Kamis, 19 Juni 2014

Cerita Singkat Kita


Aku belum pernah merasakan cinta berbeda seperti ini. Perasaan berbeda yang datang ketika aku baru saja mulai belajar disuatu Sekolah Tinggi. Aku tidak tahu mengapa hal itu terjadi, mungkin karena perasaan cinta ini yang benar-benar mengesankan. Sebelum study awal ku mulai, aku tidak pernah berfikir untuk memiliki cinta berbeda terhadap lawan jenisku selama aku belajar ditempat ini. Bahkan aku pernah berjanji pada diriku kalau aku tidak akan jatuh cinta pada teman atau pun Kakak semesterku yang satu kampus denganku. Tapi, cinta datang begitu saja tanpa ku undang kehadirannya.

Pada awal masuk kuliah, ada seorang pria yang terlihat sederhana sekali sikapnya. Aku memang sempat menyukai pria itu karena senyumnya saat pertama kali aku melihatnya waktu pengambilan kaos OSPEK. Tapi tak pernah ku sangka kalau aku akan sekelas dengannya. Seiring berjalannya waktu, dia mulai memberikan kesan yang berbeda dari kebanyakan pria lain di kelas. Suatu hari, saat jam kuliah selesai dan seperti biasa aku langsung pulang kerumah tanpa ada basa-basi mengobrol apapun dengan teman-teman lain. Sekitar tiga puluh menit aku sampai dirumah, ponselku berdering ada yang mengirimkan pesan singkat padaku. Entah ada angin apa, entah kesambet apa, ternyata pesan singkat itu dari pria yang memiliki senyum manis itu. Dalam pesan singkatnya pria itu hanya menanyakan satu pertanyaan yang sepertinya semua orang akan bisa menjawabnya. Kubalas pesannya dan dia terus menyambut ku melalui pesan singkat. Anehnya, mengapa aku senang berbalas pesan dengannya. Beberapa kali aku berbicara dengannya tentang beberapa hal melalui pesan singkat. Namun, aku punya rasa penasaran dan bersemangat untuk mencari tahu tentangnya.

Setelah malam itu terjadi, kami semakin dekat dan kian dekat. Tapi, meski setiap hari bertemu dikelas, kami tidak pernah terlihat dekat sedekat dalam pesan singkat. Kami menjalaninya seperti biasa dan teman-teman pun tak ada yang curiga pada kami. Dan, suatu ketika sahabatku  mengatakan bahwa aku telah berubah. Sahabatku menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda antara aku dengan pria itu. Aku mengelak. Selalu mengelak setiap kali sahabatku mempertanyakan hubungan antara aku dengan pria itu. Sampai akhirnya aku pun benar-benar tak bisa mengelak lagi. Kuceritakan semuanya pada sahabatku. Semuanya dari kejadian malam awal pertama kali pria itu mengirimkan pesan singkat hingga kami saling merasakan kenyamanan yang berbeda satu dengan yang lain.
Sahabatku mendengarkanku dengan baik sampai akhirnya aku selesai bercerita. Dan tak kusangka, sahabatku memberikan pengertian yang sangat menusuk. Dia bilang kami berbeda. Ya.. aku tahu kami berbeda. Sangat berbeda. Perbedaan kami sangat sulit untuk disatukan. Kami berbeda keyakinan. Dia mengenakan Tasbih dan aku mengenakan Salib. Terang dan gelap tidak bisa dipersatukan. Seperti langit dengan bumi. Mempersatukan yang sama saja sulit apalagi yang tidak sama dan tidak seimbang. Tapi, apa salah kami yang merasakan cinta karena perbedaan? Kalau perbedaan itu indah, mengapa harus dipermasalahkan? Meski begitu aku tidak peduli tentang apa pun yang sahabatku katakan. Bagiku cinta datang dengan cara yang indah dan tidak dipaksakan.

Aku menemukan cintaku. Pria yang menjadi cinta dan penyemangatku adalah teman sekelasku. Perasaan  itu hadir seiring berjalannya waktu. Kami saling berbagi, saling mendukung satu dengan yang lain, saling menguatkan, saling menghibur, saling memberi dan tak canggung lagi untuk duduk dekat bersama-sama meski terkadang ada salah satu teman kami yang sering iseng menggoda kami. Pada awalnya, kami merasa malu karena terus di ganggu dan di goda seperti itu. Sedikit risih. Namun, kami tidak pernah mempedulikannya, kami terus menjalani hubungan yang dia bilang spesial dan memang benar hubungan ini sangat spesial. Dia menganggapku wanita istimewa, dan begitupun sebaliknya aku menganggap dia adalah pria yang paling istimewa. Aku terus berpikir tentang dia begitupun dia terhadapku. Dia pria kebangganku. Dia semangatku. Dia senyum semangatku. Dia lelakiku. Kami benar-benar dimabuk perasaan.

Waktu terus berputar, hari terus berganti, minggu terus berganti, bulan pun terus berganti. Hubungan ini terus berjalan hingga akhirnya dia berubah sikap padaku. Perubahan yang membuatku tak lagi merasakan kebahagiaan seperti dulu. Perubahan sikap yang membuatku bingung, kaget dan sedikit kecewa. Perubahan yang terjadi saat aku benar-benar menaruh hati padanya. Sikapnya tak lagi semanis dulu, senyumnya tak lagi terlihat setulus dulu. Perhatiannya berkurang, jarang sekali mengucapkan selamat pagi, menanyakan keadaanku, menanyakan apa aku sudah makan, atau aku sedang apa, dan lainnya. Kalau dulu setiap pulang kuliah dia pasti mengabariku dan mengucapkan selamat malam sebelum aku tidur, kini semuanya perlahan menghilang. Semua menghilang tanpa sebab yang kutahu.

Tapi, aku tetap bertahan dengannya, demikian juga dia denganku. Kami masih menjalani hubungan yang spesial dan menganggap satu dengan yang lain sebagai orang yang istimewa. Kami masih saling berkirim pesan singkat tapi tidak sesering dulu. Kami masih menjalani semuanya seperti biasa, meski aku tak pernah menganggap perubahannya sebagai hal biasa. Suatu kali, ku tanyakan padanya tentang perubahan sikapnya terhadapku. Mengapa sekarang ini dia jarang sekali mengabariku, apa dia mulai bosan dengan hubungan ini, atau aku punya salah menyakitinya, ataukah ada hal yang lain. Dan dia hanya menjawab kalau dia sedang sibuk dan banyak pekerjaan di kantornya. Sangat klise sekali menurutku.

Aku tak pernah berfikir kalau dia akan berubah seperti ini. Berubah menjadi pria yang cuek. Berubah menjadi pria yang tak peduli. Berubah menjadi pria yang akhirnya mengubah senyumku menjadi tetesan air mata. Aku merindukannya yang dulu. Aku merindukan saat dia menanyakan kabarku, saat dia memperhatikanku, saat dia mencoba meluluhkan hatiku ketika aku mulai marah padanya. Aku teringat saat dia berkata kalau dia tak akan meninggalkanku. Aku teringat saat dia berkata hubungan kami spesial dan aku adalah wanita istimewa dalam hatinya. Aku teringat semua kata-kata manisnya dulu. Aku teringat semua pernyataan manisnya itu. Tapi, sepertinya pernyataan manis itu kini berubah terbalik karena sikap acuh tak acuhnya padaku. Pernyataan itu berubah menjadi pertanyaan apakah benar aku ini istimewa dan hubungan ini spesial? Apakah benar dia tak akan meninggalkan aku? Apakah benar semua pernyataan itu berasal dari hatinya? Ingatkah dia akan semuanya itu?

Aku masih terus bertahan dengannya. Bertahan karena aku bukan hanya ingin menjadi seorang yang istimewa saja baginya. Aku bertahan karena aku ingin menjadi sahabatnya, menjadi temannya, menjadi telinganya, menjadi semangatnya dan menjadi tempatnya untuk berbagi susah dan senang. Aku masih akan menjadikan dia sebagai orang yang istimewa dan menjadikan hubungan ini spesial meski kini sikapnya tak seperti dulu. Aku masih sering mengucapkan selamat pagi padanya, aku masih selalu mengucapkan selamat malam padanya, aku masih terus menanyakan bagaimana kabarnya, bagaimana dengan pekerjaanya, bagaimana dengan tugas kuliah, dan lain-lain meski balasan yang ku dapat jauh dari yang aku harapkan. Tak mengapa, karena aku percaya kalau suatu saat nanti dia akan kembali menjadi sosok pria kebanggaanku.

Tapi, tiba-tiba suatu ketika dia mengirimkan pesan singkat yang sangat membuatku kaget. Dalam pesannya dia berkata kalau dia tak sebaik yang kufikirkan. Dia tak bisa membalas dan mengimbangi perasaanku. Aku bingung apa maksudnya. Tak bisa membalas dan mengimbangi perasaanku? Lalu selama ini dia menganggap kalau hubungan ini tak berarti apa-apa. Setiap kata manisnya adalah jebakan dan lelucon yang membuatku termakan kepalsuan dan kebodohan mengatasnamakan hubungan spesial dan istimewa. Dia memainkan perasaanku seenaknya. Dia menjatuhkanku tepat sekali kedasar bumi yang paling dalam. Dia menusukku dengan kalimatnya yang membuat tangisku pecah. Dia membuat duniaku gelap dan hilang seketika. Senyum kebahagiaan seketika memudar berganti menjadi kemurungan dan kemuraman yang sama sekali tak pernah kubayangkan kalau dia akan tega melakukan hal jahat seperti itu terhadapku, tehadap perasaanku, terhadap hatiku. Dia menjeratku didalam rasa kenyamanan yang tak pernah aku bayangkan. Dia merubah sikap cuek ku menjadi sosok yang cengeng. Dia menjadikanku seperti alat yang hanya dia cari disaat dia butuhkan.

Aku mencintainya. Perasaanku masih tetap sama. Tapi, apa dia mencintaiku juga? Ah..pertanyaan bodoh. Jelas saja jawabannya tidak. Apa dia pernah ingat sema kejadian yang pernah kita lakukan? Ah..pasti juga tidak akan ingat. Bodoh. Sudah terlihat dari sikap cuek, acuh tak acuh, dan pesan singkatnya yang membunuh. Kini apalagi yang kuharapkan? Seharusnya aku tahu kalau selama ini perubahan sikapnya adalah caranya untuk menjauhiku secara perlahan.

Seiring berjalannya waktu aku mengerti tentang semuanya. Tentang perubahannya, tentang siapa dirinya, tentang setiap sikapnya. Awalnya aku mempermasalahkan semuanya. Jujur, aku kecewa padanya. Sangat. Masih terngiang jelas semua hari-hari yang kita lalui. Setiap kata manis dan lembutnya masih asyik bermain ria berputar manja dipikiranku. Semua tutur bahasa serta perhatiannya masih sangat terekam jelas dalam ingatan. Semuanya. Semuanya dari awal hingga saat ini. Semuanya masih tersusun sangat rapi dalam memoriku.

Aku tak akan pernah melupakannya. Setiap kebaikannya, setiap kelembutannya, setiap senyum dan semangat yang dia berikan akan selalu aku ingat. Setiap pemberiannya pun akan selalu aku simpan dan aku jaga dengan baik. Kalau suatu saat nanti dia memiliki wanita istimewa yang baru serta menjalani hubungan spesial dengan wanita lain, aku merelakannya. Aku akan belajar menghilangkan sedikit rasaku terhadapnya. Tugasku hanya menemani dan memberi semangat untuk kesuksesannya. Lalu setelah itu, dialah yang menentukan dengan siapa dia akan menikmati kesuksesannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar