Senin, 20 November 2017

Selamat Tujuh Tahun, Tuan



Aku mencoba menerka jenis perasaan apa yang sedang aku rasakan. Perasaan aneh yang tiba-tiba muncul dan kadang menghilang ini telah aku rasakan beberapa tahun belakangan. Perasaan ini muncul saat aku melihat sisi lain dari dirimu yang belum pernah kulihat. Entah perasaan ini kagum, suka, atau apa aku tak mengerti. Namun, yang jelas kini tumbuh semakin dalam. Bahkan menjalar menjadi rasa sayang.

Jentikan jemariku kali ini kutulis ditengah-tengah perasaan yang entah bagaimana. Rasa sedih, bahagia, kesal, amarah semua berbaur menjadi satu. Kali ini aku mau mereka sosokmu sepenuhnya dan menghadirkan kamu dalam tulisanku. Kali ini aku mau keluarkan segala hal yang terlihat palsu namun semua ingin kujadikan nyata. Meski hanya lewat tulisan.

Waktu terus berputar, pria-pria datang padaku lalu mereka pergi. Wanita-wanita datang padamu lalu mereka juga pergi. Tinggallah aku dan kamu tanpa pria-pria dan wanita-wanita itu. Perasaanku mulai berubah. Ada rasa-rasa aneh saat aku memandangmu. Ada rasa kesal saat aku melihatmu bersama wanita lain. Perasaan ini bergejolak tumbuh menjadi ketakutan. Aku takut wanita lain dekat denganmu, konyol bukan? Tapi ini jujur kukatakan, aku kadang merasakan perasaan yang orang lain sebut dengan cemburu. Aku cemburu melihat wanita lain memperlakukanmu secara istimewa begitupun sebaliknya, aku merasa cemburu jika kamu memperlakukan wanita lain secara istimewa. Aku kesal, jengkel dan marah. Namun apa dayaku? Siapa aku? Apa hakku? Miris.

Aku memutuskan memendamnya sendirian. Berbagi? Aku tak tahu caranya. Bagaimana caranya menceritakan perasaanku padamu? Aku tak tahu harus mulai dari mana. Tak tahu.

Hingga hari ini tepat di tanggal sembilan belas aku merayakan tujuh tahun rasanya menyimpan perasaan tanpa mampu mengungkapkannya. Menyimpan semua yang bergelora dalam hati. Setiap keinginan serta rindu yang hanya bisa kusampaikan melalui perbincangan terindah antara aku dan Tuhanku.

Tepat di hari ini aku mencintaimu selama tujuh tahun. Mencintaimu diam-diam dalam hati.  Kau tahu, sebenarnya sulit menyimpan ini. Namun, apa daya aku tak kuasa untuk mengungkapkan apa yang kurasa. Aku terlalu kecil dan kau begitu besar. Aku terlalu buruk sedangkan kau terlalu indah untuk kuraih. Aku tak mampu mengeluarkan sedikit katapun untuk mengungkapkan apa yang ada dalam hatiku selama tujuh tahun ini.

Kutipu diriku sekuat dan semampuku, meski nyatanya aku harus merasakan kesakitan. Mungkin jika ada kategori penipu ulung, aku bisa masuk dalam salah satu deretan sebagai nominasinya. Bahkan mungkin aku akan menjadi pemenangnya, menipu perasaanku selama ini.

Entah kamu mengerti atau tidak, aku menaruh rasaku padamu lebih dari kesemua pria yang pernah keluar masuk dalam hidupku. Aku menaruh harapan tinggi padamu yang tak jarang hanya bisa kuungkapkan sesukaku pada Tuhanku. Entah sampai kapan harus seperti itu.

Rasanya ingin kusudahi, namun setiap kali kucoba yang ada malah bertambah berat melupakanmu. Kalau kata orang diluar sana, ilmu ikhlas adalah ilmu tertinggi di dunia mungkin aku tidak akan pernah bisa mencapainya jika itu berhubungan dengan kamu yang akhirnya nanti bukanlah menjadi milikku.

Seringkali aku berpikir kenapa harus kamu pria yang kucinta begitu dalam. Kenapa harus kamu yang selalu hadir ketika orang-orang itu pergi? Kenapa tiap kali dia, dia, dan dia pergi kamu lagi yang membuat jantungku berdetak tak menentu? Iya, kenapa harus kamu? Kenapa? Kamu bisa jawab?

Kamu membuat aku takut. Tapi kamu juga indah, menyenangkan serta menenangkan. Mengapa kamu memiliki dua karakter dalam satu tubuh? Kenapa bisa kamu menyenangkan dan menyebalkan dalam waktu yang bersamaan? Kenapa bisa?

Terlalu banyak pertanyaan yang ingin ku lontarkan padamu. Tapi, nyatanya pertanyaan itu melayang tanpa mendapatkan sebuah jawaban. Kamu terlalu tinggi hingga rasanya aku tertinggal jauh dibawah untuk bisa menggapaimu. Kamu layaknya angan yang tak pernah mampu kuraih bayangnya.

Aku merasa seperti marmut, meski telah berlari sangat cepat, tapi nyatanya marmut itu tak pergi kemana-mana sama seperti aku. Kali ini sepertinya sudah saatnya aku berhenti jadi marmut. Iya aku tahu, aku tahu seharusnya dari dulu aku berhenti. Berhenti berlari dari roda berputar yang membuat aku kelelahan sendiri. Aku merasa sudah berlari sangat cepat, tapi nyatanya aku kelelahan sendirian, padahal hanya stuck ditempat dan nggak kemana-mana. Aku lelah dengan segala imajinasi ketinggianku yang sebenarnya aku ciptakan sendiri. Dan sekarang aku mau berhenti jadi marmut.

Mungkin jatahku hanya mengagumimu dari kejauhan. Perasaanku biarlah aku simpan sendiri. Kupastikan aku akan berusaha keluar dari roda tersebut. Dan kalau nanti aku keluar dari roda itu aku akan berjalan sejauh mungkin untuk menemukan dia yang akan membalas rasaku. Meski yang kuinginkan hanya kamu.



Selamat datang November.
Selamat datang tanggal sembilanbelas.
Selamat datang tujuh tahun.
Selamat tinggal tujuh tahun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar