Aku mencoba menerka
jenis perasaan apa yang sedang aku rasakan. Perasaan aneh yang tiba-tiba muncul
dan kadang menghilang ini telah aku rasakan beberapa tahun belakangan. Perasaan
ini muncul saat aku melihat sisi lain dari dirimu yang belum pernah kulihat.
Entah perasaan ini kagum, suka, atau apa aku tak mengerti. Namun, yang jelas
kini tumbuh semakin dalam. Bahkan menjalar menjadi rasa sayang.
Jentikan jemariku kali
ini kutulis ditengah-tengah perasaan yang entah bagaimana. Rasa sedih, bahagia,
kesal, amarah semua berbaur menjadi satu. Kali ini aku mau mereka sosokmu
sepenuhnya dan menghadirkan kamu dalam tulisanku. Kali ini aku mau keluarkan segala
hal yang terlihat palsu namun semua ingin kujadikan nyata. Meski hanya lewat
tulisan.
Waktu terus berputar,
pria-pria datang padaku lalu mereka pergi. Wanita-wanita datang padamu lalu mereka
juga pergi. Tinggallah aku dan kamu tanpa pria-pria dan wanita-wanita itu. Perasaanku
mulai berubah. Ada rasa-rasa aneh saat aku memandangmu. Ada rasa kesal saat aku
melihatmu bersama wanita lain. Perasaan ini bergejolak tumbuh menjadi
ketakutan. Aku takut wanita lain dekat denganmu, konyol bukan? Tapi ini jujur
kukatakan, aku kadang merasakan perasaan yang orang lain sebut dengan cemburu.
Aku cemburu melihat wanita lain memperlakukanmu secara istimewa begitupun
sebaliknya, aku merasa cemburu jika kamu memperlakukan wanita lain secara
istimewa. Aku kesal, jengkel dan marah. Namun apa dayaku? Siapa aku? Apa hakku?
Miris.
Aku memutuskan memendamnya
sendirian. Berbagi? Aku tak tahu caranya. Bagaimana caranya menceritakan
perasaanku padamu? Aku tak tahu harus mulai dari mana. Tak tahu.
Hingga hari ini tepat
di tanggal sembilan belas aku merayakan tujuh tahun rasanya menyimpan perasaan
tanpa mampu mengungkapkannya. Menyimpan semua yang bergelora dalam hati. Setiap
keinginan serta rindu yang hanya bisa kusampaikan melalui perbincangan terindah
antara aku dan Tuhanku.
Tepat di hari ini aku
mencintaimu selama tujuh tahun. Mencintaimu diam-diam dalam hati. Kau tahu, sebenarnya sulit menyimpan ini. Namun,
apa daya aku tak kuasa untuk mengungkapkan apa yang kurasa. Aku terlalu kecil
dan kau begitu besar. Aku terlalu buruk sedangkan kau terlalu indah untuk
kuraih. Aku tak mampu mengeluarkan sedikit katapun untuk mengungkapkan apa yang
ada dalam hatiku selama tujuh tahun ini.
Kutipu diriku sekuat
dan semampuku, meski nyatanya aku harus merasakan kesakitan. Mungkin jika ada
kategori penipu ulung, aku bisa masuk dalam salah satu deretan sebagai nominasinya.
Bahkan mungkin aku akan menjadi pemenangnya, menipu perasaanku selama ini.
Entah kamu mengerti
atau tidak, aku menaruh rasaku padamu lebih dari kesemua pria yang pernah
keluar masuk dalam hidupku. Aku menaruh harapan tinggi padamu yang tak jarang
hanya bisa kuungkapkan sesukaku pada Tuhanku. Entah sampai kapan harus seperti
itu.
Rasanya ingin kusudahi,
namun setiap kali kucoba yang ada malah bertambah berat melupakanmu. Kalau kata
orang diluar sana, ilmu ikhlas adalah ilmu tertinggi di dunia mungkin aku tidak
akan pernah bisa mencapainya jika itu berhubungan dengan kamu yang akhirnya
nanti bukanlah menjadi milikku.
Seringkali aku berpikir
kenapa harus kamu pria yang kucinta begitu dalam. Kenapa harus kamu yang selalu
hadir ketika orang-orang itu pergi? Kenapa tiap kali dia, dia, dan dia pergi
kamu lagi yang membuat jantungku berdetak tak menentu? Iya, kenapa harus kamu?
Kenapa? Kamu bisa jawab?
Kamu membuat aku takut.
Tapi kamu juga indah, menyenangkan serta menenangkan. Mengapa kamu memiliki dua
karakter dalam satu tubuh? Kenapa bisa kamu menyenangkan dan menyebalkan dalam
waktu yang bersamaan? Kenapa bisa?
Terlalu banyak
pertanyaan yang ingin ku lontarkan padamu. Tapi, nyatanya pertanyaan itu
melayang tanpa mendapatkan sebuah jawaban. Kamu terlalu tinggi hingga rasanya
aku tertinggal jauh dibawah untuk bisa menggapaimu. Kamu layaknya angan yang tak
pernah mampu kuraih bayangnya.
Aku merasa seperti
marmut, meski telah berlari sangat cepat, tapi nyatanya marmut itu tak pergi
kemana-mana sama seperti aku. Kali ini sepertinya sudah saatnya aku berhenti
jadi marmut. Iya aku tahu, aku tahu seharusnya dari dulu aku berhenti. Berhenti
berlari dari roda berputar yang membuat aku kelelahan sendiri. Aku merasa sudah
berlari sangat cepat, tapi nyatanya aku kelelahan sendirian, padahal hanya
stuck ditempat dan nggak kemana-mana. Aku lelah dengan segala imajinasi
ketinggianku yang sebenarnya aku ciptakan sendiri. Dan sekarang aku mau
berhenti jadi marmut.
Mungkin jatahku hanya
mengagumimu dari kejauhan. Perasaanku biarlah aku simpan sendiri. Kupastikan
aku akan berusaha keluar dari roda tersebut. Dan kalau nanti aku keluar dari
roda itu aku akan berjalan sejauh mungkin untuk menemukan dia yang akan
membalas rasaku. Meski yang kuinginkan hanya kamu.
Selamat datang November.
Selamat datang tanggal sembilanbelas.
Selamat datang tujuh tahun.
Selamat tinggal tujuh tahun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar