Hay, Tuan.. Selamat datang.
Pria bersuku batak dengan
potongan rambut cepak, berbadan tinggi dan cukup berisi. Kau berhasil masuk
dalam duniaku. Selamat datang di duniaku dengan berjuta imajinasi konyol yang
terkadang banyak orang menilainya dengan sebelah mata karena bagi mereka aku
adalah termasuk wanita yang hanya pandai berimajinasi.
Kini kau berhasil menjadi tokoh
baru dalam jentikan jemariku. Menjadi sesuatu yang akan kurangkai indahnya
melalui susunan kosakata kalimat sederhana yang kupunya. Semoga tak kau lihat
murahan susunan kalimat ini. Aku hanya menuangkan isi kepalaku dengan berbagai
perasaan memuncak, semoga tak kau lihat berlebihan.
Jentikan jemariku kali ini
kutulis ketika aku sulit tertidur ditengah detik-detiknya pergantian hari baru.
Menjelang saat dimana Indonesia akan merayakan hari kemerdekaannya, dengan
euforia setiap perlombaan yang akan diselenggarakan. Ulang tahunmu pun sama
seperti hari kemerdekaan Indonesia, yaa.
Kau tahu, bagiku kali ini kau
datang sebagai penghapus sepi. Aku senang kau ada. Hadirmu begitu magis dan
mampu menghipnotisku hingga tertarik dalam setiap rentetan pesan singkat yang
kau kirim. Namamu menjadi list pertama dalam list pesan singkatku. Bagiku kau
menyenangkan, mampu membuat tawa meski nyatanya baru 60 hari kita berkenalan
dan dua kali berhadapan muka.
Tapi, cinta mana yang pernah
salah?
Kau lucu, aku suka. Kau menarik,
aku tertarik.
Sulit memang memakai logika jika
sedang jatuh hati. Meski seharusnya kisah ini adalah kisah yang hakikatnya
tidak boleh dimulai. Sedang senang, namun tiba-tiba merasa pilu. Miris.
Entahlah, dalam waktu bersamaan
kau buat aku menjadi seorang penakut. Aku takut ketika kau tak kirimkan pesan
singkatmu meski hanya sekedar satu kata atau dua kata yang menjadi semangat
pagiku hingga malam berganti lelap. Aku takut ketika aku harus kehabisan topik
pembicaraan dan kau tak mencari topik baru sebagai bahan celotehan komunikasi
kita dalam layar telepon selulerku. Aku takut ketika pada akhirnya kau
menghilang, pergi ketika perasaan itu mulai timbul. Kau menjelma menjadi sosok
pria yang seringkali membuat senang dan pilu dalam waktu yang bersamaan.
Dalam jentikan jemariku kali ini
ku ucapkan rasa terimakasihku padamu. Terimakasih sudah menjadi penghibur meski
belum tentu dirasakan dua arah. Terimakasih karena telah menuntunku untuk
tersenyum ketika ku beranjak tidur. Terimakasih telah membuat jantung berdegub
kencang ketika pesanmu masuk dalam daftar notifikasi seluler genggamku. Terimakasih
sudah membuat hati merasakan bagaimana rasanya merindu kembali.
Maaf jika isi tulisan ini adalah
kalimat tak bermakna dan memuakkan. Ngomong-ngomong, selamat ulang tahun,
teman, pria pembawa tawa. Semoga bertambahnya umurmu, kau semakin menjadi pria bijaksana
dengan segala kerendahan hati yang kau punya. Biarlah kehormatan dan kekayaan
selalu dilimpahkanNYA padamu. Tuhan berkati kau supaya kau bisa menjadi saluran
berkatNYA. Terus sehat, sehat terus. Terus bahagia, bahagia melimpah
atasmu. Tuhan Yesus mengasihimu dan
sepertinya rasa itu menjelma serupa.
Sekali lagi selamat ulang tahun,
Tuan..
Tokoh yang belum sempat temuiku
lagi hingga ku posting tulisan ini. Aku harap kita lekas jumpa!