Selasa, 23 Desember 2014

Hujan di Langit Senja


Selamat datang musim hujan. Selamat membasahi bumi dengan bulir-bulir lembutmu, ya. Semoga kali ini kamu datang untuk membasuh kekeringan dan tidak menyebabkan kerugian buat para makhluk penghuni bumi.

Gue suka banget sama hujan. Bisa dibilang gue penikmat beratnya hujan. Meski begitu, sebenarnya gue punya persepsi lain tentang hujan. Menurut gue, hujan itu seperti anak kecil. Kenapa? Karena hujan itu enggak peduli mau dia turun dengan deras atau enggak, mau dia ngebasahin makhluk bumi segimanapun dia enggak peduli. Yang penting dia turun dengan senangnya, dengan sesukanya dan berhenti semaunya (tapi bukan berarti gue menyalahkan Tuhan sang Kuasa, loh). Sama halnya dengan anak kecil. Apapun yang mereka lakukan, mereka enggak peduli. Enggak pernah peduli. Mau bersih atau kotor, mau baik atau enggak, yang penting mereka lakukan hal itu dan mereka senang dengan apa yang mereka lakukan. Kenapa gue bilang begitu? Karena kali ini gue ngelihat hujan bareng malaikat-malaikat mungil (murid gue) yang berumur 4-6tahun. Hujan kali ini turun deras banget. Di mulai dari awan yang menggelap, petir kencang dengan suara gemuruhnya yang menggelegar, dan akhirnya turunlah hujan di sertai angin kencang. Sebelum hujan turun gue udah was-was dan takut banget ngeliat kejadian-kejadian seperti yang gue sebutin tadi. Tapi anehnya malaika-malaikat gue enggak takut sama sekali. Mereka asyik dengan dunia mereka. Ketawa-ketawa, main, lari-larian dengan sesuka hati mereka kesana-kemari. Melakukan apapun yang mereka mau, enggak peduli dengan hal yang sedang terjadi. Sampai akhirnya setelah mereka capek (atau lebih tepatnya gue yang capek teriak-teriak buat nyuruh mereka berhenti main), mereka baru sadar kalau hujan turun deras disertai petir.

Cerita di atas bisa dibilang sebagai basa-basi tulisan gue. Dan akhirnya setelah basa-basi yang cukup panjang (yang sepertinya di lupakan saja) gue masuk kedalam inti tulisan gue kali ini. Seperti yang gue bilang, gue suka banget sama hujan. Entah kenapa buat gue hujan itu menyejukkan banget. Mungkin bukan hanya buat gue, tapi buat para makhluk bumi lainnya juga. Hujan itu selalu indah dipandang mata. Dan gue (pernah) mengibaratkan seseorang seperti hujan. Buat gue orang itu sama seperti hujan, karena dia emang indah banget buat dipandang. Gue suka banget ngeliat senyum manisnya yang buat gue jatuh hati pertama kali sama dia. Selain itu gue juga pernah menghabiskan sore bareng dia dibawah hujan rintik-rintik, tepatnya tahun lalu. Hujan dikala senja tahun lalu enggak bisa gue lupain. Tapi bukan berarti gue belum move-on. Gue udah move-on, kok (ini serius enggak bohong). Buat gue hujan dilangit senja tahun lalu indah banget. Masih kerasa dan kebayang sampai sekarang. Gue penikmat hujan. Gue pengagum senja. Dan gue (pernah) melewati hujan di kala senja bareng dia. Dia si hujan yang ngebasahin hati gue disaat hati gue mulai gersang. Dia si hujan yang nyiram tanah kering menjadi basah dan sejuk. Dia si hujan yang selalu menyejukkan hati dengan bulir-bulirnya yang lembut.

Tapi sekarang hujan dilangit senja gue berubah menjadi petir yang menakutkan. Petir yang udah ngilangin sejuknya hujan dengan gemuruh yang menakutkan. Petir yang datang disaat gue lagi menikmati kelembutan bulir-bulir hujan. Petir yang buat gue diam membisu enggak bisa berkutik karena gue kalah di serang ketakutan serta gemuruhnya. Petir kencang yang seketika ngebuat gue ngerasa kaku enggak berdaya. Gue suka hujan, tapi gue enggak suka petir.

Tapi mau gimana pun, petir itu selalu ada saat hujan datang. Entah gemuruhnya pelan atau kencang petir emang enggak pernah menarik untuk di dengar, di lihat apalagi untk di rasa. Dan petir itu gue ibaratkan dengan patah hati. Saat jatuh cinta patah hati itu pasti akan ada. Entah dia datang cepat atau lambat. Entah dia datang dengan gemuruhnya yang pelan atau kencang. Rasanya pasti sama saja, membuat kaku dan tak berdaya. Sama halnya dengan perjalanan cinta gue. Ketika gue lagi menikmati sang hujan mengalir, petir itu menyambar tiba-tiba tanpa bisa gue tahan gemuruhnya. Sama seperti cinta gue yang remuk ketika patah hati datang menyambar.

Hujan di sertai petir.
Cinta di sertai patah hati.
Terimakasih buat lo,
Hujan di Langit Senja!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar