Entah ini salah siapa. Salah
kami kah atau orangtua kami, aku pun tak tahu. Yang kami tahu, kami hanyalah
dua anak manusia yang memiliki perasaan yang sama. Kami sama-sama jatuh cinta.
Cinta yang timbul karena Tuhan yang mempertemukan. Cinta yang timbul berawal dari
rasa malu-malu dengan harapan bahwa akhirnya akan menyenangkan. Cinta yag
indah, yang kami harapkan akan mampu bertahan lama.
Entah ini salah siapa. Salah
kami kah atau orangtua kami, aku pun tak tahu. Kami baru saja memulai hubungan
indah ini beberapa hari. Kami membayangkan kalau hubungan ini akan tetap
berjalan dengan indah. Bayangan-bayangan indah yang sulit sekali kami khianati.
Bayangan tentang hubungan indah yang kami harapkan akan membawa dampak positif
dan menjadi hubungan yang dapat menjadi berkat untuk banyak orang.
Entah ini salah siapa. Salah
kami kah atau orangtua kami, aku pun tak tahu. Kami sama-sama anak Tuhan. Kami
sama-sama cinta Tuhan. Kami sama-sama melayani Tuhan. Kami sama-sama saling membutuhkan. Kami sama-sama berharap hubungan ini akan menjadi tempat kami
untuk saling memberi semangat dan dapat memotivasi pasangan kami. Kami berharap
hubungan ini akan menjadi tempat kami bertumbuh bersama di dalam Tuhan.
Tapi, entah ini salah siapa.
Salah kami kah atau orangtua kami, aku pun tak tahu. Nyatanya hubungan kami diujung
jalan. Hubungan kami tak bisa berjalan lama. Yang awalnya kami pikir bahwa kami
ini sama, ternyata orangtua kami mempunyai pandangan berbeda tentang hubungan
kami. Kami berbeda suku. Dan mereka bilang kami tidak bisa menjalani hubungan
ini, dengan alasan sepele yaitu kami beda suku.
Entah ini salah siapa. Salah
kami kah atau orangtua kami, aku pun tak tahu. Bagi kami beda suku bukanlah
masalah yang besar asal kami bisa menjalani hubungan ini dilandaskan dengan
kepercayaan kami yang sama kepada Tuhan. Tapi nyatanya tidak bagi kedua
orangtua kami. Bagi mereka berbeda suku adalah hal yang sangat bermasalah.
Masalah terbesar kedua setelah berbeda keyakinan.
Entah ini salah siapa. Salah
kami kah atau orangtua kami, aku pun tak tahu. Entahlah akan seperti apa, kami
hanya berusaha membawa terus hubungan ini kedalam tangan kuasa Sang Empunya
cinta yang maha besar. Kami menaruh harapan besar kami untuk hubungan yang baru
seumur jagung ini. Tidak adil bagi kami kalau akhirnya kami berpisah hanya
karena keegoisan orangtua kami tentang perbedaan suku.
Bukan kah Indonesia itu
mempunyai semboyan Bhineka Tunggal Ika yang artinya walau berbeda tetapi tetap
satu? Kami tidaklah bermaksud menentang atau membangkang kepada orangtua, tapi bukankah
kami berhak merasakan indahnya cinta yang diberikan Tuhan kepada kami?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar