Aku kembali lagi
menulis, sama seperti alasanku sebelumnya tentang menulis, aku menulis karena
bagiku ketika mulut tak mampu berucap hanya kata-kata yang mampu diungkap. Itu
sebabnya mengapa aku menulis.
Tulisanku kali ini
untuk kalian. Bukan hanya untuk pria yang dulu biasa ku anggap sebagai senja,
bukan juga menulis dengan maksud membuat kamu sebagai wanitanya cemburu. Sama
sekali tidak. Maaf kalau kata-kataku nanti ada yang menyinggung perasaan
kalian, atau mungkin kalian tidak suka dengan apa yang aku tulis ini.
Aku menulis ini dengan
satu alasan. Rindu. Ya, aku dilanda rindu.
Aku rindu duniaku yang
dulu, aku rindu tawa kita yang dulu, aku rindu menjadi bagian terpenting dalam
deretan “pendengar” keluh kesah kalian, aku rindu menjadi pundak ternyaman
kalian ketika rasanya kalian ingin menitikan airmata, aku rindu menjadi orang
pertama yang kalian cari ketika kalian butuh seseorang untuk mendengarkan apa
yang kalian rasakan, aku rindu menjadi “kakak” kesayanganmu lagi, dek, aku
rindu menjadi sahabat bertukar imajinasimu lagi, bang, aku rindu kalian.
Aku selalu tahu masa
lalu tidak akan pernah kembali. Karena semua ada masanya. Dan saat ini semuanya
berubah. Kali ini kita ada di posisi dimana kita sama-sama menjaga jarak.
Percayalah, aku menjauh bukan karena aku membenci kalian. Aku menjauh bukan
karena aku tak ingin melihat kalian. Sama sekali tidak.
Aku menjauh karena aku
sayang kalian. Aku tak ingin jadi orang ketiga diantara hubungan kalian. Aku
juga tak ingin jadi sebab kalian bertengkar. Aku juga tak ingin dianggap
sebagai perusak kebahagian orang lain, sebagai wanita yang “nusuk” dari
belakang, sebagai “cewek pengkhayal”, atau bahkan sebagai wanita perebut kekasih
orang. Sungguh, kalau kalian menganggapku seperti itu, bagiku keterlaluan.
Aku memang pernah
berbuat salah pada kalian. Seperti yang kalian tahu, tidak akan ada satu pun
manusia yang sempurna. Maka dari itu, aku mohon maaf kalau mungkin aku berbuat
salah pada kalian. Apapun itu, sekecil apapun aku minta maaf. Segala sesuatu yang
pernah terjadi di masa lampau, biar dia bermain pada masanya. Segala sesuatu
yang terjadi dimasa ini dan yang akan datang, mari kita perbaiki keadaan kita. Apapun yang pernah terjadi pada kita mari anggap sebagai pendewasaan diri.
Sebagai pembelajaran hidup.
Dek, aku minta maaf.
Salahku memang banyak. Ditulisanku kali ini aku tidak ingin membela diriku sama
sekali. Aku tidak ingin menjadi seorang wanita yang selama ini kau anggap
perusak, menjadi seorang wanita yang kau bilang sensitive, menjadi seorang
wanita yang kau bilang aku terlihat seperti membencimu. Aku ingin hubungan kita
kembali membaik, secepat mungkin. Sulit memang, tapi bukan berarti tidak bisa
kan? Hanya kita tidak pernah mengusahakannya menjadi baik.
Jujur, selama ini aku
merasa kau membenciku. Aku merasa kau memiliki dendam padaku. Aku merasa kau
memata-mataiku, membuntuti setiap gerak-gerikku, aku merasa bahwa kau tak lagi
percaya bahwa aku tak akan mendekati kekasihmu. Dek, percayalah aku masih ingin
kau anggap sebagai kakakmu.
Dan untuk kau, bang. Terimakasih sudah pernah
menjadi bagian sekilas dalam perjalanan hariku. Terimakasih sudah pernah
mengajarkan segala sesuatu yang terbaik padaku. Terimakasih sudah pernah mau
berbagi kisahmu padaku. Terimkasih juga sudah pernah menorehkan luka di hati
yang menyebabkan airmata ku jatuh tak terhenti selama beberapa malam hanya
karena perkataanmu. Aku minta maaf kalau aku punya salah. Aku minta maaf kalau
kau akhirnya harus diadili oleh kedua senior kita. Maaf.
Untukmu bang, aku tak
bisa banyak menulis. Ku serahkan semuanya pada Tuhan, biar Dia yang mengatur
segalanya dengan baik sesuai kehendakNYA. Semoga kebaikan Tuhan selalu mengalir
dan dilimpahkan bagi kita, ya..
Hmm..
Kupikir tulisanku kali
ini cukup. Aku tak banyak berharap kalian akan membacanya. Namun, jika kalian
membacanya kumohon bacalah dengan pikiran yang positif dan berpikir dewasa. Dan
cobalah berhenti berpikiran negatif padaku. Sekali lagi kukatakan, aku menulis
karena hanya dengan beginilah caraku untuk mengungkapkan apa yag aku rasakan
pada kalian.
Dek, bang, aku rindu!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar