Kamis, 14 September 2017

Penantianku, kamu...



Hingga hari ini aku masih memilih untuk tetap setia menunggumu. Meski ku tahu bahwa menunggu tak selalu menyenangkan. Aku harus siap dengan kenyataan, kalau saja nanti kau tak pernah datang untuk menetap di hati. Tapi tak mengapa, bukankah mencintai perihal bertaruh dengan waktu? Bukankah mencintai perihal bermain dengan kesabaran? Dan aku telah mencintaimu sesabar ini.

Hingga waktunya aku hanya ingin kau paham dan mengerti. Aku adalah wanita yang jatuh terlalu dalam. Membiarkan diri terbenam dalam rindu yang sendu. Hanya mampu tanamkan segala asa lewat doa-doa malam yang tak jarang diiringi simbah tangis. Terlihat seperti berlebihan memang, namun itulah kekuatan cinta. Hati tetap inginkanmu, meski seperdelapan kenyataan berkata kau tak akan bersamaku. Namun sungguh, hanya denganmu aku ingin menjadi utuh. Menguatkan segala rapuh yang menggayut dalam dada.

Aku tahu, saat aku berharap, aku juga harus siap dengan luka-luka di akhir cerita. Luka-luka yang bisa saja menusuk dan menggores perih dalam dada. Demi kamu, aku tak pernah takut dengan apapun yang mungkin terjadi. Karena mencintaimu adalah sebuah alasan untukku tetap kuat berdiri ketika harus jatuh berkali-kali. Hingga hari ini.

Aku masih suka memperbincangkan mu  pada Tuhanku. Masih menjadikanmu sebagai topik perbincangan paling menarik sebelum aku memejamkan mata. Mendoakan segala apapun yang kamu kerjakan dan lakukan. Mendoakan segala harapanmu. Mendoakan segala harapanku yang tak lain untuk bisa bersama denganmu. Menikmati setiap detik yang berjalan pelan di depan khayalan yang tak juga menjadi nyata. 

Khayalan yang selalu bisa membuyarkan konsentrasi ku untuk menyadari kau memang tak jua ku miliki.
Aku merasa lengkap meski kita belum sempurna. Tak ada yang ku sesali dari apa yang telah terjadi. Karena sesungguhnya yang tercipta tak hanya sekedar kebetulan belaka. Aku percaya, Tuhan punya kisah untuk kita.

Lebih dari selustrum aku menantikanmu. Menunggumu mengerti serta memahami apa yang aku rasakan. Lebih dari selustrum aku menunggu agar akhirnya kamu ku miliki. Aku menaruh harap penuh pada Tuhanku untuk akhirnya Dia menjawab setiap doa malam ku. Mengganti simbah tangis dengan tawa sukacita. Entah pada saat kapan akhirnya penantian ini berakhir, aku masih menanti sampai yang terbaik dijadikan-NYA pada kisah kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar