang tahu bahwa aku mencintaimu. Tak banyak yang tahu bahwa air mataku masih sering  terjatuh untukmu. Semua kusimpan rapat dalam tawa palsuku, karena aku tak ingin terlihat lemah didepan  mereka, karena yang mereka tahu aku hanyalah persinggahanmu yang menjadi penghiburmu. Padahal, mereka tak tahu betapa kita pernah berjalan begitu jauh dan pernah memimpikan jika perasaan ini berakhir dalam sebuah penyatuan. Tak banyak yang tahu, dan saat ini mereka hanya bisa menertawakan kisah kita, kisah yang tak selesai dan penuh bualan omong kosong. Jika aku memang tak serius mengapa aku masih ingin memperjuangkanmu sampai saat ini? jika aku hanya main-main mengapa aku masih menangis ketika bercerita tentangmu pada sahabat dan temanku? Hatiku meringis dan tak kuasa menjawabnya.
Andai aku bisa memutar waktu, sebenarnya yang ingin aku ulang adalah masa-masa perkenalan kita, masa-masa saat kita merasakan kenyamanan yang berbeda, masa-masa saat aku dan kamu baik-baik saja. Andai aku bisa memutar waktu, aku ingin mengubah sikap-sikap burukku yang mungkin menyebabkan kamu pergi secepat ini. Andai aku bisa memutar waktu, aku ingin.... kamu kembali.
Salamku yang masih merindukanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar