Kita berada dalam satu tempat
dimana pertama kali kita bertemu. Tempat yang harusnya menjadi tempat yang
sangat indah dengan berbagai kisahnya. Ruangan tak terlalu luas dengan satu
papan tulis dan beberapa bangku, tempat untuk kita belajar bersama dengan teman
lainnya. Ruang kelas. Aku suka berada diruangan itu. Kenangan dan kisah yang
tercipta disitu pun berbeda-beda. Tapi, bagian yang paling indah adalah ketika
aku bisa melihat sorot matamu dan senyummu.
Perkenalan kita sangatlah instan.
Kesederhanaanmu membuat aku percaya kalau kamu adalah pria yang berbeda. Aku
mulai membangun mimpi, harapan, dan keyakinan agar tidak menyia-nyiakan
kebersamaan kita. Kamu humoris dan manis, mungkin dua hal itu memang tak cukup
dijadikan alasan akan hadirnya cinta. Terlalu buru-buru jika aku mengartikan
ini semua adalah cinta, mungkinkah kita terjebak dalam ketertarikan sesaat? Aku
tak tahu. Jika ini hanya ketertarikan sesaat mengapa aku begitu sedih ketika
kamu memutuskan untuk pisah dan mengakhiri segalanya?
Akhir tahun lalu kamu begitu
manis dan mengejutkan. Perhatian-perhatianmu membuat aku yang lama tak merasakan
cinta seperti tersetrum dengan energi magis. Kamu mulai ungkapkan rasa,
bercerita tentang rasa kagummu terhadapku, serta tetang dirimu dan mimpimu.
Kamu tahu, diam-diam sebenarnya aku mengagumimu, tapi aku tak ingin bilang. Kalau
saat itu aku sempat cuek hingga kamu merasa bahwa aku tak ingin menjalani
hubungan ini denganmu. Sebenarnya aku hanya terlalu gengsi untuk mengatakan
bahwa aku mulai menyukaimu. Aku merasa nyaman dengan keberadaanmu di
hari-hariku.
Beberapa bulan lalu kukira aku
sudah menjadi sosok yang benar-benar istimewa bagimu, seperti yang kau bilang
kalau hubungan ini spesial dan aku wanita istimewa di hatimu, tapi ternyata
perkiraanku salah. Itu hanya sekedar ucapan palsumu. Aku belum jadi pemilik
hatimu. Aku hanya persinggahan yang mungkin tak akan kau jadikan tujuan.
Kalau boleh jujur, aku sungguh
menikmati kebersamaan kita. Kebersamaan yang terjalin dari makhluk yang bisa membuat
bodoh menjadi pintar dalam waktu yang bersamaan-handphone. Perhatian serta senyuman
yang kau selipkan dalam setiap percakapan kita lewat tulisan itu membuatku
banyak berharap. Kupikir, kamu memang mempunyai perasaan serius denganku. Tapi
lagi-lagi aku salah, harapanku terlalu tinggi.
Tapi mengapa terus saja kau
tunjukkan jalan terang? Jalan terang yang kupikir adalah tujuan untuk menuju
kenyataan. Aku mencoba mengikuti jalan itu, berjalan bersamamu atas nama hari,
dan kita tak tahu teka-teki dibalik perbedaan yang ada didalam kita. Hingga
akhirnya kamu memilih pergi dengan alasan yang tidak kupahami. Kamu memilih
pergi ketika aku mulai menyayangimu dan terus ingin memperjuangkan kamu.
Bayangkan, semua hanya terjadi 2 bulan 24 hari! Begitu singkat, bukan? Kamu
pergi ketika aku mulai merasa bahwa ini adalah cinta. Kamu pergi ketika aku
mulai berharap kebersamaan kita tidak akan berakhir meski sudah diujung tanduk.
Tapi, kini aku harus melewati
hari yang kurasa aneh. Tidak ada lagi kamu dan perhatianmu. Tidak ada lagi kita
dan canda tawa yang dulu pernah ada. Rasa sakit ini masih begitu terasa. Kamu
tentu tahu, melupakan sesuatu yang sudah melekat bukanlah perkara yang mudah.
Aku tak pernah membayangkan bangun pagi dan tidur malam tanpa ucapan-ucapan
manismu. Aku tak pernah membayangkan rasanya terlelap sebelum mendengar suara
lembutmu dari ujung telepon sana. Aku tak ingin perpisahan, tapi sayangnya
Tuhan berkata lain-kita berpisah.
Kita pernah saling merasakan
kenyamanan karena rasa sayang. Ingatkah kamu dengan semua kata-kata manismu
dulu? Atau aku yang terlalu berlebihan
mendambakan sosok seperti kamu? Pipiku seringkali basah entah oleh apa. Mungkin
air mata. Tapi, tolong jangan paksa aku mengaku bahwa itu adalah airmata,
karena kamu tak akan mengerti rasa sakitku. Dan karena aku tahu kamu pun tak
pernah ingin mendengar cerita apapun tentang airmataku.
Kita masih akan berada diruangan itu bersama, diruangan
favoritku. Diruangan yang penuh dengan kisah dan kejutan yang berbeda setiap
harinya. Diruangan itulah aku masih bisa menikmati senyummu dari kejauhan meski
harus mencurinya dengan tatapan malu. Aku masih menjadikan ruangan itu sebagai
ruangan favoritku. Meski tak ada kamu lagi disampingku. Hey, kita belum saling
membahagiakan dan meraih kesuksesan, tapi mengapa kau inginkan perpisahan ini
terjadi?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar