Hingga hari ini aku
masih memilih untuk tetap setia menunggumu. Meski ku tahu bahwa menunggu tak
selalu menyenangkan. Aku harus siap dengan kenyataan, kalau saja nanti kau tak
pernah datang untuk menetap di hati. Tapi tak mengapa, bukankah mencintai
perihal bertaruh dengan waktu? Bukankah mencintai perihal bermain dengan kesabaran?
Dan aku telah mencintaimu sesabar ini.
Hingga waktunya aku
hanya ingin kau paham dan mengerti. Aku adalah wanita yang jatuh terlalu dalam.
Membiarkan diri terbenam dalam rindu yang sendu. Hanya mampu tanamkan segala
asa lewat doa-doa malam yang tak jarang diiringi simbah tangis. Terlihat
seperti berlebihan memang, namun itulah kekuatan cinta. Hati tetap inginkanmu,
meski seperdelapan kenyataan berkata kau tak akan bersamaku. Namun sungguh,
hanya denganmu aku ingin menjadi utuh. Menguatkan segala rapuh yang menggayut
dalam dada.
Aku tahu, saat aku
berharap, aku juga harus siap dengan luka-luka di akhir cerita. Luka-luka yang
bisa saja menusuk dan menggores perih dalam dada. Demi kamu, aku tak pernah
takut dengan apapun yang mungkin terjadi. Karena mencintaimu adalah sebuah
alasan untukku tetap kuat berdiri ketika harus jatuh berkali-kali. Hingga hari
ini.
Aku masih suka
memperbincangkan mu pada Tuhanku. Masih
menjadikanmu sebagai topik perbincangan paling menarik sebelum aku memejamkan
mata. Mendoakan segala apapun yang kamu kerjakan dan lakukan. Mendoakan segala
harapanmu. Mendoakan segala harapanku yang tak lain untuk bisa bersama
denganmu. Menikmati setiap detik yang berjalan pelan di depan khayalan yang tak
juga menjadi nyata.
Khayalan yang selalu bisa membuyarkan konsentrasi ku untuk
menyadari kau memang tak jua ku miliki.
Aku merasa lengkap
meski kita belum sempurna. Tak ada yang ku sesali dari apa yang telah terjadi.
Karena sesungguhnya yang tercipta tak hanya sekedar kebetulan belaka. Aku
percaya, Tuhan punya kisah untuk kita.
Lebih dari selustrum
aku menantikanmu. Menunggumu mengerti serta memahami apa yang aku rasakan.
Lebih dari selustrum aku menunggu agar akhirnya kamu ku miliki. Aku menaruh
harap penuh pada Tuhanku untuk akhirnya Dia menjawab setiap doa malam ku.
Mengganti simbah tangis dengan tawa sukacita. Entah pada saat kapan akhirnya
penantian ini berakhir, aku masih menanti sampai yang terbaik dijadikan-NYA pada
kisah kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar