Kamis, 03 Juli 2014

2 Bulan 24 Hari


Kita berada dalam satu tempat dimana pertama kali kita bertemu. Tempat yang harusnya menjadi tempat yang sangat indah dengan berbagai kisahnya. Ruangan tak terlalu luas dengan satu papan tulis dan beberapa bangku, tempat untuk kita belajar bersama dengan teman lainnya. Ruang kelas. Aku suka berada diruangan itu. Kenangan dan kisah yang tercipta disitu pun berbeda-beda. Tapi, bagian yang paling indah adalah ketika aku bisa melihat sorot matamu dan senyummu.
Perkenalan kita sangatlah instan. Kesederhanaanmu membuat aku percaya kalau kamu adalah pria yang berbeda. Aku mulai membangun mimpi, harapan, dan keyakinan agar tidak menyia-nyiakan kebersamaan kita. Kamu humoris dan manis, mungkin dua hal itu memang tak cukup dijadikan alasan akan hadirnya cinta. Terlalu buru-buru jika aku mengartikan ini semua adalah cinta, mungkinkah kita terjebak dalam ketertarikan sesaat? Aku tak tahu. Jika ini hanya ketertarikan sesaat mengapa aku begitu sedih ketika kamu memutuskan untuk pisah dan mengakhiri segalanya?
Akhir tahun lalu kamu begitu manis dan mengejutkan. Perhatian-perhatianmu membuat aku yang lama tak merasakan cinta seperti tersetrum dengan energi magis. Kamu mulai ungkapkan rasa, bercerita tentang rasa kagummu terhadapku, serta tetang dirimu dan mimpimu. Kamu tahu, diam-diam sebenarnya aku mengagumimu, tapi aku tak ingin bilang. Kalau saat itu aku sempat cuek hingga kamu merasa bahwa aku tak ingin menjalani hubungan ini denganmu. Sebenarnya aku hanya terlalu gengsi untuk mengatakan bahwa aku mulai menyukaimu. Aku merasa nyaman dengan keberadaanmu di hari-hariku.
Beberapa bulan lalu kukira aku sudah menjadi sosok yang benar-benar istimewa bagimu, seperti yang kau bilang kalau hubungan ini spesial dan aku wanita istimewa di hatimu, tapi ternyata perkiraanku salah. Itu hanya sekedar ucapan palsumu. Aku belum jadi pemilik hatimu. Aku hanya persinggahan yang mungkin tak akan kau jadikan tujuan.
Kalau boleh jujur, aku sungguh menikmati kebersamaan kita. Kebersamaan yang terjalin dari makhluk yang bisa membuat bodoh menjadi pintar dalam waktu yang bersamaan-handphone. Perhatian serta senyuman yang kau selipkan dalam setiap percakapan kita lewat tulisan itu membuatku banyak berharap. Kupikir, kamu memang mempunyai perasaan serius denganku. Tapi lagi-lagi aku salah, harapanku terlalu tinggi.
Tapi mengapa terus saja kau tunjukkan jalan terang? Jalan terang yang kupikir adalah tujuan untuk menuju kenyataan. Aku mencoba mengikuti jalan itu, berjalan bersamamu atas nama hari, dan kita tak tahu teka-teki dibalik perbedaan yang ada didalam kita. Hingga akhirnya kamu memilih pergi dengan alasan yang tidak kupahami. Kamu memilih pergi ketika aku mulai menyayangimu dan terus ingin memperjuangkan kamu. Bayangkan, semua hanya terjadi 2 bulan 24 hari! Begitu singkat, bukan? Kamu pergi ketika aku mulai merasa bahwa ini adalah cinta. Kamu pergi ketika aku mulai berharap kebersamaan kita tidak akan berakhir meski sudah diujung tanduk.
Tapi, kini aku harus melewati hari yang kurasa aneh. Tidak ada lagi kamu dan perhatianmu. Tidak ada lagi kita dan canda tawa yang dulu pernah ada. Rasa sakit ini masih begitu terasa. Kamu tentu tahu, melupakan sesuatu yang sudah melekat bukanlah perkara yang mudah. Aku tak pernah membayangkan bangun pagi dan tidur malam tanpa ucapan-ucapan manismu. Aku tak pernah membayangkan rasanya terlelap sebelum mendengar suara lembutmu dari ujung telepon sana. Aku tak ingin perpisahan, tapi sayangnya Tuhan berkata lain-kita berpisah.
Kita pernah saling merasakan kenyamanan karena rasa sayang. Ingatkah kamu dengan semua kata-kata manismu dulu?  Atau aku yang terlalu berlebihan mendambakan sosok seperti kamu? Pipiku seringkali basah entah oleh apa. Mungkin air mata. Tapi, tolong jangan paksa aku mengaku bahwa itu adalah airmata, karena kamu tak akan mengerti rasa sakitku. Dan karena aku tahu kamu pun tak pernah ingin mendengar cerita apapun tentang airmataku.
Kita masih akan  berada diruangan itu bersama, diruangan favoritku. Diruangan yang penuh dengan kisah dan kejutan yang berbeda setiap harinya. Diruangan itulah aku masih bisa menikmati senyummu dari kejauhan meski harus mencurinya dengan tatapan malu. Aku masih menjadikan ruangan itu sebagai ruangan favoritku. Meski tak ada kamu lagi disampingku. Hey, kita belum saling membahagiakan dan meraih kesuksesan, tapi mengapa kau inginkan perpisahan ini terjadi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar